DEPOKPOS – Media sosial kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan terutama bagi Gen-z. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, sekedar melihat notifikasi di ponsel, scrolling timeline, sampai update story rasanya sudah menjadi rutinitas yang wajib dilakukan. Jika tidak, kita sering merasa ada yang kurang pada hari itu. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran, apakah sosmed yang dikatakan membuat kita lebih terhubung sebenarnya hanya memberikan ilusi bahwa kita terhubung?
Medsos sebagai media sosial
Mulai dari berbicara dengan orang yang kita kenal sampai yang belum pernah kita temui, dari sekedar bersenang-senang hingga yang mencari penghasilan, dari hanya sekedar memperbarui informasi hingga berbagi informasi, semua bisa dilakukan di satu platform yang kita kenal sebagai medsos atau media sosial,
Tidak bisa dipungkiri, medsos memang serba guna. Salah satu dan yang utama tentu untuk bersosialisasi, dan sosmed terbukti bermanfaat. Hasil penelitian dari Kusumota et al. (2022) memberikan insight bahwa medsos merupakan platform yang efektif untuk menguatkan modal sosial kita. Misalnya, kamu bergabung di grup Facebook hobi motor. Niat awal hanya untuk mencari tips servis motor sendiri atau rekomendasi bengkel murah. Tapi makin lama, grup ini menjadi tempat kamu sharing dari pengalaman touring, mencari spare part langka, sampai upload foto motor kesayangan yang habis dimodif.
Di suatu hari yang sial, motor kamu mogok di tengah jalan dan kamu menceritakan ke grup. Tidak lama, ada anggota lain yang segera datang untuk membantu, meskipun sebelumnya hanya kenal di dunia maya. Grup yang awalnya hanya berfokus pada hobi motor, tiba-tiba menjadi komunitas yang solid dan saling mendukung, bahkan di luar urusan motor. Dari sini, medsos memang terbukti dapat menghubungkan kita dengan orang lain. Namun, lebih sekedar efektif sebagai alat, hasil penelitian Jayakody et al., (2022) juga membutikan bahwa medsos juga efektif untuk mempertahankan hubungan.
Medsos Sebagai Media Ansosial
Kami mengakui bahwa medsos merupakan platform yang sangat memudahkan dan sering kali menyenangkan. Pada kesempatan lain, kami merasa heran ketika melihat sekelompok anak muda yang sedang berkumpul tetapi justru lebih asik dengan medsos mereka masing-masing. Kami yang tidak mengetahui latar belakang mereka mencoba untuk memahami fenomena ini. Mungkin mereka memang sangat sibuk dan jarang ketemu, tetapi mengapa ketika ada kesempatan untuk berkumpul mereka malah sibuk dengan medsos? Mungkin, kegiatan curhat, berbagi cerita, bercanda atau aktivitas lain yang biasanya dilakukan saat berkumpul, sudah menjadi kebiasaan di medsos. Jika anggapan kami benar, sangat disayangkan karena medsos mempermudah manusia untuk bersosialisasi, ia juga mengurangi kualitas interaksi langsung.
Entah mengapa, kami sangat tidak menginginkan anggapan kami benar, sangat tidak ingin sampai kami mencari fakta di jurnal ilmiah. Sayangnya kami menemukan sebuah fakta yang diungkapkan oleh Astuti & Yenny (2021) dalam artikelnya yang mengatakan bahwa penggunaan medsos yang berlebihan dapat memicu perasaan kesepian pada penggunanya. Bagaimana mungkin seseorang yang terhubung dengan orang lain sepanjang waktu, dari bangun tidur hingga menjelang tidur bisa merasa kesepian?
Kami semakin bingung ketika membaca artikel ilmiah karya Cauberghe et al. (2021) yang menjelaskan bahwa keterhubungan dengan orang lain merupakan salah satu alasan mengapa individu menggunakan medsos, namun individu yang menggunakan medsos dengan alasan tersebut justru tidak membuat mereka merasa bahagia.
Ketidakrelevanan Fungsi dan Realita
Kembali ke pertanyaan awal, apakah medsos yang dikalim membuat kita lebih terhubung sebenarnya hanya memberikan ilusi koneksi? Yang jelas, kita tau bahwa medsos berfungsi sebagai platform yang mempermudah interaksi sosial. Namun, yang perlu kita pertimbangkan sekarang adalah kapan waktu yang tepat untuk menggunakan medsos. Sebuah ironi, ketika kita terhubung dengan jutaan orang yang tidak kita kenal melalui layar kecil di genggaman, namun di saat yang sama, merasa terlepas dari sedikit orang yang penting di realita yang luas.
Dinda Putri Ashya, Ilham Ramadhani Huda, Karina Sisnu Untari, Salsa Shifatunalin.
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka










