DEPOKPOS – Media Sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Di era digital ini media sosial seperti Instagram, Tik Tok, dan Twitter tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi wadah ekspresi diri, pembentukan identitas, dan interaksi sosial. Remaja menggunakan media sosial untuk berbagi momen, mencari informasi, hingga membangun komunitas. Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga membawa tantangan besar yang dapat memengaruhi perilaku, pola pikir, dan nilai-nilai yang dianut oleh remaja.
Dalam perspektif Psikologi Islam, remaja berada dalam fase perkembangan yang kritis, dimana mereka mencari jati diri dan cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan, termasuk media sosial. Tingkah laku remaja, baik positif maupun negatif, mencerminkan kondisi jiwa mereka yang dipengaruhi oleh nafs ( keinginanan ), qalb (hati), dan ahklaq ( ahklak ). Islam mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan jiwa ( tazawun ) dan mengarahkan perilaku agar selalu sesuai dengan tuntunan syariat. Oleh karena itu, media sosial, yang kini menjadi bagian besar dari kehidupan remaja, harus dimanfaatkan sebagai sarana yang mendukung pembentukan ahklak mulia dan bukan sebaliknya.
Media sosial dapat menjadi alat yang membawa kebaikan, seperti penyebaran dakwah dan inspirasi, tetapi juga dapat menjadi penyebab berbagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti ghibah, hasad ( iri hati ), dan ketergantungan yang berlebihan. Dalam hal ini, Psikologi Islam menawarkan pendekatan yang holistik untuk membantu remaja dalam memahami dan mengelola dampak media sosial dengan tetap menjaga kesadaran diri ( muraqabah ) dan ahklak Islami.
Pengaruh Positif Media Sosial terhadap Remaja
Sebagai Media Pembelajaran dan Dakwah
Media Sosial memberikan akses luas terhadap ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan agama Islam. Ceramah, Kajian, dan Nasihat Islami kini dapat diakses dengan mudah kapan saja. Hal ini mendukung semangat dakwah digital. dimana remaja dapat ikut menyebarkan kebaikan dan meningkatkan pemahaman agama.
Firman Allah SWT : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada Kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ ruf, dan mencegah dari yang munkar.” ( QS. Ali-Imran: 104 ).
Dengan menggunakan media sosial secara positif, remaja dapat menyebarkan kebaikan dan menjadi bagian dari dakwah digital.
Memperluas Relasi Sosial
Media sosial membantu remaja membangun hubungan sosial yang lebih luas, baik melalui komunitas keagamaan , diskusi Islami, maupun silaturahmi dengan teman dan keluarga. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan.
Sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” ( HR. Bukhari ).
Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas
Banyak remaja yang menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, danYouTube untuk menyalurkan bakat, seperti membuat konten edukasi, seni, atau video kreatif. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam untuk memanfaatkan waktu dengan produktif dan bermanfaat.
Sabda Rasulullah SAW : “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu…” ( HR. Al-Hakim )
Namun perlu diperhatikan lagi, dibalik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga menyimpan dampak negatif yang tidak bisa diabaikan, terutama bagi remaja yang masih dalam fase perkembangan emosional dan sosial.
Pengaruh Negatif Media Sosial terhadap Remaja
Perilaku Tidak Etis dan Penyimpangan Moral
Media sosial sering menjadi tempat berkembangnya perilaku tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti cyberbullying, ghibah ( menggunjing ), dan ujub ( bangga diri ). Banyak remaja yang menggunakan media sosial untuk memamerkan pencapaian, yang kadang disertai dengan rasa superioritas terhadap orang lain. Dalam Psikologi Islam, perilaku ini menunujukan hati yang dipenuhi penyakit hati, seperti sombong ( takabbur ) dan iri hati ( hasad ).
• Cyberbullying
Adalah Tindakan intimidasi, penghinaan, atau pelecehan yang dilakukan melalui media digital.
Namun, mirisnya banyak remaja yang menjadi korban atau bahkan menjadi pelaku komentar negatif, ejekan, atau ancaman di media sosial, yang dapat merusak hubungan sosial dan moral mereka.
• Ghibah
Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, meskipun apa yang dibicarakan itu benar. Dalam Islam, ghibah dilarang karena merusak hubungan dan merupakan dosa besar. Sebagaimana firman Allah SWT : “Janganlah Sebagian kamu menggunjing Sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? ”
( QS. Al-Hujurat: 12 ).
Perilaku seperti ini, jika tidak diatasi dapat menanamkan kebiasaan buruk dalam karakter remaja yang akan berdampak jangka Panjang pada kehidupan sosial dan keimanan mereka.
Ketergantungan pada Media Sosial
Ketergantungan atau addiction terhadap media sosial menjadi salah satu masalah yang paling umum di kalangan remaja. Mereka cenderung menghabiskan berjam-jam setiap hari di media sosial untuk scroll, like, atau membalas pesan. Kondisi ini dapat menimbulkan :
• Gangguan Konsentrasi
Remaja sering kehilangan fokus dalam belajar atu beribadah karena terus menerus tergoda untuk memeriksa ponsel.
• Stress dan Kecemasan
Ketergantungan sering kali memicu kecemasan, terutama jika mereka tidak menerima cukup perhatian berupa like, komentar, atau pesan dari teman atu pengikutnya.
• Kesehatan Mental Terganggu
Studi menunjukan bahwa kecanduan Media Sosial dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan, yang berdampak buruk pada keseimbangan jiwa ( tazawun ), jika dibiarkan terus menerus, hal ini dapat memicu timbulnya gangguan mental serius lainnya. Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan nikmat teknologi. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu berlebihan dalam segala hal, karena berlebihan itu bukan bagian dari Islam.” ( HR. Ahmad ).
Meningkatkan Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat
Remaja sering membandingkan diri mereka dengan orang lain di media sosial, baik dalam hal penampilan, gaya hidup, maupun prestasi. Hal ini dapat menyebabkan :
• Rendah Diri
Adalah perasaan tidak percaya diri atau merasa kurang dibandingkan dengan orang lain. Dalam konteks ini remaja sering melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial sehingga mereka jadi sering membandingkan kehidupan mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Hal ini memunculkan rasa minder atau tidak puas dengan diri sendiri.
• Hasad ( Iri Hati )
Adalah perasaan tidak suka atau iri terhadap keberhasilan, kelebihan, atau kebahagiaan orang lain, yang disertai dengan keinginan agar mereka kehilangan nikmat tersebut. Jika dibiarkan, Hal ini dapat merusak hati dan hubungan sosial.
• Rasa tidak Bersyukur
Remaja yang terjebak dalam perbandingan sosial cenderung melupakan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada mereka, sehingga kehilangan sikap Syukur. Firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas Sebagian yang lain.” ( QS. An-Nisa: 32 ).
Paparan konten yang Tidak Sesuai dengan nilai Islam
Media sosial seringkali menampilkan konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islami, seperti video yang vulgar, ujaran kebencian, atau pandangan yang menyesatkan. Remaja yang tidak memiliki filter kuat dalam memilih konten bisa terpengaruh oleh :
• Normalisasi Perilaku Buruk
Banyak remaja yang mulai menganggap hal-hal seperti berpakaian tidak sopan, berbicara kasar, atau melakukan prank sebagai hal yang biasa karena sering melihatnya di media sosial.
• Kehilangan Identitas Islam
Paparan budaya luar yang tidak Islami dapat membuat remaja kehilangan jati diri sebagai muslim dan cenderung mengikuti tren tanpa menyaring mana yang benar dan salah.
• Mengabaikan Kewajiban Utama
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol sering kali mengakibatkan remaja lalai terhadap kewajiban mereka seperti shalat, belajar, dan membantu orang tua. Islam mengajarkan bahwa kewajiban kepada Allah dan sesama manusia harus menjadi prioritas Utama.
• Mengabaikan Shalat Tepat Waktu
Banyak remaja yang menunda atau bahkan meninggalkan shalat karena asyik bermain game atau
pun media sosial.
• Menumbuhkan Rasa malas
Media sosial sering membuat remaja terlena dengan konten yang tidak bermanfaat, sehingga minat untuk mencari Ilmu menjadi berkurang, hal ini disebabkan oleh dominasi nafsu yang tidak terkendali. Selain itu dalam banyak kasus, banyak remaja yang menjadi ketergantungan pada AI karena memberikan jawaban cepat tanpa memerlukan proses berpikir dan usaha dalam memahami suatu Ilmu secara mendalam. Ini mencerminkan lemahnya kesadaran untuk menuntut Ilmu sebagai Ibadah. Islam mengajarkan betapa pentingnya proses belajar, sebgaiman firman Allah SWT :
“ Ya tuhanku, tambahkanlah kepadaku Ilmu.” ( QS. Taha: 114 )
AI Seharusnya menjadi alat bantu, bukan alasan untuk meninggalkan usaha untuk mencari Ilmu.
Munculnya Isolasi Sosial
Ironisnya, meskipun penggunaan media sosial bertujuan untuk menghubungkan orang, telalu banyak waktu yang dihabiskan di dunia maya dapat membuat remaja terisolasi secara emosional dari keluarga dan teman-teman. Hal ini dapat menyebabkan :
• Hubungan Keluarga yang Melemah
Interaksi sosial dengan anggota keluarga menjadi berkurang karena remaja cenderung lebih sibuk dan fokus pada ponselnya. Hal ini berdampak pada kehangatan, komunikasi, dan kedekatan emosional antara anggota keluarga.
• Kurangnya Dukungan Sosial
Remaja cenderung merasa sulit untuk mencari dukungan emosional sejati karena terlalu bergantung pada hubungan virtual.
Untuk mengatasi berbagai dampak negatif ini, Psikologi Islam menawarkan pendekatan yang holistik, mengedepankan nilai-nilai spiritual dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam penggunaan media sosial.
Pendekatan Psikologi Islam untuk mengatasi Dampak Negatif
Meningkatkan Kesadaran Diri ( Muraqabah )
Remaja perlu menyadari bahwa Allah selalu mengawasi setiap Tindakan mereka, termasuk aktivitas di media sosial. Dengan memiliki kesadaran ini, mereka akan lebih berhati-hati dalam memposting, berkomentar, atau mengonsumsi konten. Kesadaran bahwa segala perbuatan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah dapat mendorong mereka untuk menggunakan media sosial dengan cara yang lebih bijak dan bermanfaat.
Pembersihan Jiwa ( Tazkiyatun Nafs )
Media sosial sering memicu sifat buruk seperti iri hati, sombong, atau malas. Dalam Psikologi Islam, pembersihan jiwa menjadi langkah penting untuk menjaga perilaku tetap sesuai syariat. Remaja bisa membersihkan jiwa melalui kegiatan seperti memperbanyak dzikir, Istighfar, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat sunnah dan doa. Pembersihan ini dapat mengendalikan emosi dan mengarahkan hati ke hal-hal positif.
Manajemen Waktu yang Baik
Islam menekankan pentingnya memanfaatkan waktu dengan optimal. Remaja perlu belajar membagi waktu secara seimbang antara penggunaan media sosial, belajar, beribadah, dan berinteraksi dengan keluarga serta teman. Membuat jadwal harian dan menetapkan Batas waktu penggunaan media sosial adalah Langkah praktis untuk memastikan media sosial tidak mengganggu aktivitas utama. Sabda Rasulullah SAW : “Dua waktu yang sering dilupakan manusia : Kesehatan dan waktu luang.”
( HR. Bukhari ).
Memilih Konten yang Bermanfaat
Media sosial memilik banyakkonten yang dapat memperkuat iman dan menambah ilmu. Remaja sebaiknya mengikuti akun-akun yang menyebarkan kebaikan, seperti konten-konten yang memotivasi, pengembangan diri, kajian Islami, atau tips belajar. Konten yang negatif, yang memicu emosi buruk atau mengandung fitnah sebaiknya dihindari. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” ( HR Bukhari dan Muslim ).
Membangun Kebiasaan Reflektif
Remaja dapat diajarkan untuk rutin merenungkan manfaat dan dampak dari aktivitas mereka di media sosial. Dengan refleksi diri, mereka akan lebih memahami apa yang membawa kebaikan dan apa yang sebaiknya di hindari.
Pendekatan ini bila dilakukan dengan konsisten, dapat membantu remaja mengatasi dampak negatif media sosial sambil memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif dan bernilai Islami.
Kesimpulan
Media sosial adalah alat yang sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku remaja di era modern. Dalam perspektif Psikologi Islam, media sosial dapat menjadi sarana dakwah, pembelajaran, dan pengembangan diri jika digunakan dengan bijak. Namun, sebaliknya, jika tidak digunakan dengan bijak media sosial dapat membawa dampak negatif pada moral dan Kesehatan mental remaja.
Oleh karena itu, remaja harus dilatih untuk memiliki kesadaran diri ( muraqabah ), mengatur waktu dengan baik, dan memilih konten yang bermanfaat. Peran orang tua, guru, dan masyarakat sangat penting untuk memberikan panduan dalam penggunaan media sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, remaja dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri mereka.
Queen Lathifah Ahmad dan Delia Febrianti Sutami
Mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka










