Tradisi Kenduri Desa Gilirejo Baru, Sragen: Sedikit Cahaya Bintang dalam Gelapnya Malam

Sragen, Gilirejo Baru—Malam itu cukup pekat. Memang pada dasarnya daerah pelosok sangat minim akan cahaya. Namun, itulah yang justru menjadi kelebihannya. Meski pekat, bintang-bintang di sana bersinar sangat benderang. Mungkin ketika menghadap ke depan hanya kegelapan yang terlihat, namun jika melihat ke atas kegelapan tadi rasanya berubah menjadi keindahan. Itulah yang kurasakan pada malam itu—malam ketika aku pertama kali melakukan tradisi yang dahulu menjadi inspirasi dalam menulis karya tulis pertamaku. Tradisi Kenduri namanya, atau kenduren atau apapun itu penyebutannya.

Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk wadah bersyukur bagi para masyarakat di sana. Mereka bersama-sama berkumpul, berdoa, dan saling berbagi makanan kepada sesama. Dalam prosesnya, mereka mengawali dengan sama-sama berdoa untuk tuan rumah yang mengadakan, untuk tetua adat, untuk para tokoh masyarakat setempat, untuk nenek moyang, untuk Nabi Muhammad dan masih banyak lagi agar terus diberikan nikmat di dunia dan akhirat. Baru setelahnya mereka mengambil makanan yang berisi nasi, ayam, urap, dan kerupuk—biasanya pemuda yang membawa makanan itu. Lalu mereka membagi porsi makanan-makanan itu dan membungkusnya dengan plastik minyak ataupun daun jati. Mungkin ini kali pertamaku melihat penggunaan daun sebagai wadah makanan selain daun pisang. Tata cara pembungkusannya pun unik sekali, mereka menaruh porsi makanan di piring, lalu ditumplekkan dengan rapih ke bungkusnya layaknya penyajian nasi di fast food ataupun nasi padang. Tidak seperti pembungkusan biasa, bungkus yang dilakukan dapat terbilang berbeda. Karena alih-alih membentuk bungkusan menjadi segitiga, mereka justru membungkusnya menjadi persegi panjang. Dengan lipatan dari samping dan atas, hingga membenyekkan nasinya. Lalu, dalam prosesi pembungkusan itu juga mereka memutarkan makanan-makanan ringan seperti buah-buahan, dan minuman. Dan tak kalah uniknya, mereka menghidangkan pula rokok kepada masing-masing masyarakat yang hadir. Mereka mempercayai, sebuah keregangan akan timbul dalam ketenangan. Barulah setelahnya mereka mengobrol dan saling membicarakan banyak hal entah itu pekerjaan ataupun masalah tetangganya hingga nasi selesai dibagikan. Ketika selesai lantas mereka pulang, dan kembali pada hidupnya masing-masing di malam sunyi bersama keluarga tercinta. Interaksi yang dilakukan begitu cepat, namun bermakna. Rasanya mereka lebih menghargai privasi sesama daripada mereka di kota sana yang terus menerus merenjeng lidahnya dalam ketikan yang bahkan tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan.

Hal yang unik bagiku karena melihat dari keadaannya seharusnya mereka lebih mengutamakan dirinya sendiri dibandingkan tetangganya. Namun, itulah yang menjadi dasar perilaku mereka. Mereka menganggap semua hal ini adalah bentuk rasa syukur mereka kepada Tuhan. Seolah-olah menegaskan kehidupan mereka sudah cukup untuk mereka dapat hidup. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang menjadi fondasi yang tak kalah penting untuk menjadi alasan mereka terus melakukan ini, meskipun pada kenyataannya kini sudah mulai banyak yang tidak peduli pada tradisi ini. Fondasi itu adalah kekeluargaan antar warga.

“Yaa, yang penting mah bukan makanannya mas. Tapi momen-momen ngumpul kaya gini sambil ngudud, ngopi”. Ujar Supratikno selaku Kepala Desa Gilirejo Baru.

Ia melanjutkan “Kalo makanan mah cuma bonus”.

Sejujurnya sebagai warga kota aku cukup terkejut dengan alasan ini. Skeptis awalnya. Mungkin hanya alasan belaka saja, toh pada akhirnya semua akan mementingkan perutnya sendiri. Tetapi, sontak setelah berpikir seperti itu, kulihat sekeliling. Semua wajah para masyarakat yang hadir tidak disertai rasa lapar layaknya pejabat yang suka menjilat kekuasaan. Ketulusan untuk bertemu sesama yang kurasakan. Bahkan, mereka dengan sukarela memberikan makanan mereka kepada kami para pendatang. Dan juga memang, inti dari tradisi ini adalah interaksi. Sepanjang tradisi aku berbicara dengan seorang bapak-bapak paruh baya. Dan obrolan kami terus menerus berusaha untuk dipertahankan selama momen tradisi ini. Entah kenapa. Ia berbicara dan mengobrol kepadaku layaknya sedang melaksanakan ibadahnya sebagai manusia sosial. Bahkan enggan untuk melepaskan momen interaktif ini.

Sejujurnya mendapati hal ini juga menjadi kegelisahan tersendiri bagiku untuk memahami arti kebahagiaan. Mereka tidak dapat terbilang memiliki hidup yang berkecukupan, namun karena sebuah kebiasaan mereka menemukan cara tersendiri untuk bahagia. Mungkin momen-momen ini terasa sangat sederhana, dan sekilap mengaburkan jiwa dan raga mereka pada realita. Mungkin besok pagi mereka harus kembali pada kenyataan yang sesungguhnya. Bertani, berlayar, dan menjual hasil ladang ataupun tangkapan lalu berseteru dengan para tengkulak bajingan yang tukang katrol harga sesuai kemauan. Namun tetap saja, bukankah tujuan hidup manusia adalah di sana? Mencari sedikit cahaya bintang, dari bumi yang dipenuhi kegelapan.

Muhammad An Nahl Arroyan