DEPOKPOS – Kesehatan kaki sering kali terabaikan, padahal peranannya sangat penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari, terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Menyadari hal ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) mengambil langkah nyata dengan melakukan pemeriksaan kesehatan kaki pada anak-anak menggunakan metode Clark angle.
Tujuan utama kegiatan ini merupakan untuk mendeteksi adanya potensi flatfoot atau kaki datar sejak dini. Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil
Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dengan pendekatan berbasis ilmiah dan edukasi yang interaktif, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak yang diperiksa, tetapi juga membekali orang tua dan guru dengan pengetahuan praktis tentang pentingnya kesehatan kaki.
Program ini diprakarsai oleh sekelompok mahasiswa UMM yang tergabung dalam PMM, yaitu Azhar Ramadhan Sarita selaku koordinator, bersama anggota tim Hendra Irza Fahrezi, Fahri Ferdian Hidayat, dan Suriantika Ernaningsih Wira Puspita. Mereka menjalankan misi ini dengan bimbingan dari dosen pembimbing lapangan (DPL), Ika Rizki Anggraini, S.Kep.Ns.M.Kep.
Sebagai mahasiswa yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan, mereka merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat, khususnya dalam hal kesehatan kaki yang sering kali luput dari perhatian.
“Kami ingin memastikan anak-anak mendapatkan perhatian yang cukup terhadap kesehatan kaki mereka. Jika sejak kecil sudah ada indikasi masalah, maka bisa segera ditangani agar tidak berdampak di masa depan,” ujar Azhar Ramadhan Sarita, koordinator tim.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan metode Clark angle, sebuah teknik sederhana namun efektif dalam mendeteksi adanya kaki datar pada anak-anak. Metode ini melibatkan pengukuran sudut antara bagian terdalam lengkungan kaki dengan garis horizontal saat anak berdiri tegak.
Jika sudutnya lebih kecil dari batas normal, maka anak berisiko mengalami flatfoot. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan tubuh, pola berjalan, dan bahkan menyebabkan nyeri pada kaki serta sendi lainnya.
Selain pemeriksaan, tim mahasiswa juga memberikan edukasi tentang pentingnya kesehatan kaki, cara melakukan deteksi dini secara mandiri, serta latihan sederhana yang dapat membantu memperbaiki atau mencegah flatfoot pada anak-anak.
Program ini dilaksanakan di lingkungan Sekolah Dasar Negeri 1 Landungsari di Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan—anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan merupakan kelompok yang paling rentan mengalami perkembangan kaki yang tidak optimal. Dengan melakukan pemeriksaan di sekolah, kegiatan ini bisa menjangkau lebih banyak anak sekaligus memberikan wawasan kepada guru dan orang tua.
Kegiatan ini berlangsung dalam rangka pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, dengan tujuan mengaplikasikan ilmu yang telah mereka pelajari di bangku kuliah ke kehidupan nyata.
Deteksi dini sangat penting karena semakin cepat suatu kondisi teridentifikasi, semakin mudah pula intervensi yang bisa dilakukan. Flatfoot yang tidak ditangani dapat menyebabkan masalah postur tubuh dan gangguan gerak di kemudian hari.
“Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kondisi kaki anak mereka bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang. Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kaki secara rutin,” kata Hendra Irza Fahrezi, salah satu anggota tim PMM.
Kegiatan ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat dan pihak sekolah. Para orang tua merasa terbantu dengan adanya pemeriksaan gratis yang memberikan wawasan baru mengenai kondisi kaki anak mereka.
Menurut Ika Rizki Anggraini, S.Kep.Ns.M.Kep., selaku dosen pembimbing, program ini merupakan contoh nyata bagaimana mahasiswa bisa berkontribusi langsung kepada masyarakat. “Ilmu yang diperoleh di kelas bisa menjadi lebih bermanfaat jika diterapkan di lapangan. Program seperti ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.
Guru-guru yang turut hadir dalam kegiatan ini juga mengapresiasi langkah yang diambil oleh mahasiswa UMM. Mereka berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara berkelanjutan, mengingat banyak anak yang mungkin tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi kaki yang memerlukan perhatian khusus.
Salah satu guru sekolah dasar yang mengikuti kegiatan ini mengungkapkan, “Kami sangat bersyukur ada program seperti ini. Tidak semua orang tua memahami bahwa kesehatan kaki anak juga perlu diperhatikan. Dengan adanya edukasi dari mahasiswa, kami bisa lebih memahami bagaimana cara mendeteksi dan menangani masalah kaki sejak dini.”
Setelah sukses mengadakan pemeriksaan ini, kelompok 68 PMM UMM berharap agar kelompok PMM berikutnya bisa untuk memperluas cakupan program ke lebih banyak sekolah dan komunitas anak. Mereka ingin agar lebih banyak anak yang mendapatkan pemeriksaan kaki sejak dini serta lebih banyak orang tua yang memahami cara merawat kesehatan kaki anak mereka.
Selain itu, kelompok juga mempertimbangkan untuk melakukan penelitian lanjutan guna mengevaluasi dampak dari program ini, termasuk efektivitas edukasi yang telah diberikan. Dengan adanya data yang lebih komprehensif, mereka berharap dapat mengembangkan program yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Kami ingin program ini tidak berhenti di sini. Kami berharap ada kesinambungan dengan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan dan institusi pendidikan, agar deteksi dini kesehatan kaki anak bisa menjadi perhatian utama,” tambah Fahri Ferdian Hidayat.
Pemeriksaan kesehatan kaki yang dilakukan oleh mahasiswa UMM ini membuktikan bahwa langkah kecil bisa memberikan dampak besar bagi kesehatan anak-anak. Dengan metode sederhana seperti Clark angle, banyak anak yang kini bisa lebih dini mengetahui kondisi kaki mereka dan mendapatkan intervensi yang tepat.
Lebih dari sekadar pemeriksaan, program ini telah membuka mata banyak orang tua dan pendidik bahwa kesehatan kaki adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak. Ke depan, dengan semakin banyaknya masyarakat yang peduli terhadap kondisi ini, diharapkan angka kasus flatfoot yang tidak terdeteksi bisa berkurang secara signifikan.
Langkah awal menuju kaki sehat ini menjadi bukti bahwa mahasiswa bukan hanya sekadar menimba ilmu di kampus, tetapi juga memiliki peran besar dalam menerapkannya di tengah masyarakat.










