Hari Valentine dan Coklat

Valentine’s Day dan The Chocolate

Oleh: Fadillah Noviantika, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Siapa yang menolak jika diberikan cokelat dan karangan bunga pada hari tertentu? Tentu sebagai pemberi ingin membahagiakan orang spesial yang diberi. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bulan Februari identik dengan hari kasih sayang atau yang biasa disebut Valentine’s Day. Tapi sebelum kita bahas lebih lanjut fenomena ini, mari kita lihat sejarah dirayakannya Valentine’s Day.

Get to know behind

Pada abad ke-3 terdapat larangan menikah untuk kaum laki-laki oleh Kaisar Klaudius II (re: pemimpin bangsa Romawi) karena mereka dipaksa untuk turun dalam peperangan. Akan tetapi, banyak kaum laki-laki yang menolaknya karena tidak mau meninggalkan pasangan mereka. Valentinus sang Imam pada masa pemerintahan tersebut merasa kasihan dengan pasangan yang tidak bisa bersatu karena peraturan dari kaisar. Maka, Valentinus memberikan sakramen pernikahan kepada pasangan yang sudah siap hidup dalam janji suci secara diam-diam.

Mengetahui hal tersebut, membuat kaisar Klaudius marah dan memerintahkan agar Valentinus dihukum penggal mati sekitar 269M. Tetapi itu justru titik awal pengkultusan Valentinus sebagai martir cinta. Maka fanatikusnya menjadikan 14 Februari hari kematiannnya, sebagai hari kasih sayang. Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga pada 14 Februari 496 M, Paus Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari memperingati Santo Valentinus (The World Book Encyclopedia, 1998). Walau demikian, Paus Gelasius sendiri mengakui bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai tokoh ini.

Dikutip dari artikel Mastur Thoyib Kesi – Perayaan Valentine’s Day dalam Perspektif Pendidikan, perayaan ini digelar untuk memperingati seorang “tokoh” yang celakanya banyak orang tidak mengenal tokoh ini, tapi ikut memperingati setiap tanggal 14 Februari sekadar ikut-ikutan belaka. Boleh jadi kalau mereka mengetahui tokoh tersebut atau motif di belakang perayaan tersebut, ia akan segera menyadari kekeliruannya. Lucunya, ada film besutan Roger Corman, produksi Hollywood (1967) yang dibintangi Jason Robards, George Segal, Ralp Meeker, dss., yang berjudul The Saint Valentine’s Day Massacre, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan.

Hari Valentine yang oleh Paus Gelasius II dimasukkan dalam kelender perayaan Gereja, pada 1969 dihapus dari kalender gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal-muasal yang jelas. Sebab itu Gereja melarang Valentine’s Day dirayakan oleh umatnya (Era Muslim, Edisi Koleksi V: 33). Sayangnya Barat dan Gereja bersikap ambigu dalam memandang Valentine’s Day dan perayaan atau pesta sejenisnya, antara menerima, membiarkan atau menolak.

Variation of The Celebration and The Controversial

Berbagai model perayaan yang dilakukan antara lain; Making Love Party, ucapan “Be My Valentine”, The Love Chair, anak kecil berdandan orang dewasa, mengundi nama dalam kartu, percaya burung, memberi hadiah sendok kayu, memberi hadiah busana, memutar apel pada tangkainya, meniup bunga dandelion, melepaskan kegadisan, dan lain-lain (sumber: Era Muslim)

Lucunya perayaan tersebut turut dikomersilkan ketika timeline Twitter saya muncul iklan kondom hanya di bulan Februari, jelas sekali tujuannya untuk mendukung agenda kapitalis yang sejak awal memilih tak acuh dan ambigu asalkan berpotensi meraup keuntungan.

Dilansir oleh Tempo (15/02/2025), penjualan kondom dan cokelat sama-sama meningkat saat hari valentine. “Tadi malam memang cukup banyak yang beli. Tapi tidak banyak-banyak banget. Perbandingan mungkin satu minggu terjual 10 kotak, tapi tadi malam terjual 6 kotak,” kata Aini Rahmi kasir toko retail di Blok M.

Berbagai tradisi perayaan ini di beberapa negara, salah satu contohnya Jepang. Tak jauh berbeda dengan tradisi Valentine yang umum dilakukan di Indonesia, yaitu memberikan cokelat. Namun, keunikannya adalah pada dua jenis cokelat yang diberikan pada hari Valentine. Para wanita di Jepang akan membagikan dua jenis cokelat pada hari Valentine yaitu Choco Giri untuk sahabat serta kolega dan Honmei Choco spesial untuk belahan jiwa.
Uniknya menurut artikel JapanToday pada 2015, ratusan masyarakat Jepang menolak perayaan hari Valentine di Tokyo Sabtu, (14/2/2015). Jika di Indonesia perayaan Valentine banyak di demo atas dasar prinsip agama, di Jepang merayakan hal ini dianggap sebagai gelombang kapitalis yang bisa mengikis nilai-nilai budaya tradisional secara perlahan.

Para demonstran menamakan dirinya sebagai Kakuhido dan mereka mengklaim perayaan ini sebagai budaya asing yang tidak patut dicontoh, menurut mereka berpacaran dihadapan public adalah salah satu aksi terror. Mereka meneriakkan: “Jangan tertipu oleh konspirasi pembuat cokelat!”.
“Di Jepang, wanita memberikan pria cokelat (pada Hari Valentine) untuk menunjukkan kasih sayang mereka. Masyarakat kecanduan kapitalisme. Orang-orang mengambil keuntungan dari itu dan kami berada di sini, hari ini untuk menunjukkan perlawanan kami terhadap kapitalis cinta,” kata Kakuhido Mark Waters

Grasp Value

Berdasarkan sejarahnya Valentine’s Day merupakan upacara keagamaan romawi kuno yang tidak sesuai dengan agama Islam karena penuh akan paganisme dan kesyirikan. Padahal yang terjadi sebenarnya jika ikut merayakannya adalah sama saja dengan merayakan perayaan yang cikal bakalnya merupakan ritual paganisme. Oleh karena itu hukumnya menjadi haram bagi umat muslim yang ikut merayakan hari valentine, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dari Ibnu Úmar: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Selain karena memang perayaan ini diharamkan, juga membuang waktu dan semakin memperbesar gurita bisnis yang dilakukan oleh segelintir orang. Sikap kita jika sudah mengetahui hukumnya maka tidak ada salahnya untuk turut mengingatkan kepada umat Muslim lainnya.[]