Oleh: Khansa Saniyya Adlina, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB
Dalam dunia kuliner, kualitas makanan dan penerimaan kritik dari konsumen adalah dua hal yang tak terpisahkan. Seorang pebisnis yang sukses harus mampu menjaga standar produknya sekaligus terbuka terhadap masukan yang diberikan. Namun ternyata Ci Mehong, seorang pengusaha kuliner yang dikenal dengan harga makanannya yang selangit, memiliki prinsip yang berbeda dari sebagian besar orang yang bekerja dibidang bisnis F&B, karena alih-alih menerima kritik dan saran dengan tangan terbuka dan menanggapi sengan sebaik mungkin, Ci Mehong justru menunjukkan sikap anti-kritik ketika mendapat penilaian kurang memuaskan dari pelanggan.
Isu kontroversi yang pada saat ini sedang viral di platform Tiktok bermula ketika Coldeblue, seorang konten kreator makanan yang kerap memberikan ulasan jujur dan objektif, memberi rating 5/10 untuk makanan Ci Mehong. Alih-alih menerima kritik dengan profesional, Ci Mehong justru menunjukkan respons yang defensif dan seolah tidak bisa menerima masukan. Kasus ini semakin memanas ketika Shely Che, seorang konten kreator makanan yang sudah dikenal banyak orang karena konten-konten dirinya menjadi food vloger di plaform Youtube, menemukan serangga dalam makanan yang ia beli dari toko Ci Mehong. Bukannya mengakui kesalahan dan melakukan perbaikan, dalam live streaming di akun Tiktok miliknya, Ci Mehong justru menuduh Shely Che sengaja meletakkan serangga di dalam makanannya demi membuat kontennya menjadi viral.
Dalam menghadapi kritik, seorang pemilik bisnis makanan seharusnya mengutamakan introspeksi dan perbaikan untuk menjaga citra merek di mata publik, bukan justru melakukan serangan balik. Tuduhan yang dilontarkan kepada Shely Che tidak hanya terkesan emosional, tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan Ci Mehong dalam mengelola krisis yang berkaitan dengan bisnisnya. Sikap seperti ini hanya akan semakin merusak reputasinya di mata publik, terutama di era digital di mana opini masyarakat dapat dengan mudah terbentuk melalui media sosial.
Kelalaian dalam produk makanan, apalagi yang melibatkan kebersihan dan keamanan pangan, adalah kesalahan yang fatal. Konsumen tidak hanya mencari makanan dengan cita rasa yang enak, tetapi juga menginginkan adanya jaminan bahwa produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Menolak bertanggung jawab atas kasus tersebut tanpa adanya klarifikasi yang jelas dan melakukan tindakan untuk memperbaiki citra merek di mata publik akan membuat konflik semakin memanas dan membuat kepercayaan publik terhadap bisnis Ci Mehong semakin menurun.
Sebagai seorang pemilik bisnis, Ci Mehong seharusnya lebih berhati-hati dalam menanggapi kritik, terutama jika menyangkut keamanan produknya. Langkah terbaik yang bisa ia ambil adalah meminta maaf kepada Shely Che dan publik secara terbuka, serta menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kualitas dan kebersihan produknya. Selain itu, ia bisa mengambil langkah konkret seperti memperbaiki standar kebersihan dapurnya atau bahkan mengundang pihak profesional untuk memverifikasi kualitas produknya.
Jika Ci Mehong terus bersikap defensif dan mengabaikan kritik, bukan tidak mungkin bisnisnya akan kehilangan kepercayaan publik secara permanen. Di dunia kuliner, reputasi adalah aset yang sangat berharga, dan membangun kembali kepercayaan yang telah hilang jauh lebih sulit dibandingkan menjaganya sejak awal.
Kasus Ci Mehong menjadi contoh nyata bagaimana respons seorang pemilik bisnis terhadap kritik dapat memengaruhi kelangsungan usahanya. Dalam industri kuliner, menjaga kualitas dan kebersihan makanan adalah hal yang mutlak, dan kritik dari konsumen seharusnya dijadikan bahan evaluasi, bukan justru direspons dengan sikap defensif yang dapat memperburuk citra bisnis.
Jika Ci Mehong ingin bisnisnya tetap bertahan, ia harus menyadari bahwa kepercayaan publik adalah faktor utama dalam dunia kuliner. Alih-alih menyalahkan orang lain, ia perlu mengambil langkah yang lebih profesional, mulai dari meminta maaf secara terbuka hingga memastikan bahwa masalah kebersihan dalam produknya tidak terulang. Dengan demikian, ia dapat kembali membangun kepercayaan pelanggan dan mempertahankan bisnisnya dalam jangka panjang.
Di era digital, kritik dan ulasan dari konsumen dapat dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik dalam waktu singkat. Oleh karena itu, seorang pebisnis harus memiliki kedewasaan dalam menangani krisis dan kesadaran untuk terus meningkatkan kualitas usahanya. Jika Ci Mehong tidak segera melakukan perbaikan, kasus ini bisa menjadi awal dari kemunduran bisnisnya sendiri.







