DEPOKPOS – Jika mendengar kata ‘Timur Tengah’, hampir sebagian besar orang akan membayangkan rasa panas dan gerahnya di daerah sana. Gurun berpasir dan matahari yang terik pasti menjadi salah satu bayangan yang ada di benak — termasuk saya, sampai saya menginjakkan kaki saya sendiri di Madinah. Di Akhir Februari menuju Maret Tahun 2020, saya berkesempatan I untuk melaksanakan ibadah Umroh bersama keluarga saya. Sebagai orang yang belum pernah berpergian jauh, tentu saja saya nervous, namun tetap senang karena berkesempatan untuk beribadah ke Tanah Suci langsung.
Tidak banyak hal yang dapat dilakukan di dalam pesawat saat sudah lepas landas — saya baru mengetahuinya pada saat saya berangkat ke Madinah pada saat itu. Perjalanan dari Cengkareng ke Madinah memakan waktu sekitar 10 jam melalui jalur udara. 1-2 jam pertama masih excited — melihat fitur-fitur yang disediakan di layar monitor jadul yang terdapat di depan muka saja sudah senang, apalagi melihat awan dari atas langit, sembari memotret maupun merekam video suasana pesawat, walaupun ternyata saat dilihat kembali, terasa boring. 3-5 jam selanjutnya, sudah mulai bosan dengan suasana pesawat yang begitu-begitu saja.
Sesekali memejamkan mata untuk berusaha tidurpun tidak terlalu berguna, toh perjalanan masih sangat panjang. Makan siang hingga sore yang telah disediakan oleh pramugari pesawatpun telah terlahap habis — hampir benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan. Monitor jadul depan muka itupun akhirnya menarik perhatian saya ketika ada penumpang lain yang memainkan game di layar monitornya.
Tidak seharusnya film-film dan musik-musik keluaran 2010 keatas di layar monitor yang beberapa kali sempat nge-lag itu membuat saya terkesima; tetapi itulah salah satu kehebatan rasa bosan — saya jadi bisa mengapresiasi hal-hal kecil yang saya sudah sering lihat sebelumnya, seperti betapa nyamannya kursi meskipun tidak selega tempat tidur, dan betapa berharganya segelas air mineral saat tenggorokan mulai kering.
Saya sesekali mengobrol dengan keluarga untuk mengisi waktu, tetapi tetap saja, perjalanan ini terasa begitu panjang. Saya mulai bertanya-tanya, bagaimana rasanya perjalanan udara bagi para jamaah haji yang harus menempuh jarak lebih jauh dari berbagai penjuru dunia?
Akhirnya, pesawatpun mendarat di bandara Madinah. Pukul setengah 3 pagi. Masih terasa seperti mimpi kalau saya telah sampai di Madinah ketika melihat palang-palang bandara dipenuhi oleh tulisan arab. Ada perasaan haru yang muncul, mengingat saya akhirnya menginjakkan kaki di tanah yang selama ini hanya saya dengar dalam cerita dan doa.
Setelah mengantre dan menghadapi tatapan jutek dan lelah karyawan bandara, saya akhirnya telah resmi menginjakkan kaki saya di Madinah. Yang mengejutkan saya, udara Madinah terasa sangat dingin. Saya sempat terdiam sejenak, mencoba memahami bahwa saya benar-benar berada di Timur Tengah, tetapi justru merasakan hawa dingin yang tidak saya bayangkan sebelumnya.
Dalam benak saya, Madinah dan kota-kota lain di Arab Saudi selalu identik dengan panas terik, tetapi saat itu, suhu malam membuat saya menggigil.Bayangan saya tentang Timur Tengah agak memudar, namun saya tepis dengan pikiran ‘mungkin tadi malam sehabis hujan,’. Setelah menaiki bus yang telah disediakan, saya akhirnya baru bisa tertidur setelah bengong 10 jam di pesawat.
Setelah keluar bandara, kami langsung naik ke bus yang telah disediakan untuk menuju hotel. Baru kali ini saya merasakan betapa nikmatnya bisa tidur setelah sebelumnya hanya bisa terjaga di pesawat. Perjalanan dari bandara ke hotel hanya sekitar 25 menit, tetapi bagi saya, itu adalah momen istirahat yang sangat berharga
Sesampainya di parkiran hotel, rasa malas mulai muncul. Saya harus menyeret koper-koper yang berat ke dalam lift hotel. Badan yang lelah setelah perjalanan panjang membuat tugas sederhana ini terasa lebih berat dari biasanya. Tetapi, rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh rasa nyaman saat akhirnya saya bisa masuk ke kamar hotel.
Bunyi ‘ceklek’ khas pintu kamar hotel saat saya menempelkan kartu kunci di atas gagangnya terasa seperti suara paling merdu setelah perjalanan panjang. Saya langsung merebahkan diri di kasur yang empuk.Saya merasa seperti baru saja melewati perjalanan yang panjang dan penuh pengalaman baru, tetapi ini baru permulaan. Masih ada banyak hal yang akan saya jalani di kota suci ini.
Di pagi hari, udara dingin yang segar menghampiri saya saat keluar dari lobi hotel. Anggapan bahwa Timur Tengah merupakan tempat yang panas dan terik sudah sirna di benak saya. Sejak tiba tadi malam, saya sudah merasa bahwa suhu di Madinah jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan, tetapi pagi ini benar-benar menegaskan hal tersebut.
Saat melihat ponsel, suhu udara menunjukkan angka 16 derajat Celsius—sudah setara dengan menyalakan AC di suhu paling rendah. Sensasi dingin yang menyentuh kulit terasa begitu berbeda dari udara pagi di Indonesia. Saya merapatkan mantel yang saya pakai, tetapi tetap saja, dinginnya masih terasa menusuk. Mungkin ini karena saya sudah terbiasa dengan cuaca tropis yang hangat, sehingga tubuh saya masih perlu beradaptasi dengan suhu yang lebih rendah.
Saya juga berkesempatan untuk mengunjungi Kebun Kurma dan Masjid Quba di Madinah, dua tempat yang sangat bersejarah dan memiliki daya tarik tersendiri bagi para jamaah. Sejak sebelum berangkat umrah, saya sudah sering mendengar tentang kedua tempat ini, terutama Masjid Quba yang disebut sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam.
Mendapat kesempatan untuk mengunjunginya secara langsung tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Perjalanan menuju Kebun Kurma berlangsung cukup nyaman. Sepanjang jalan, saya melihat pemandangan khas Madinah yang didominasi oleh bangunan-bangunan berwarna krem dan cokelat muda, serta jalanan yang tertata rapi.
Udara masih terasa sejuk, meskipun matahari sudah mulai naik. Sesampainya di Kebun Kurma, saya langsung disambut oleh hamparan pohon kurma yang menjulang tinggi. Batang-batangnya kokoh, dengan daun-daun hijau yang membentuk kanopi alami di atas kepala kami. Saya bisa merasakan ketenangan di tempat ini, apalagi dengan semilir angin yang berhembus pelan di antara pepohonan.
Di sini, kami diperkenalkan dengan berbagai jenis kurma, mulai dari yang masih muda hingga yang sudah matang dan siap dikonsumsi. Saya baru tahu bahwa kurma memiliki banyak variasi rasa dan tekstur, tergantung pada jenis dan tingkat kematangannya.
Salah satu yang paling terkenal adalah Kurma Ajwa, yang sering disebut sebagai “Kurma Nabi” karena memiliki sejarah yang erat dengan Rasulullah SAW. Saya tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipinya langsung. Rasanya manis, tetapi tidak berlebihan, dengan tekstur yang lembut dan sedikit kenyal.
Setelah puas menikmati suasana di kebun kurma, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Quba, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sana. Masjid Quba adalah salah satu tempat yang paling saya nantikan untuk dikunjungi. Begitu tiba di area masjid, saya langsung disambut oleh pemandangan bangunan putih bersih dengan arsitektur khas Timur Tengah.
Kubah-kubahnya menjulang indah, sementara menara-menara tinggi berdiri kokoh di sisi-sisinya. Masjid ini tampak begitu megah, tetapi tetap memancarkan kesederhanaan dan ketenangan yang mendalam. Kunjungan ke Masjid Quba menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya selama di Madinah. Bukan hanya karena sejarahnya yang luar biasa, tetapi juga karena ketenangan yang saya rasakan selama berada di sana. Rasanya sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata bagaimana perasaan saya saat itu. Ada rasa syukur yang begitu besar, sekaligus harapan agar suatu hari nanti saya bisa kembali lagi ke tempat ini.
Saskia Salsabila,
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB










