DEPOKPOS – Dunia anak-anak seharusnya dipenuhi dengan kepolosan dan keceriaan, tetapi di usia 12 tahun, aku justru memilih sebuah petualangan yang menantang. Saat itu, keingintahuan dan keberanianku melampaui batasan yang seharusnya ada. Dengan menyusun cerita yang manis agar orang tuaku tak curiga, aku mengatakan bahwa aku akan pergi bersama teman-teman untuk menghadiri sebuah acara di Senayan City. Kenyataannya, hanya ada aku, seorang anak yang waktu itu berusia 12 tahun, yang melangkahkan kaki menuju Stasiun Bogor dengan tujuan Senayan City di Jakarta.
Tentu saja, perjalanan ini bukan sekadar tentang berpindah tempat. Ini adalah perjalanan pertama yang sepenuhnya aku jalani sendiri, tanpa pengawasan atau izin dari orang tua. Setiap langkah yang kuambil adalah gabungan antara rasa takut dan semangat. Aku berpamitan dengan orang tuaku seolah-olah tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya dengan bantuan handphone dan Google Maps, aku berani untuk pergi ke Jakarta seorang diri. Sebenarnya, aku tidak memiliki tujuan khusus untuk pergi ke Senayan City. Aku hanya penasaran karena sering kali melihatnya dibahas di media sosial, dan aku ingin melihatnya sendiri, membuktikan apakah tempat itu benar-benar semenarik yang digambarkan orang-orang. Jantungku berdebar dengan cepat ketika melangkahkan kaki di Stasiun Bogor, bagaimana jika rencana rahasiaku ini gagal dalam seketika? Tetapi aku tetap yakin dan melanjutkan perjalananku.
Ketika kereta melaju meninggalkan Bogor, aku tahu bahwa tak ada jalan untuk kembali selain menyelesaikan petualangan ini. Aku duduk di kursi KRL sambil memangku tas selempangku di depan. Handphone yang disambungkan dengan headset menjadi hiburanku selama diperjalanan. Sambil mendengarkan musik K-pop, aku membayangkan betapa serunya petualanganku nanti. Sesekali aku mengamati suasana di sekelilingku. Ada pekerja kantoran yang sibuk dengan handphone, mahasiswa yang berbincang riang, dan gerombolan ibu-ibu yang sepertinya hendak bertamasya. Di antara semua itu, aku hanya seorang bocah dengan rasa ingin tahu yang besar, memberanikan diriku untuk melanjutkan perjalanan, berharap semuanya berjalan lancar.
Setelah perjalanan sekitar satu jam, aku tiba di Stasiun Manggarai dan berpindah ke jalur lain untuk menuju Stasiun Dukuh Atas BNI. Langkahku semakin mantap saat keluar dari gerbong KRL dan berjalan menuju peron MRT. Ini juga merupakan pengalaman pertamaku menaiki MRT sendirian. Saat kereta bawah tanah itu melaju cepat menuju Stasiun Senayan, aku merasa seperti sedang berada di luar negeri, meskipun kenyataannya aku hanya menjelajah di Kota Jakarta. Ketika turun di Stasiun MRT Senayan, aku kembali mengandalkan Google Maps untuk menemukan jalur menuju Senayan City. Aku berjalan kaki selama 16 menit, menyusuri trotoar yang ramai dengan pekerja kantoran dan pejalan kaki lainnya. Setelah berjalan cukup jauh dan melewati jalanan yang asing, akhirnya aku berdiri di depan pintu masuk Senayan City. Perasaanku senang bercampur aduk dengan kegugupan.
Aku menghabiskan waktu mendatangi toko-toko yang tidak pernah aku lihat di Bogor. Dengan mata berbinar, aku menjelajahi berbagai gerai yang selama ini hanya kulihat di internet. Namun, di balik euforia itu, ada rasa gelisah yang mengintai. Bagaimana jika orang tuaku tiba-tiba menelepon dan menanyakan keberadaanku? Bagaimana jika sesuatu terjadi dalam perjalanan pulang? Aku menepis pikiran itu jauh-jauh dan memutuskan untuk menikmati momen yang ada. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membeli sebuah boneka sebagai kenang-kenangan dari perjalanan hari ini.
Setelah puas berkeliling, aku duduk sejenak di salah satu bangku di dalam mal, memperhatikan lalu-lalang orang-orang di sekitarku. Beberapa keluarga tampak menikmati waktu bersama, anak-anak kecil berlarian dengan gembira, sementara pasangan muda berbincang santai di kedai kopi. Aku merasa bangga karena berhasil melakukan perjalanan ini sendiri, tetapi di sisi lain, ada sedikit rasa sepi karena tak ada yang menemaniku berbagi pengalaman ini secara langsung.
Hari itu berakhir dengan aku kembali ke Stasiun MRT Senayan, menaiki MRT ke Dukuh Atas BNI, berpindah ke KRL di Stasiun Manggarai, dan akhirnya kembali ke Bogor. Kali ini, perjalanan terasa lebih menyenangkan karena aku sudah hafal dengan rutenya. Setiap perhentian terasa familiar, dan aku semakin menikmati setiap momen perjalanan pulang. Aku tiba di rumah dengan selamat, seolah-olah tak ada yang terjadi. Orang tuaku tak pernah tahu tentang petualangan rahasiaku ini. Namun, pengalaman itu mengajarkanku tentang keberanian, kemandirian, dan juga batas-batas yang seharusnya dipahami.
Kini usiaku sudah hampir 20 tahun, tetapi cerita ini belum pernah aku sampaikan kepada orang tuaku. Mungkin, kalian para pembaca adalah orang-orang yang mengetahui petualangan rahasiaku. Ketika mengenang kembali perjalanan itu, aku tak hanya melihatnya sebagai sebuah kenekatan masa kecil, tetapi juga sebagai langkah awal dalam memahami dunia yang lebih luas. Sebuah perjalanan kecil yang mengajarkanku bahwa kebebasan datang bersama tanggung jawab, dan bahwa terkadang, keberanian terbesar adalah ketika kita memilih untuk melangkah sendiri.
Cinta Ing Larasati
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB










