DEPOKPOS – Muhammad Diva Fahrezi adalah sosok yang kian bersinar dalam dunia pendidikan, terutama di bidang teknologi rekayasa komputer. Lahir di Bandung pada tanggal 7 Agustus 2001, Fahrezi telah menunjukkan tekad yang kuat dan komitmen untuk mengembangkan diri sejak masa sekolahnya di SMA 3 Pasundan Bandung. Kini, sebagai lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), perjalanan akademiknya tidak hanya menjadi rangkaian pencapaian pendidikan, tetapi juga sebuah kisah inspiratif tentang perjuangan, adaptasi, dan dedikasi dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Sejak kecil, Fahrezi sudah tumbuh di lingkungan yang menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan diri. Lahir di kota Bandung yang terkenal dengan kreativitas dan dinamisme budayanya, ia mendapatkan fondasi yang kuat dalam hal nilai-nilai keilmuan dan semangat inovasi. Masa-masa sekolahnya di SMA 3 Pasundan Bandung tidak hanya memberikan bekal pengetahuan akademik, tetapi juga mengasah kemampuan berorganisasi dan berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya. Lingkungan sekolah inilah yang kemudian menjadi batu loncatan bagi Fahrezi untuk memasuki dunia pendidikan tinggi.
Memilih Institut Pertanian Bogor sebagai tempat menimba ilmu di jurusan Teknologi Rekayasa Komputer bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Bagi Fahrezi, pendidikan tinggi merupakan wadah untuk meningkatkan berbagai keterampilan, baik soft skills maupun hard skills. Menurutnya, kampus adalah arena untuk mengasah pola pikir kritis dan melatih kemampuan problem solving melalui berbagai kegiatan dan pelatihan, termasuk pelatihan dosen. Di sinilah Fahrezi menemukan kesempatan untuk berkembang secara menyeluruh, menggabungkan aspek teknis dengan pengembangan karakter yang mumpuni.
Keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi bagi Muhammad Diva Fahrezi berasal dari keyakinan bahwa belajar tidak hanya tentang menguasai teori, tetapi juga tentang pembentukan diri secara keseluruhan. Ia meyakini bahwa pendidikan tinggi memberikan ruang untuk meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis dan kreatif. Hal ini terbukti dari semangatnya untuk mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan yang menantang, yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga mengasah kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim.
Bagi Fahrezi, setiap tantangan yang dihadapi selama masa perkuliahan adalah peluang untuk belajar dan tumbuh. Kegiatan akademik dan non-akademik yang diikuti, seperti pelatihan dan proyek kolaboratif, menjadi ajang untuk mengasah soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Semua itu dipandangnya sebagai investasi masa depan yang akan membuka jalan untuk berbagai kesempatan profesional dan pribadi di kemudian hari.
Meski dengan semangat belajar yang menyala-nyala, perjalanan pendidikan Fahrezi tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang pernah dihadapinya adalah proses adaptasi dalam lingkungan yang sangat beragam. Di kampus, perbedaan kultur, latar belakang, dan cara berpikir antara individu-individu menjadi sebuah dinamika yang kompleks, terutama saat mengerjakan proyek-proyek yang melibatkan banyak individu.
Fahrezi, yang secara alami memiliki sifat introvert, harus belajar keluar dari zona nyaman dan beradaptasi dengan berbagai karakter yang ada di sekitarnya. Proses ini bukanlah hal yang mudah. Ia mengakui bahwa menghadapi perbedaan dan belajar untuk bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki pandangan serta kebiasaan yang berbeda merupakan tantangan tersendiri. Namun, dengan tekad dan kemauan untuk berubah, Fahrezi berhasil mengubah keterbatasannya menjadi kekuatan. Ia memaksa dirinya untuk lebih terbuka, belajar mendengarkan, dan mengembangkan kemampuan interpersonalnya. Tantangan ini justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang, mampu mengatasi konflik, dan menemukan solusi kreatif dalam berbagai situasi.
Di balik setiap pencapaian besar, pasti ada sosok yang memberikan dorongan dan inspirasi. Bagi Muhammad Diva Fahrezi, sosok yang tidak pernah pudar oleh waktu adalah almarhum kakeknya. Meskipun beliau telah berpulang, nasihat dan semangatnya terus menggelora dalam diri Fahrezi. Kakeknya selalu mendorong untuk mengejar pendidikan tinggi dan bahkan menyarankan agar Fahrezi berkuliah di kampus ternama seperti ITB. Walaupun karena berbagai alasan Fahrezi tidak dapat mengikuti saran tersebut, ia merasa sangat bersyukur telah diberi kesempatan bergabung dengan keluarga besar IPB. Semangat dan antusiasme kakeknya terhadap pendidikan menjadi bahan bakar yang tak pernah padam, mendorong Fahrezi untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap langkahnya.
Selain sosok kakek, ada pula sosok inspiratif di lingkungan akademis yang telah memberikan pengaruh besar dalam perjalanan pendidikannya. Seorang dosen di jurusan Teknologi Rekayasa Komputer, Bu Walidatush Sholihah, yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di Belanda, merupakan figur yang patut diacungi jempol. Dengan kecerdasan dan ketulusan dalam mendidik, beliau tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membimbing dan menginspirasi Fahrezi untuk terus mengembangkan potensi diri. Kehadiran Bu Walidatush Sholihah sebagai dosen pembimbing telah membuka mata Fahrezi akan pentingnya keuletan dan dedikasi dalam dunia akademik, sekaligus menanamkan nilai-nilai etos kerja yang tinggi.
Melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh, Muhammad Diva Fahrezi menyadari bahwa setiap tantangan dan hambatan adalah bagian integral dari proses pembentukan karakter. Pendidikan tinggi telah mengajarkannya untuk tidak hanya mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga untuk membangun kepribadian yang adaptif dan resilien. Pengalaman berkolaborasi dengan berbagai individu dalam proyek-proyek menantang, sekaligus harus beradaptasi dengan perbedaan budaya, telah mengajarkan Diva untuk lebih menghargai keragaman dan menemukan solusi kreatif di tengah kompleksitas.
Harapan masa depan pun terus tersusun dalam benaknya. Dengan bekal pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan, Fahrezi bercita-cita untuk memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan teknologi dan pendidikan di tanah air. Ia ingin menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara akademis, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda untuk terus bermimpi dan berusaha keras meraih apa yang mereka impikan. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan dinamis, Muhammad Diva Fahrezi bertekad untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis dan problem solving, sehingga mampu menghadapi tantangan global di masa depan.
Revan Khaira Ramadhan
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB










