Senjata Ampuh Pembebasan Palestina adalah Persatuan Umat

Oleh : Bella Lutfiyya

Penderitaan kaum muslim di Gaza tak juga berakhir. Bagaimana tidak, selain memborbardir wilayah Palestina, Zionis Israel juga membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan termasuk makanan. Hal ini menyebabkan banyak warga Palestina yang kekurangan gizi, padahal banyak anak-anak yang menjadi korban kebengisan Israel ini masih dalam masa pertumbuhan. Sudahlah kehilangan rumah, keluarga, bahkan sekolah, ditambah kurangnya pasokan pangan untuk dikonsumsi.

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa atau World Food Program (WFP) memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza yang saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apa pun dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama mereka (metrotvnews.com, 20 April 2025)

Mirisnya, warga Palestina mulai memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein mereka imbas dari krisis makanan akibat pengepungan dan genosida yang dilakukan Israel. Salah satu warga Gaza, Majida Qanan mengatakan, anak-anak di Gaza harus dibujuk agar mau memakan daging kura-kura tersebut. Daging kura-kura dianggap sebagai pangan alternatif setelah tidak adanya sumber protein lain (cnnindonesia.com, 19 April 2025)

Penjajah Zionis semakin brutal dengan berbuat hal-hal di luar batas kemanusiaan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Kecaman dunia tak pula dihiraukannya. Lebih parah, Zionist Israel menyebarkan informasi yang justru menyimpang dan menyesatkan lewat akun-akun media sosial palsu. Pemanfaatan akun media sosial oleh Zionist Israel dibuat untuk menggalang dukungan dunia agar berpihak pada mereka dan hal ini tidak satu atau dua kali terjadi, melainkan berulang kali.

Sangat disayangkan, masih ada saja pihak-pihak yang percaya dengan kebohongan yang dibuat Zionist Israel ini. Bisa kita buktikan kelihaian Zionist untuk memutarbalikkan fakta yang ada. Bahkan, Zionist tak segan lagi untuk memanfaatkan media untuk mengutarakan rencana mereka.

Bulan lalu, Israel mengatakan akan membentuk sebuah badan pemerintah untuk mengawasi “kepergian sukarela” warga Palestina dari Jalur Gaza. Langkah Israel ini menyusul saran dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa penduduk Gaza harus dipindahkan ke negara lain, yang oleh kelompok-kelompok hak asasi dan kritikus di seluruh dunia disebut sebagai pembersihan etnis (aljazeera, 21 April 2025)

Lalu, apa peran tanggapan dan aksi penguasa muslim saat ini?

Para penguasa muslim tetap hanya mencukupkan diri dengan kecaman tanpa aksi nyata. Bahkan, meski Umat Islam hari ini sudah mulai menyerukan jihad sebagai solusi, namun hal itu tidak menggerakan uamt muslim secara keseluruhan. Berjuang dalam menyuarakan Palestina lewat sosial media saja masih enggan, apalagi berjuang dalam medan perang sesungguhnya.

Padahal jelas bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk memberi pertolongan pada saudaranya sesama muslim. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa umat Islam adalah satu tubuh, satu kesatuan yang utuh. Oleh karenanya, menolong saudara sesama umat muslim adalah wajib hukumnya.

Namun, arti kata “menolong” justru disalahartikan, rencana pemindahan atau “evakuasi” para penduduk Gaza dianggap “pertolongan” bagi mereka. Sangat disayangkan juga, rencana ini disetujui oleh pemimpin negeri di Indonesia. Lalu muncul suatu premis bahwa dukungan tersebut ialah jilatan untuk Amerika Serikat (AS) sebagai tanggapan atas melonjaknya tarif pajak yang dikenakan AS terhadap produk dari Indonesia sebesar 32%.

Kesalahan besar, karena rakyat Gaza sama sekali tidak membutuhkannya. Siapa juga yang mau meninggalkan dan menyerah dengan sukarela atas tanah kelahiran mereka kapada penjajah? Bukankah mempertahankan tanah air leluhur adalah hal yang semestinya?

Apalagi tanah Palestina memiliki sejarah besar bagi umat Islam. Palestina adalah tanah para nabi. Palestina adalah tanah kharajiyah. Di sana, banyak lahir orang-orang yang sangat luar biasa dari segi keimanan, keilmuan, dan kemanusiaan. Kenapa juga harus dievakuasi?

Bagaikan buih di lautan, meskipun umat Islam tersebar di seluruh penjuru dunia, namun selama umat masih terikat pada Nasionalisme yang telah mengkotak-kotakan umat Islam, maka sampai kapanpun umat Islam tidak akan benar-benar bersatu dan jihad tidak akan tergerakkan.

Oleh karenanya, umat Islam harus mencampakkan Nasionalisme, menyadari bahwa hal ini juga merupakan sebuah bentuk penjajahan juga, yaitu penjajahan pemikiran. Selain itu, harus juga meyakini bahwa satu-satunya solusi untuk menuntaskan penjajahan ini adalah dengan satu kepemimpinan global, yaitu Khilafah.

Kepemimpinan khilafah akan menyatukan umat muslim di berbagai penjuru dunia. Kewajiban jihad akan diterapkan pada seluruh umat Islam, tanpa terkecuali. Bila kita berkaca pada masa kejayaan Islam dulu, betapa luar biasa dan kuatnya umat Muslim yang berhasil menaklukkan dan menguasai wilayah yang sangat luas, diperkirakan mencapai 13 juta kilometer persegi di puncak penaklukan awal.

Sesungguhnya, persatuan umat Islam adalah ketakutan terbesar musuh. Mereka tahu betapa hebatnya umat Islam bila bersatu, sehingga yang bisa mereka lakukan adalah membunuh dan menghancurkan warga-warga sipil yang tak punya perbekalan perang, menjajah lewat pemikiran yang bisa memecah belah umat, dan membumbui umat Islam dengan budaya mereka, orang-orang kafir.

Oleh karena itu, umat Islam wajib menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan seruan yang sama. Umat harus terus mengingatkan akan persatuan umat dan kewajiban menolong penduduk Gaza. Umat harus bergerak menuntut penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong Palestina dengan melaksanakan jihad dan menegakkan Khilafah.

Gerak umat harus ada yang memimpin agar terarah. Pemimpin dakwah itu adalah jamaah dakwah ideologis yang menyerukan jihad dan tegaknya khilafah. Para pengemban dakwah harus terus bergerak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar persatuan umat terwujud dan berjuang bersama menegakkan khilafah agar persoalan umat termasuk Palestina segera terselesaikan dan kehidupan Islam dapat dilangsungkan kembali.