Akui Israel atau Two State Solution? Ini Jual Beli Darah Syuhada Palestina Namanya!

Oleh: Albayyinah Putri, S.T,. M.S. Alumni Konkuk University, Seoul

Gak habis-habisnya berita genosida Palestina. Sudah lebih dari 1 tahun semenjak pembantaian membabi buta 7 Oktober 2023. Hingga saat ini lebih dari 50.000 orang tak bersalah terbunuh oleh zionis Israel laknatullah. Omong kosong gencatan senjata atau mundurnya pasukan Israel sering terlontar sebagai janji-janji manis, tapi setelahnya pembantaian dan genosida terus dilakukan. Ini belum terhitung sejak tahun 1948 zionist Israel ini mulai merampas tanah Palestina. Belum kering air mata umat Muslim karena ketidak sanggupannya menyaksikan satu demi satu anak tak bersalah terbunuh bersimbah darah. Namun, biadabnya Israel dan negara adi daya pendukungnya, US tidak pernah sedikitpun merealisasikan ketentraman di tanah Palestina. Begitulah sosok Kafir dan Yahudi yang tidak pernah bisa dipegang omongannya karena Allah SWT pun sudah menggambarkan bagaimana kebencian mereka yang nyata terhadap kaum Muslimin dan Islam.

Indonesia memang berdiri bersama Palestina sejak zaman kepemimpinan Presiden pertama. Sebagai negara mayoritas penduduk Muslim terbesar, gerakan kemanusiaan dan kecaman untuk zionis Israel yang tidak pernah berhenti untuk mendukung Palestina terus disampaikan disetiap harinya. Tapi mirisnya, Presiden Indonesia saat ini, Prabowo Subianto baru saja berpidato dan menyatakan “tidak ada alasan untuk tidak mengakui Israel jika Palestina merdeka”. Like, how can?!

Sejak awal 1948 peperangan yang terjadi antara Palestina dan Israel, Indonesia sudah jelas menunjukan posisinya untuk berdiri di pihak Palestina. Komitmen tersebut dipegang hingga saat ini, terbukti dari pergerakan mayoritas Masyarakat Muslim memang masih terus bersuara tentang kemerdekaan Palestina. Apalagi genosida yang terjadi 7 Oktober 2023, pemberitaan dunia tidak pernah berhenti bersuara tentang hal ini. Sadar atau tidak, overwhelmed dan burnout yang dirasakan saat media menceritakan mengenai hal ini hingga hari ini pun mulai terasa. Gencatan senjata berkali-kali sudah dilakukan, namun pengkhianatan dan kelicikan yang dilakukan oleh Israel juga berkali-kali dilakukan. Sekalipun PBB yang memfasilitasi perjanjian antara Israel dan Palestina, tetap saja Israel berkali-kali berkhianat. Sering melanggar hukum international dan juga melakukan hal-hal yang illegal yang jelas melanggar kesepakatan International. Tapi anehnya, sampai saat ini PBB tidak pernah memberikan hukuman yang membuat Israel jera.

Solusi yang didukung oleh Indonesia sejak dulu memang two state solution, solusi ini memang sudah disuarakan sejak Perjanjian Oslo di tahun 1990-an. Dikutip dari website Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mendesak negara-negara Eropa, untuk mendorong implementasi two-state solution atau solusi dua negara guna mengatasi konflik Palestina-Israel (menpan.go.id).

Jika kita melihat fakta sejarah antara kaum Muslimin dan Yahudi, solusi dua negara hanyalah perdamaian ilusi semata. Siapa yang bisa menjamin bahwa Israel tidak melakukan pengkhiatan kembali? Dimana sudah sering dilakukan kaum Yahudi sejak zaman Rasulullah SAW. Sifat bawaan Yahudi memang munafik dan pengkhianat. Memang dari awal Israel ini tidak pernah berniat untuk berlaku adil, tujuan penyerangan mereka bukanlah membela diri, tetapi ingin merebut tanah Palestina dan membumi hanguskan rakyat Palestina.

Khalifah Umar bin Khattab tidak pernah berkompromi dengan penjajah. Saat membebaskan Baitul Maqdis, beliau menolak tawaran pembagian wilayah dengan Byzantium. Salahuddin Al-Ayyubi tidak berunding dengan Tentara Salib; beliau membebaskan Palestina dengan kekuatan dan jihad. Tetapi hari ini, justru pemimpin Muslim mengajak berdamai dengan pembantai. Bukankan ini bukti dari sebuah pengkhianatan atas perjuangan yang dilakukan para pemimpin kaum Muslimin terdahulu?

Jelas bahwa Israel sudah tidak bisa memahami bahasa perdamaian, perjanjian ataupun diplomasi. Mereka hanya bisa dihentikan dengan bahasa perang! Itulah kenapa mengatasi kaum Yahudi ini sejak zaman Rasulullah SAW adalah menghunus pedang atau peperangan, yaitu jihad fii sabilillah. Kekuatan tentara setiap negara Muslim, persatuan pemahaman negara Muslim sangatlah dibutuhkan saat ini. Pahami sejarah dan kenapa kita harus membela serta menjaga Al-Aqsa? Hal ini dikarenakan, Aqidah Islam kita dipertaruhkan. Israel yang jelas di-support dengan AS membuktikan bahwa kekuatan negara haruslah dilawan dengan kekuatan negara. Tidak bisa memisahkan kepentingan ini dengan kepentingan negara. Kelompok-kelompok kemanusiaan hanyalah solusi cepat yang memang membantu kondisi saat ini, tapi tidak bertahan lama. Kelompok kemanusiaan tidak akan bisa memberhentikan kekuatan negara yang men-support Israel dalam melakukan genosida.

Dakwah dan jihad adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan di tanah Palestina. Mengusir penjajah Israel dan membungkam negara-negara barat yang masih tetap mendukung Israel untuk merebut tanah Palestina. Kasus ini bukan lagi sebuah konflik negara, tetapi sebuah genosida, penjajahan yang biadab. Umat muslim akan sangat mudah sebenarnya jika sudah memiliki persamaan pemikiran Aqidah, satu komando pemimpin kaum Muslim akan menggerakan seluruh kaum Muslim untuk menyelesaikan masalah ini dan mengusir penjajah. Sehingga, kembali kepada system Islam, Khilafah Islamiyah adalah solusi terbaik secara global sesuai dengan thariqah yang Rasulullah SAW ajarkan. Wallahu’alam