Dampak Broken Home Akibat Keegoisan Orang Tua

DEPOKPOS – Seperti yang kita tau sekarang banyak sekali fenomena dari Broken Home yang berdampak besar pada anak muda terlebih lagi pada generasi Gen -Z sekarang, banyak sekai anak Gen-Z yang terkena dampak dari keegoisan orang tua selain itu juga, walaupun memiliki ekonomi yang bisa terbilang cukup tapi mereka masih kurang komunikasi, kasihsayang, maupun perhatian dari orang tua baik dari ayah, ibu, maupun kedua nya ,hal ini yang ampu memicu dari ada nya fenomena kenakalan remaja.

Salah satu bentuk nyata dari keegoisan orang tua adalah perceraian yang tidak mempertimbangkan kondisi psikologis anak. Fenomena ini biasa disebut sebagai ‘broken home’. Anak yang berasal dari keluarga broken home cenderung mengalami gangguan emosi, rasa tidak aman, dan lebih mudah terlibat dalam kenakalan remaja.

Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sekitar 25% anak-anak dari keluarga yang mengalami perceraian mengaku merasa kesepian dan tertekan. Dari jumlah tersebut, 60% menunjukkan kecenderungan perilaku menyimpang seperti membolos sekolah, berkelahi, hingga penyalahgunaan narkoba.

Rata-rata anak yang terdampak broken home akibat keegoisan orang tua berada pada rentang usia 12–17 tahun, yakni masa remaja yang rentan terhadap tekanan sosial dan emosional. Tanpa pendampingan yang tepat, mereka dapat mencari pelarian pada pergaulan yang salah.

Keegoisan orang tua dalam mengasuh anak dapat berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis anak. Ketika orang tua lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kebutuhan emosional dan mental anak, maka anak akan tumbuh dalam kondisi yang tidak sehat secara emosional. Hal ini dapat berujung pada munculnya kenakalan remaja.

“Anak-anak yang tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang yang memadai dari orang tuanya lebih rentan mengalami gangguan perilaku dan kenakalan remaja.” (Sumber: Psikologi Perkembangan, Santrock, 2012)

Keegoisan dapat berupa sikap otoriter, penolakan tanggung jawab, atau terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga mengabaikan anak. Ketika kebutuhan anak untuk diperhatikan tidak terpenuhi, mereka cenderung mencari perhatian dari luar rumah, yang bisa berujung pada perilaku menyimpang.

“Kurangnya komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak berkontribusi besar terhadap perilaku menyimpang remaja.” (Sumber: Jurnal Pendidikan dan Remaja, Universitas Negeri Malang, 2020)

Keegoisan orang tua kepada anaknya yang dapat menimbulkan kenakalan remaja juga berdampak pada masyarakat luas yang bisa membuat ke khawatiran, terlebih lagi pada masyarakat terdekat, Contohnya yang bisa kita liat sekarang seperti keributan antar remaja, balap liar, maupun tauran antar kampung. Seperti yang kita tau kegiatan yang tidak benar tersebut bisa merugikan masyarakat dan dapat merusak fasilitas umu yang ada.

Kesimpulan Peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Keegoisan dalam pola asuh dapat mengakibatkan anak merasa tidak dicintai dan tidak dihargai. Hal ini dapat menimbulkan kemarahan, frustrasi, hingga kenakalan remaja. Oleh karena itu, orang tua harus belajar memahami kebutuhan emosional anak dan membangun komunikasi yang sehat sejak dini.

Muhammad Ragil Java Rangkuti