Oleh: Tim Dosen Muda Universitas Gunadarma
“Usia boleh bertambah, tetapi semangat belajar tidak boleh berhenti.” Kalimat sederhana itu terasa hidup ketika puluhan lansia berkumpul di Rumah Budaya Pancoran Mas, Depok. Mereka tertawa, berdiskusi, menggerakkan tangan mengikuti instruksi, hingga berebut menjawab teka-teki silang. Suasana tersebut jauh dari kesan bahwa menjadi lansia identik dengan pasif atau hanya menghabiskan waktu di rumah.
Padahal, memasuki usia lanjut sering kali diiringi berbagai tantangan, salah satunya menurunnya daya ingat. Tidak sedikit keluarga menganggap kondisi ini sebagai hal yang wajar. Padahal, penurunan fungsi kognitif hingga demensia dapat diperlambat melalui stimulasi otak, aktivitas fisik, dan interaksi sosial yang dilakukan secara rutin.
Berangkat dari kepedulian tersebut, Tim Dosen Muda Universitas Gunadarma yang terdiri atas dosen dari Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Teknologi Industri melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Smart Aging Happy Living: Optimalisasi Gym Brain sebagai Upaya Pencegahan Demensia pada Lansia.”
Program ini dilaksanakan di Sekolah Lansia Rumah Budaya Pancoran Mas, Depok, melalui dua kali pertemuan pada 18 Mei 2026 dan 22 Juni 2026. Selama dua kali pertemuan tersebut, para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak belajar dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipraktikkan.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan proses penuaan, pemahaman tentang demensia, serta pentingnya menjaga kesehatan otak sejak dini. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik Gym Brain, yaitu latihan sederhana yang menggabungkan gerakan tubuh dengan konsentrasi untuk membantu menjaga fungsi otak dan koordinasi tubuh.
Tidak sedikit peserta yang awalnya kesulitan mengikuti gerakan. Namun, setelah beberapa kali mencoba, mereka mulai terbiasa. Tepuk tangan dan tawa pun beberapa kali terdengar ketika peserta berhasil menyelesaikan setiap rangkaian gerakan.
Agar suasana semakin hidup, tim dosen juga mengajak peserta bermain teka-teki silang bertema pengetahuan umum. Aktivitas sederhana ini ternyata menjadi favorit para lansia. Mereka saling berdiskusi, mengingat kembali berbagai pengetahuan yang pernah dimiliki, bahkan saling memberi semangat ketika ada jawaban yang belum ditemukan.
Di sela kegiatan, Hikmatunnazilah selaku ketua pelaksana bersama Devi Resviani berbincang dengan Ibu Kartini, Ketua Sekolah Lansia Rumah Budaya Pancoran Mas, Depok. Dari wawancara tersebut terungkap bahwa sekolah lansia lahir dari keresahan melihat banyak lansia yang kehilangan aktivitas setelah pensiun.
“Banyak lansia yang sebenarnya masih sehat, tetapi setelah pensiun lebih sering berada di rumah. Mereka kehilangan ruang untuk berkumpul, belajar, bahkan sekadar berbagi cerita. Karena itu kami ingin menghadirkan tempat yang membuat mereka tetap aktif dan merasa memiliki keluarga baru,” ujar Ibu Kartini.
Menurutnya, Sekolah Lansia bukan hanya tempat mengikuti kegiatan rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kembali rasa percaya diri para lansia.
“Kami ingin mereka tetap merasa berguna. Lansia masih bisa belajar, berteman, berbagi pengalaman, bahkan menginspirasi orang lain. Itulah tujuan utama sekolah ini,” katanya.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Smart Aging Happy Living yang diusung Tim Dosen Muda Universitas Gunadarma, yakni mendorong lansia agar tetap sehat secara fisik, aktif secara sosial, serta terus menjaga kemampuan berpikir.
Ketua Pelaksana PkM, Hikmatunnazilah, mengatakan bahwa edukasi mengenai demensia masih perlu diperluas karena banyak masyarakat belum memahami bahwa kesehatan otak dapat dijaga sejak dini.
“Pencegahan demensia tidak harus dimulai ketika seseorang sudah pikun. Justru langkah-langkah sederhana seperti bergerak aktif, melatih konsentrasi, terus belajar, dan menjaga interaksi sosial dapat dilakukan sejak hari ini,” jelasnya.
“Kami sengaja mengemas materi dengan permainan, diskusi, dan Gym Brain karena lansia akan lebih mudah memahami materi ketika mereka menikmatinya. Belajar tidak harus selalu serius, justru suasana yang menyenangkan membuat mereka lebih antusias,” tambahnya.
Ibu Kartini berharap Sekolah Lansia dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Kami berharap semakin banyak perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat yang mau berkolaborasi. Lansia membutuhkan ruang untuk tetap berkembang. Semoga semakin banyak sekolah lansia yang lahir sehingga lebih banyak orang tua yang bisa menikmati masa tua dengan sehat dan bahagia,” harapnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan otak tidak selalu dimulai dari ruang perawatan atau rumah sakit. Terkadang, langkah sederhana seperti berkumpul, bergerak bersama, berdiskusi, dan tertawa bersama justru menjadi cara paling efektif untuk menjaga semangat hidup.
Pada akhirnya, Smart Aging Happy Living bukan sekadar tema pengabdian kepada masyarakat, melainkan sebuah ajakan bahwa masa tua bukan akhir dari proses belajar. Selama masih ada kemauan untuk bergerak, berpikir, dan berinteraksi, setiap lansia memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih sehat, mandiri, dan bermakna.
