Oleh Cempaka Anggraini Rusli, mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Kenapa Kita Mudah Cemas dalam Hubungan?
Pernahkah kamu merasa gelisah ketika sebuah pesan yang kamu kirimkan tidak kunjung dibalas? Atau kamu merasa khawatir ketika pasangan kamu sebenarnya terlihat aktif di media sosial tetapi tidak responsif kepada kamu? Fenomena seperti ini sebenarnya semakin sering dialami oleh para dewasa muda di era digital. Kemajuan teknologi memang banyak memberikan kemudahan untuk setiap orang berkomunikasi dengan orang lain walaupun terhalang dengan jarak yang begitu jauh. Namun, kemudahan tersebut justru dapat menghadirkan berbagai tantangan yang baru dan dapat memicu kecemasan dalam hubungan interpersonal. Fenomena seperti ghosting, breadcrumbing dan frear of missing out juga menjadi sebuah bagian dari dinamika yang sangat umum terjadi pada generasi muda saat ini.
Tanpa kita sadari, masa dewasa muda merupakan salah satu periode yang penting dalam perkembangan seorang individu karena pada fase ini individu mulai membangun hubungan romantis yang lebih serius dan juga mengembangkan identitas diri nya/mencari jati diri nya. Hubungan interpersonal yang sehat dapat menjadi sumber dukungan emosional dan kesejahteraan psikologis. Begitupun sebaliknya, jika hubungan nya di penuhi dengan ketidakpastian pasti sering kali menimbulkan kecemasan seperti, rasa khawatir untuk ditinggalkan, takut ditolak, atau merasa tidak pernah pantas untuk orang lain serta merasa tidak dihargai. Menariknya, psikologi menjelaskan bahwa kecemasan itu tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kita saat ini saja, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman hubungan yang memang sudah terbentuk dari sejak kita berada di fase kanak-kanak melalui pola kelekatan atau attachment style (Bowlby, 1969).
Memahami Attachment Style
Teori kelekatan (attachment theory) yang dikemukakan oleh Bowlby (1969) menjelaskan bahwasanya manusia itu memiliki kebutuhan dasar untuk membentuk sebuah ikatan emosional dengan seorang figur pengasuh yang memberikan rasa aman dan perlindungan kepadanya. Pengalaman ini dapat membentuk internal working model, yaitu kerangka berpikir yang dapat memengaruhi individu itu membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal nya sepanjang hidup.
Ainsworth et al. (1978) mengembangkan konsep attachment menjadi beberapa pola yaitu, secure attachment, anxious attachment, dan avoidant attachment. Seseorang dengan pola secure attachment umumnya merasa nyaman dalam menjalin kedekatan emosional, mempercayai orang lain, bahkan sampai memiliki kemampuan regulasi emosi yang cukup baik. Sedangkan, seseorang dengan insecure attachment lebih rentan untuk mengalami kesulitan dalam menjalin sebuah hubungan interpersonal yang sehat (Mikulincer & Shaver, 2016).
Ketika Kedekatan Menjadi Sumber Kecemasan
Sebagai salah satu bentuk insecure attachment, anxious attachment adalah tipe kelekatan yang paling sering dikaitkan dengan masalah kecemasan interpersonal. Individu dengan pola ini cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi akan kedekatan emosional nya, tetapi di satu sisi dia juga bias merasa takut kehilangan seseorang yang ia cintai, mereka itu butuh di validasi secara terus-menerus dan dia juga peka akan perubahan kecil yang pasangannya berikan. Akibatnya, mereka menjadi orang yang overthinking, takut ditolak, dan merasa tidak aman dalam hubungan.
Penelitian yang dilakukan oleh Çarıkçı-Özgül dan Işık (2024) menunjukkan bahwa individu dengan insecure attachment memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding dengan individu dengan secure attachment. Hubungan itu diperkuat oleh rendahnya dukungan sosial dan tingginya intoleransi terhadap ketidakpastian. Semakin sulit seseorang menerima situasi yang tidak pasti dalam hubungan, maka semakin besar pula kemungkinan ia mengalami kecemasan dalam hubungan interpersonal.
Terakhir, avoidant attachment merupakan pola yang individu nya cenderung menjaga jarak emosional dan menghindari ketergantungan pada orang lain. Mereka memang terlihat mandiri namun, mereka juga sering mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang dekat dengan orang lain secara mendalam. Penelitian yang dilakukan oleh Uccula et al. (2023) menunjukkan bahwa individu dengan pola tersebut cenderung menggunakan strategi penghindaran dalam mengurangi ketidaknyamanan emosional dalam hubungan interpersonal.
Tantangan Hubungan di Era Digital
Perkembangan teknologi di zaman sekarang telah mengubah cara individu untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal. Hadirnya media sosial sangat memungkinkan seseorang untuk terjun kedalamnya dan berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu singkat. Namun, dengan berbagai kemudahan itu juga dapat menciptakan berbagai bentuk kecemasan baru yang mungkin sebelumnya tidak banyak ditemukan dalam sebuah hubungan tatap muka.
Fenomena ghosting terjadi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan. Sedangkan breadcrumbing merupakan sebuah perilaku yang memberikan perhatian secara tidak konsisten tanpa adanya hubungan yang jelas. Kedua fenomena tersebut dapat memunculkan perasaan yang tidak aman dan cemas, terutama pada individu yang memiliki attachment anxiety (Khattar et al., 2023)
Seperti yang kita tahu, bahwa di media social banyak sekali individu yang terus mencari validasi dari orang lain melalui jumlah likes dan komentar terhadap apa yang mereka unggah. Ketika itu semua tidak terpenuhi maka individu itu akan merasa cemas dan ragu akan dirinya sendiri. Kondisi ini juga bisa terpengaruh oleh FoMo yang membuat seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih ideal.
Dampak Anxiety dalam Relasi Interpersonal
Kecemasan interpersonal yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan dampak yang negative terhadap kehidupan individu, salah satunya adalah dampak kelelahan emosional (emotional exhaustion) hal ini terjadi dikarenakan terlalu sering memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang buruk yang sebenarnya kita juga belum tentu itu akan terjadi atau tidak. Tidak hanya itu, individu yang mengalami kecemasan interpersonal juga cenderung lebih mudah dalam mengalami konflik, kesalahpahaman, dan ketidakpuasan dalam menjalankan sebuah hubungan.
Menurut Helmi (1999), individu dengan pola kelekatan yang tidak aman cenderung memiliki pertahanan diri yang lebih negatif dibandingkan individu dengan pola kelekatan yang aman. Penilaian harga diri yang rendah dapat memperkuat kecemasan interpersonal sehingga individu semakin bergantung kepada penerimaan dan pengakuan dari orang lain. Jika hal ini terjadi pada jangka waktu yang panjang maka bisa di perkirakan bahwa individu tersebut kemungkinan mengalami gangguan mental berupa gangguan kecemasan, depresi, dan penarikan diri dari lingkungan sosial (Dagan et al., 2021).
Hal ini tidak hanya berlaku pada hubungan romatis saja, kecemasan interpersonal juga dapat memengaruhi kehidupan akademik dan pekerjaan. Individu yang terus-menerus memikirkan masalah dalam hubungan nya sering kali mengalami kesulitan dalam konsentrasi, berkurangnya kemampuan dia untuk mengambil keputusan secara objektif dan turunnya tingkat produktivitas nya.
Bagaimana Mengurangi Kecemasan dalam Hubungan?
Meskipun attachment style itu terbentuk dari kita di masa kanak-kanak, tetapi pola tersebut bukanlah sesuatu yang menetap dalam diri kita atau dalam artian pola itu juga bias berubah sesuai dengan lingkungan yang kita tempati. Kita dapat mengenali terlebih dahulu pola kelekatan apa yang kita miliki, dengan kita memahami sumber kecemasan yang muncul dari diri kita maka kita dapat lebih mudah untuk mengembangkan strategi untuk mengelola emosi dan pikiran negatif yang mengganggu kita.
Komunikasi yang terbuka, kemampuan untuk menerima ketidakpastian, dan mengurangi mencari validasi di media sosial maupun kepada orang lain juga dapat membantu hubungan kita menjadi lebih sehat. Kita juga perlu belajar untuk membedakan antara fakta dan hoax agar kita tidak mudah terjerumus dalam overthinking yang berlebihan.
Individu yang mengalami kecemasan interpersonal secara intens dan sampai mengganggu kepada aktivitas keseharian nya sangat disarankan untuk datang dan meminta bantuan kepada professional. Beberapa pendekatan psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Emotionally Focused Therapy (EFT), dan terapi berbasis attachment sudah terbukti dapat membantu individu dalam mengembangkan rasa aman dalam menjalin hubungan. Spengler et al. (2024) menemukan bahwasanya EFT sangat efektif dalam meningkatkan keamanan emosional dan kualitas hubungan interpersonal.
Penutup
Kecemasan dalam hubungan interpersonal merupakan salah satu fenomena yang semakin sering kita temui pada saat ini terutama pada dewasa muda di era digital. Salah satu factor yang sangat berperan penting dalam munculnya kecemasan tersebut adalah attachment style yang memang sudah terbentuk dari sejak kita kanak-kanak. Individu dengan anxious attachment maupun dengan avoidant attachment cenderung jauh lebih rentan mengalami kecemasan interpersonal dibandingkan dengan individu dengan secure attachment. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, berbagai fenomena seperti ghosting, breadcrumbing, dan FoMo dapat memperkuat tingkat kecemasan dalam hubungan.
Pada akhirnya, tidak semua kecemasan dalam hubungan itu berasal dari perilaku pasangan atau lingkungan sekitar. Mungkin sebagian besar nya adalah perspektif individu dalam menilai dirinya dan orang lain yang terbentuk dari pengalaman hubungan sebelumnya. Dengan memahami attachment style yang dimiliki, individu dapat membangun kesadaran diri yang jauh lebih baik, mengembangkan regulasi emosi dengan sehat, serta menciptakan hubungan interpersonal yang lebih baik, aman, adaptif dan bermakna di era digital ini.
