Oleh Jenifer Mega Pratama, mahasiswa Akademi Teknik Tirta Wiyata Prodi Teknik Lingkungan
Revolusi digital sering dianggap sebagai solusi keberlanjutan, revolusi digital menimbulkan ancaman baru bagi lingkungan yang semakin mendesak. Dua masalah besar, peningkatan volume limbah elektronik (E-waste) dan meningkatnya jejak karbon digital menunjukkan sisi buruknya. E-waste mengandung logam berat beracun yang mencemari tanah dan air saat dibuang. Bahkan, infrastruktur digital seperti pusat data hingga jaringan 5G mengonsumsi banyak energi, yang berkontribusi langsung pada emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa dampak karbon tersembunyi kenyamanan digital kita sebanding dengan industri berat. Mengabaikan dampak limbah elektronik yang cepat berarti kita mengorbankan masa depan Bumi untuk inovasi sementara.
Limbah E-waste atau sampah elektronik, adalah bentuk paling jelas dari kegagalan industri digital. Limbah elektronik (e-waste) merupakan salah satu aliran limbah padat yang pertumbuhannya paling cepat di dunia. Kurang dari seperempat e-waste yang dihasilkan secara global pada tahun 2022 diketahui didaur ulang secara formal. Namun, aliran e-waste mengandung sumber daya berharga dan terbatas yang dapat digunakan kembai jika didaur ulang dengan tepat. Dengan demikian, e-waste telah menjadi aliran pendapatan penting bagi individu dan beberapa komunitas. Masyarakat yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs), khususnya anak-anak, menghadapi risiko paling signifikan dari e-waste.
Laporan tahunan Global E-Waste Monitor 2020, yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), baru-baru ini, menyebut bahwa jumlah sampah elektronik pada tahun 2019 lalu mencapai 53 juta ton. PBB memprediksi jumlah sampah elektronik akan mencapai 74 juta ton pada tahun 2030, dan melonjak lagi menjadi 120 juta ton pada tahun 2050. negara-negara di benua Asia menyumbang sampah elektronik paling banyak dengan jumlah sekitar 25 juta ton. Menyusul kemudian Amerika yang menyumbang sampah elektronik sebanyak 13 juta ton serta Eropa yang menyumbang 12 juta ton. Adapun gabungan sampah elektronik yang dihasilkan di kawasan Afrika dan Oceania tercatat sekitar 3 juta ton. Perangkat yang dibuang ini dapat menjadi ancaman bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak didaur ulang dengan benar.
E-waste dianggap sebagai limbah berbahaya karena mengandung bahan beracun dan dapat menghasilkan bahan kimia beracun jika didaur ulang secara tidak tepat. Banyak dari bahan beracun ini diketahui atau diduga membahayakan kesehatan manusia. Volume perangkat TIK yang dibuang terus meningkat secara eksponensial setiap tahun. Sekitar 2 juta ton karbon dioksida dihasilkan oleh aktivitas TIK. Jika dibuang, bahan beracun seperti timbal dan merkuri membahayakan tanah dan sumber air. Namun, material sisa limbah ini juga mengandung logam mulia yang berharga. Daur ulang limbah elektronik yang tidak memadai merupakan ancaman bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Penelitian telah mengungkap beberapa dampak kesehatan buruk yang terkait dengan aktivitas daur ulang limbah elektronik yang tidak bertanggung jawab. Anak-anak dan perempuan hamil sangat rentan terhadap dampak polutan berbahaya dari kegiatan daur ulang limbah elektronik. Anak-anak sering terlibat dalam memungut dan mengumpulkan sampah, membakar limbah elektronik yang dibuang, dan membongkar barang secara manual. Di beberapa negara, anak-anak dapat menjadi sumber tenaga kerja murah dan tangan kecil mereka memberi mereka keuntungan dalam membongkar barang terkecil. Kegiatan ini secara langsung membuat anak-anak terpapar cedera dan tingkat zat berbahaya yang tinggi. Bekerja sebagai pemulung sampah adalah pekerjaan berbahaya dan dianggap sebagai salah satu bentuk pekerja anak terburuk oleh ILO.
Anak-anak dan wanita hamil berisiko tinggi terpapar zat berbahaya yang dilepaskan melalui kegiatan daur ulang limbah elektronik karena kerentanan unik mereka. Anak-anak memiliki paparan yang berbeda terhadap kegiatan daur ulang limbah elektronik dibandingkan orang dewasa. Kegiatan daur ulang limbah elektronik melepaskan bahan kimia beracun yang dapat menembus plasenta dan dapat mencemari ASI, misalnya merkuri. Janin dan anak kecil sangat sensitif terhadap banyak polutan yang dilepaskan melalui daur ulang limbah elektronik karena tubuh mereka yang sedang berkembang pesat. Limbah elektronik mengandung beberapa neurotoksikan yang diketahui, dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pusat selama kehamilan, masa bayi, masa kanak-kanak, dan masa remaja. Perubahan pada sistem perkembangan anak dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki dan memengaruhi mereka seumur hidup.
Revolusi lingkungan sering kali dipuji sebagai solusi namun sisi gelapnya adalah peningkatan E-waste dan jejak karbon digital. Mekipun inovasi seperti perangkat loT bertujuan mengurangi emisi pembuangan elektronik yang cepat menghasilkan jutaan limbah yang berbahaya. Jejak karbon digital berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Tanpa Tindakan kolektif, revolusi ini justru memperburuk krisis lingkungan karena konsumerisme digital mendorong siklus produksi yang tak berkelanjutan. Untuk mengatasi ini, kita harus memproiritaskan strategi seperti mengurangi limbah E-waste. Kita bisa memastikan bahwa teknologi benar- benar menjadi alat untuk berkelanjutan, bukan ancaman baru bagi bumi.
