Herniated Nucleus Pulposus dalam Sistem Muskuloskeletal

oleh
oleh

Oleh Aliya Mumtaz Sakina, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Binawan

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) merupakan kondisi ketika inti diskus intervertebralis mengalami penonjolan keluar melalui annulus fibrosus sehingga menekan saraf tulang belakang, yang dapat menyebabkan nyeri punggung bawah serta gangguan fungsi tubuh (Rusmayanti & Kurniawan, 2023). Risiko terjadinya HNP berkaitan dengan karakteristik individu, meliputi usia, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, dan jenis kelamin (Howay & Larasati, 2022).

Penatalaksanaan fisioterapi yang mengombinasikan modalitas infrared, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), serta latihan inti (core exercise) terbukti mampu menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien HNP (Ferlina Fidya Atmaja et al., 2023). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji faktor risiko terjadinya HNP serta efektivitas intervensi fisioterapi berdasarkan analisis kasus dan telaah literatur.

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) merupakan gangguan muskuloskeletal yang ditandai dengan penonjolan nukleus pulposus melalui annulus fibrosus sehingga menyebabkan penekanan pada struktur saraf di kanalis vertebralis(Liza Berlina & Ichwanuddin Ichwanuddin, 2024). Kondisi ini umumnya menimbulkan gejala berupa nyeri punggung bawah yang menjalar ke ekstremitas bawah, disertai kelemahan otot maupun gangguan sensorik sesuai area saraf yang terkompresi (Rusmayanti & Kurniawan, 2023).

Prevalensi HNP di negara berkembang dilaporkan mencapai sekitar 15–20% pada populasi dewasa (Howay & Larasati, 2022).

Faktor Risiko HNP

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kejadian hernia nucleus pulposus dipengaruhi oleh faktor individu dan gaya hidup. Usia menjadi salah satu faktor utama karena proses degeneratif pada diskus intervertebralis meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada kelompok usia produktif hingga lanjut (Howay & Larasati, 2022). Selain itu, perbedaan jenis kelamin juga berperan, di mana perempuan dilaporkan memiliki risiko lebih tinggi yang berkaitan dengan perubahan hormonal setelah menopause (Howay & Larasati, 2022).

Faktor lain yang turut meningkatkan risiko HNP adalah indeks massa tubuh yang berlebih, karena beban mekanis tambahan pada tulang belakang dapat mempercepat kerusakan diskus (Yulia Laura Howay & Larasati, 2022). Kebiasaan merokok juga dikaitkan dengan peningkatan kejadian HNP akibat terganggunya suplai darah serta proses metabolisme pada jaringan diskus intervertebralis (Howay & Larasati, 2022).

Kasus Manajemen Fisioterapi pada HNP

Dalam laporan kasus di RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta, seorang pasien 62 tahun dengan LBP akibat HNP L5-S1 mendapat manajemen fisioterapi berupa infrared (IR), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan latihan inti (core exercise). Setelah intervensi mingguan, terjadi penurunan spasme otot, pengurangan nyeri, serta peningkatan rentang gerak dan aktivitas fungsional (Ferlina Fidya Atmaja et al., 2023

Manajemen non-operatif, khususnya fisioterapi, merupakan pilihan utama pada kasus Hernia Nucleus Pulposus (HNP) dengan derajat gejala ringan hingga sedang. Penerapan kombinasi modalitas fisioterapi terbukti efektif dalam menurunkan nyeri akut maupun kronis melalui penggunaan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) yang bekerja dengan mekanisme modulasi saraf (Ferlina Fidya Atmaja et al., 2023).

Selain itu, latihan inti (core exercise) berperan dalam meningkatkan stabilitas otot dan fleksibilitas punggung sehingga dapat mendukung fungsi tulang belakang secara optimal (Ferlina Fidya Atmaja et al., 2023). Pemahaman terhadap faktor risiko HNP juga memungkinkan dilakukannya intervensi preventif sejak dini, seperti pengendalian berat badan, edukasi postur kerja yang ergonomis, serta upaya penghentian kebiasaan merokok.

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) merupakan kondisi klinis kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti usia, indeks massa tubuh, dan kebiasaan hidup, yang berperan dalam terjadinya serta tingkat keparahan gejala (Howay & Larasati, 2022). Pendekatan fisioterapi multimodal, termasuk penggunaan TENS, infrared, dan latihan inti, terbukti efektif dalam menurunkan nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien HNP (Atmaja, Herawati & Kuwadi, 2023). Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan desain metodologis yang lebih kuat untuk memperkuat evidensi efektivitas manajemen non-operatif pada HNP.