Janji yang Tak Tuntas: Gempita HUT Depok Diwarnai Protes Warga Cipayung

oleh
oleh

DEPOK – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Depok yang seharusnya menjadi momentum refleksi pembangunan justru diwarnai protes warga di kawasan Cipayung.

Warga Kampung Benda Barat turun ke jalan menyuarakan keresahan terhadap persoalan sampah, banjir, dan kerusakan lingkungan yang dinilai tak kunjung mendapat penanganan serius dari pemerintah kota.

Aksi berlangsung di kawasan Jembatan Jago, jalur penghubung utama antara Pasir Putih dan Cipayung, Sabtu (09/05/2026)

Warga memadati akses jalan sambil menyampaikan tuntutan agar Pemerintah Kota Depok segera mengambil langkah nyata terkait dampak lingkungan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cipayung.

Demonstrasi itu dipicu kondisi lingkungan yang kian memburuk, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Depok.

Longsoran sampah dari area TPA disebut kerap memicu luapan air dan menyebabkan akses warga sulit dilintasi.

Dalam unggahan akun media sosial “Info Depok” yang ikut merekam aksi tersebut, warga menyebut persoalan banjir dan sampah telah menjadi keresahan berkepanjangan.

“Unjuk rasa massa di Jembatan Jago akses jalan Kampung Benda Barat Cipayung–Pasir Putih terkait banjir dan sampah yang sudah sangat meresahkan apalagi di waktu hujan turun,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu juga menyinggung janji-janji para pemangku kebijakan saat masa kampanye yang hingga kini dinilai belum terealisasi, terutama terkait tata kelola sampah dan pembenahan sistem drainase kota.

“Mudah-mudah aksi demo hari ini dilihat dan mendapatkan perhatian lebih dari semua pejabat pemangku kebijakan di Kota Depok,” tulis akun itu lagi.

Ketua RW 06 Kampung Benda Barat, Ade Mukri, mengatakan kondisi Kali Pesanggrahan saat ini sangat memprihatinkan.

Menurut dia, sungai yang dulu menjadi sumber aktivitas warga kini berubah menjadi aliran air penuh sampah domestik.

“Dulu air Kali Pesanggrahan jernih, bisa digunakan untuk aktivitas warga dan banyak ikan hidup di sana. Sekarang jangankan ikan, ikan sapu-sapu saja sudah tidak ada. Yang terlihat hanya sampah plastik dan popok bayi,” ujarnya.

Ade menilai polusi di lingkungan sekitar TPA Cipayung semakin tidak terkendali. Ia menyebut kondisi itu tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga mulai mengancam kualitas hidup masyarakat di sekitar Bantaran Kali.

Menurutnya, aksi warga bukan sekadar bentuk pelampiasan emosi, melainkan peringatan agar persoalan infrastruktur dan lingkungan tidak terus diabaikan seperti yang terjadi di sejumlah titik lain di Depok.

“Jangan sampai wilayah kami mengalami hal yang sama seperti akses Jembatan Mawar di Bulak Wadas yang hingga kini tidak kunjung dapat dilintasi. Warga ingin ada tindakan nyata, bukan sekadar janji,” tandasnya.

Kecewaan warga terhadap lambannya penanganan permasalahan lingkungan disebut telah mencapai titik serius.

Sebagai bentuk tekanan moral kepada pemerintah daerah, para Ketua RT dan RW di wilayah tersebut menyatakan siap menyerahkan jabatan jika aspirasi masyarakat terus diabaikan.**