DEPOKPOS. – Permasalahan umum yang sering terjadi di Perumda Air Minum adalah tingkat kehilangan air baik fisik maupun non fisik. Tingkat kehilangan air yang cukup tinggi berdampak signifikan terhadap kapasitas Perumda Air Minum dalam penyediaan air bersih bagi pelanggan.
Hal tersebut menjadi acuan saya dalam pembuatan artikel ini yang tentunya Perumda Air Minum akan selalu mengalami kerugian dari tahun ke tahun jika tidak segera ditangani.
Disini saya akan mengingatkan betapa pentingnya pemahaman terkait kehilangan air baik fisik maupun non fisik. Perlu adanya sosialisasi bagi karyawan maupun masyarakat terkait kehilangan air agar saling bahu membahu dalam meminimalisir adanya kehilangan air.
NRW kependekan dari Non Revenue Water atau disebut juga dengan ATR (Air Tak Berekening) adalah perbedaan jumlah air yang masuk ke dalam sistem distribusi dengan air yang tercetak dalam rekening.
NRW merupakan jumlah dari air yang dikonsumsi tak berekening dan kehilangan air. Konsumsi tak berekening dibagi menjadi dua yaitu konsumsi tak bermeter tak berekening dan konsumi bermeter tak berekening. Sedangkan kehilangan air terbagi menjadi dua yaitu kehilangan air fisik dan kehilangan air non fisik.
Permasalahan kehilangan air biasanya disebabkan oleh kehilangan air fisik adalah kebocoran pipa dan luapan dari DMA (District Meter Area). Sementara untuk kehilangan air non fisik adalah kebocoran meter air, kesalahan penanganan data, dan ketidakakuratan meter air.
Dengan adanya edukasi terkait pemahaman kehilangan air semua komponen baik pelanggan maupun dari pihak Perumda juga tidak mengalami kerugian dikarenakan kehilangan air. Adapun permasalahan dari internal Perumda terkait kehilangan air, contohnya ketika ada sebuah kebocoran kecil dan itu tidak dilaporkan oleh pelanggan karena tidak terlalu mempengaruhi pendistribusian air, namun dari pihak Perumda juga memiliki tingkat urgensi terkait penanganan kebocoran air.
Dari beberapa yang saya temui itu jika ada kebocoran kecil itu tidak langsung ditangani karena tingkat urgensinya rendah, jadi jika ada kebocoran yang besar dan itu mengurangi pendistribusian air maka baru ditangani.
Hal tersebut yang menjadi pr bagi Perumda terkait tingkat urgensi penanganan kehilangan air. Kebocoran kecil yang ditangani namun di nomor duakan akan menjadi momok tersendiri bagi Perumda yang tentunya itu berpengaruh pada kehilangan air dan sudah jelas Perumda mengalami kerugian akibat hal tersebut.
Tingkat kehilangan air yang relatif tinggi pada sistem perpipaan Perumda sesungguhnya merupakan cerminan dari pengelolaan yang tidak efisien.
Sebaliknya keberhasilan penurunan tingkat NRW menjadi indikasi keberhasilan penyelenggaraan pelayanan air minum oleh Perumda. NRW menjadi faktor kunci bagi kinerja Perumda karena keberhasilan penurunan NRW mampu mengungkit semua prestasi pelayanan Perumda secara efektif.
Kebanyakan Perumda Air Minum memiliki tingkat kehilangan air diatas target nasional yaitu 25% hal tersebut menjadi pr tersendiri bagi Perumda Air Minum.
Saya beberapa mencantumkan atas dasar infromasi dari kakak tingkat serta mencari sumber referensi dari beberapa jurnal kehilangan air. Jadi kesimpulannya adalah jika pemahaman terkait kehilangan air tidak disosialisasikan hal tersebut akan berdampak bagi kedua belah pihak.
Dengan adanya sosialisasi maka akan ada kegiatan selanjutnya yaitu penanganan kehilangan air. Penanganan pun juga dibagi menjadi dua yaitu penanganan kehilangan air fisik dan penanganan kehilangan air non fisik. Tentunya untuk mendapatkan kehilangan air perlu adanya DMA (District Meter Area) agar kehilangan air dapat ditemukan berapa persennya dan tingkat keakuratannya juga tinggi dari pada area yang tanpa ada DMA.
Oleh : Lutfiyadi
Mahasiswa Akademi Teknik Tirta Wiyata
