Kemacetan Parah di Ciputat, Mahasiswa dan Warga Setiap Hari Telat

oleh
oleh

DEPOKPOS – Kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, kini menjadi titik rawan kemacetan parah akibat dikelilingi dua kampus besar Universitas Pamulang (UNPAM 1 dan UNPAM 2), dengan total lebih dari 25.000 mahasiswa aktif setiap hari. Aktivitas rutinitas kuliah pagi dan sore, ditambah volume kendaraan pribadi warga menuju Jakarta, BSD, atau pusat perbelanjaan, membuat Jalan Ciputat Raya, Jalan Puspiptek, dan putaran Komplek UI Ciputat tersendat total pada jam sibuk. Fenomena ini bukan hal baru; sudah bertahun-tahun warga dan mahasiswa mengeluh soal waktu tempuh yang membengkak dari 5-10 menit menjadi hingga 1 jam, memicu keterlambatan kuliah, absensi, dan bahkan menghambat layanan darurat seperti ambulans.

Latar Belakang dan Penyebab Kronik Kemacetan

Ciputat sebagai pusat pendidikan tinggi di Tangsel memang strategis, tapi infrastruktur jalan yang belum memadai tak sanggup menampung lonjakan kendaraan. UNPAM dengan dua kampus utama menjadi “biang kerok” utama karena:

Volume Mahasiswa Besar: Saat PKKMB atau awal semester seperti 2025/2026, ribuan motor dan mobil memadati akses masuk kampus, sering kali parkir sembarangan di bahu jalan.

Jalur Sempit dan Titik Rawan: Putaran Komplek UI Ciputat sudah macet bertahun-tahun karena pengendara dari arah Pondok Cabe sering putar balik, memperpanjang antrean hingga Ciputat Raya.

Gangguan Eksternal: Proyek galian PAM di lima titik Jalan Ciputat Raya (Agustus 2025) serta uji coba lampu merah baru (Oktober 2025) dengan durasi merah terlalu panjang, membuat arus kendaraan terhenti total.

Jam Sibuk Gabungan: Pagi hari (07.00-09.00 WIB), mahasiswa berlomba masuk kelas bersamaan pekerja ke Jakarta; sore hari (16.00-18.00 WIB), sebaliknya.

Data tidak resmi dari warga menunjukan kemacetan ini naik 30-50% sejak pandemi, seiring kembalinya aktivitas tatap muka penuh di kampus.

Dampak Serius bagi Mahasiswa UNPAM dan Komunitas Lokal

Mahasiswa UNPAM paling dirugikan, terutama yang tinggal di Bogor, Depok, atau Ciputat Timur. Perjalanan dari Puspiptek ke gerbang UNPAM yang biasa 5 menit kini bisa 40 menit, seperti keluhan Niar di media sosial. Akibatnya:

Keterlambatan Kuliah: Banyak yang absen atau terlambat hadir, berisiko nilai rendah, terutama mata kuliah pagi seperti Teknik Gambar Teknik atau Praktikum SolidWorks.

Stres dan Produktivitas Turun: Mahasiswa engineering seperti di jurusan Teknik Industri harus bangun lebih pagi, tapi tetap telat, memengaruhi konsentrasi belajar.

Warga Sekitar: Anak sekolah telat, pekerja kehilangan waktu produktif, dan ambulans sering terjebak bahkan pernah demo ratusan mahasiswa di Flyover Ciputat lupuhkan lalu lintas (2021).

Ekonomi Lokal: Angkot dan ojek online sepi karena pengendara pilih motoran ati-ati macet, sementara warung makan dekat kampus kehilanggan pelanggan jam sibuk.

Keluhan di Instagram dan TikTok menumpuk, dari “alternatif Flyover buat anak kampus” hingga “semoga urusan sampah Tangsel kelar biar ga tambah macet”.

Upaya Penanganan dari Pemerintah dan Polisi

Polres Tangsel telah lakukan pengaturan khusus di UNPAM 2, termasuk petugas keliling dan pengalihan rute sementara saat proyek galian. Namun, warga nilai solusi ini kurang permanen:

Pengaturan Lalu Lintas: Tambah personel polisi di titik rawan seperti Flyover Ciputat dan gerbang UNPAM saat jam sibuk.

Alternatif Rute: Lewat belakang kampus atau Flyover Ciputat untuk hindari pusat macet, meski sering overload juga.

Keluhan Infrastruktur: Warga desak Pemda Tangsel perluas Jalan Ciputat Raya, bangun underpass, atau shuttle bus kampus ke stasiun.

Pemerintah provinsi janji evaluasi uji coba lampu merah berdasarkan masukan warga.

Rekomendasi Jangka Panjang dan Harapan Warga

Untuk atasi akar masalah, diperlukan langkah komprehensif:

Transportasi Massal: Kerjasama UNPAM dengan TransTangsel atau shuttle gratis dari stasiun Pondok Ranji ke kampus.

Pengelolaan Parkir Kampus: Bangun gedung parkir bertingkat di UNPAM 1 dan 2 untuk kurangi parkir liar di jalan raya.

Smart Traffic System: Pasang sensor AI di lampu merah Ciputat seperti di Jakarta, optimalkan durasi hijau berdasarkan volume kendaraan real-time.

Kampanye Mahasiswa: Dorong car-free day kampus atau bagi jadwal masuk bergilir untuk tebar beban lalu lintas.

Warga Ciputat berharap 2026 jadi titik balik dengan infrastruktur baru, agar kemacetan tak lagi jadi “musuh bersama” mahasiswa UNPAM dan masyarakat. Tanpa intervensi serius, masalah ini berpotensi tambah parah seiring bertambahnya pendaftar baru UNPAM.

Dendi Afandi Hasta