Kontroversi Kemiripan di Media Sosial: Membaca Kasus Shegan melalui Interaksi Simbolik dan Manajemen Kesan

oleh
oleh

DEPOKPOS – Di tengah perkembangan media sosial saat ini, fenomena kemiripan fisik dengan publik figur tidak lagi dipandang sebagai kebetulan semata. Kemiripan dengan publik figur kerap menjadi titik awal lahirnya popularitas baru di media sosial, tak jarang pengguna yang mendadak viral karena dianggap memiliki wajah, gaya, atau sekedar ekspresi yang menyerupai selebritas terkenal. Mulanya, sebutan “mirip artis” muncul sebagai pujian spontan dari warganet. Namun, dalam ruang digital yang sangat bergantung pada atensi, label tersebut dapat berkembang manjadi identitas yang terus menerus ditampilkan dan diperkuat melalui berbagai konten.

Fenomena ini terlihat dalam sorotan terhadap selebgram Shella Ganiswara atau yang lebih dikenal sebagai Shegan, yang kerap dibandingkan dengan Lisa dari Blackpink. Pada awalnya, kemiripan tersebut hanya menjadi bahan percakapan ringan di kolom komentar. Namun seiring waktu, perhatian publik mulai mengarah lebih serius pada kesamaan wajah dan gaya riasannya dengan idol asal Thailand tersebut, terutama sejak tahun 2021 ketika potongan video dan unggahannya banyak beredar ulang di berbagai platform. Meski demikian, dalam beberapa kesempatan melalui akun media sosialnya, Shegan sempat menegaskan bahwa ia tidak ingin dikenal semata-mata karena dianggap mirip dengan Lisa dan berharap dapat dikenal sebagai dirinya sendiri.

Soroton publik semakin meluas ketika Shegan hadir dan bertemu dengan sang idola dalam Fanmeet Lisa bertajub  “LISA Fan Meetup in Asia 2024” di Jakarta pada Jumat, 15 November 2024 yang berlokasi di Beach City International Stadium, Ancol. Momen tersebut viral di media sosial dan membuat persepsi public mengenai kemiripan keduanya. Sejak saat itu nama Shegan semakin sering muncul dalam pemberitaan hiburan dan konten viral yanng mengaitkannya dengan figur anggota Blackpink tersebut. Label “mirip lisa’’ pun semakin melekat pada dirinya dan menjadi bagian dari citra yang dikenal oleh public.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat digital membentuk dan mamaknai identitas melalui interaksi sehari-hari di media sosial. Dalam perspektif Teori Interaksi Simbolik, realitas sosial sesungguhnya dibangun dari proses pertukaran makna antarindividu. Makna tidak hadir secara alamiah, melainkan lahir dari interaksi dan penggunaan simbol yang dipahami bersama. Oleh karena itu, apa yang dianggap sebagai “kemiripan” bukan sekedar fakta visual saja, melainkan hasil dari interpretasi bersama yang kemudian disepakati dan direproduksi dalam ruang publik. Sebutan mirip dengan Lisa yang terus menerus muncul di kolom komentar, unggahan ulang, hingga pemberitaan media berfungsi sebagai simbol yang lambat laun membentuk identitas sosial. Pada tahap awal, simbol mungkin hanya bersifat deskriptif dan tidak dimasukkan sebagai lebel permanen. Namun, karena terus diulang dan diperkuat dalam berbagai interaksi digital, maknanya menjadi semakin mengendap dan melekat. Perlahan, simbol itu tidak lagi sekedar penilaian sementara, melainkan menjadi bagian dari realitas sosial yang memengaruhi cara publik memandang individu tersebut, sekaligus memengaruhi bagaimana individu memahami dan menempatkan dirinya dihadapan audiens.

Selain malalui interaksi simbolik fenomena ini juga dipahami menggunakan teori manajemen Kesan yang dikemukakan oleh Erving Goffaman. Teori ini melihat kehidupan sosial sebagai sebuah panggung, di mana individu berperan sebagai actor yang terus menerus berusaha menampilkan citra tertentu di depan khalayak ramai. Dalam konteks media sosial, ruang digital menjadi “panggung depan” tempat seseorang mengatur bagaimana dirinya ingin dipersepsikan. Pilihan gaya berpakaian, riasan,, ekspresi, hingga jenis konten yang diunggah bukanlah sesuatu yang sepenuhnya netral, melainkan bagian dari proses pembentukan kesan.

Peristiwa yang melibatkan Shegan memperlihatkan bahwa kemiripan di media sosial tidak hanya berkaitan dengan kesamaan penampilan, tetapi juga menyangkut proses pembentukan makna oleh publik. Julukan “mirip Lisa” dari Blackpink menjadi identitas yang melekat karena terus dibicarakan, dibagikan, dan ditegaskan dalam berbagai interaksi daring. Di sisi lain, media sosial menghadirkan ruang bagi setiap individu untuk menata citra dirinya di hadapan khalayak. Dari dinamika tersebut terlihat bahwa identitas digital terbentuk melalui pertemuan antara penafsiran kolektif dan cara seseorang menampilkan dirinya, yang pada akhirnya dapat memunculkan dukungan sekaligus kritik dari masyarakat. (Naila Putri Cahyani)