Oleh: Irvan Dedy (Guru Matematika SMA Bakti Mulya 400 Jakarta, Juara OGN Matematika 2018, dan Penerima Satyalancana Pendidikan 2019)
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 baru saja dirilis, dan bagi mereka yang peduli pada masa depan bangsa, data tersebut bukan sekadar deretan angka statistik. Bagi saya, seorang guru matematika yang setiap hari berdiri di depan papan tulis menyaksikan kening siswa berkerut menghadapi soal kalkulus atau statistika, angka-angka hasil TKA ini adalah refleksi jujur dari kondisi kognitif anak-anak kita.
Dengan rata-rata nasional matematika yang masih tertahan di angka 36,10, kita dipaksa untuk bertanya: Di manakah posisi kita dalam peta persaingan global? Dan lebih penting lagi, sejauh mana efektivitas program ambisius pemerintah seperti “Sekolah Rakyat” dan “Sekolah Garuda” dalam menjawab tantangan ini menuju Indonesia Emas 2045?
Potret Buram Numerasi: Antara Stigma dan Realita
Data TKA 2025 menunjukkan disparitas yang sangat tajam. Ketika kita membedah hasil per wilayah, terlihat jelas bahwa pendidikan kita masih bersifat “Jawa-sentris”. Daerah Istimewa Yogyakarta mungkin boleh berbangga dengan skor 43,09, namun bagaimana dengan rekan-rekan kita di daerah tertinggal yang skornya bahkan menyentuh angka di bawah 30?
Sebagai guru matematika, saya melihat masalah ini bukan sekadar masalah “pintar atau tidak”. Masalah utamanya adalah krisis numerasi dasar. Numerasi bukan hanya kemampuan berhitung cepat, melainkan kemampuan mengaplikasikan konsep angka dan simbol ke dalam situasi kehidupan nyata. Rendahnya skor TKA menunjukkan bahwa siswa kita masih terjebak pada level lower-order thinking skills (LOTS). Mereka hafal rumus luas lingkaran, tetapi gagap ketika diminta menganalisis bagaimana perubahan jari-jari memengaruhi efisiensi ruang dalam masalah logistik.
Ketakutan terhadap matematika atau yang sering disebut math anxiety masih menjadi hantu yang bergentayangan di ruang-ruang kelas. Hal ini diperparah dengan kurikulum yang sering kali terlalu padat materi namun tipis dalam pendalaman esensi. Akibatnya, guru dikejar target tayang materi, dan siswa sekadar menjadi “mesin fotokopi” rumus tanpa memahami mengapa rumus itu ada.
Akar Retaknya Fondasi Pendidikan
Mengapa skor TKA kita seolah berjalan di tempat? Ada tiga akar permasalahan yang saya identifikasi dari perspektif lapangan:
Pertama, Kualitas dan Kesejahteraan Guru. Tidak bisa dimungkiri, matematika adalah subjek yang membutuhkan metode pedagogi yang kreatif. Namun, bagaimana guru bisa kreatif jika beban administrasi masih menumpuk dan kesejahteraan belum sepenuhnya menjamin fokus mereka? Banyak guru di daerah harus mencari sampingan untuk bertahan hidup, yang secara langsung mengurangi waktu mereka untuk merancang modul pembelajaran yang interaktif.
Kedua, Ketimpangan Digital dan Fasilitas. TKA 2025 dilakukan secara berbasis komputer (CBT). Bagi siswa di kota besar, ini adalah hal lumrah. Namun, bagi siswa di pelosok yang hanya memegang tetikus setahun sekali saat ujian, hambatan teknis ini sangat memengaruhi performa mental mereka saat mengerjakan soal yang sulit. Matematika membutuhkan konsentrasi tinggi; gangguan teknis sedikit saja bisa membuyarkan alur logika yang sedang dibangun.
Ketiga, Kurangnya Kontekstualisasi. Pembelajaran matematika kita terlalu abstrak. Siswa sering bertanya, “Pak, untuk apa saya belajar trigonometri?” Jika guru tidak mampu menjawab ini dengan contoh nyata dalam arsitektur atau navigasi, maka minat siswa akan mati seketika. Hasil TKA yang rendah adalah bukti bahwa jembatan antara teori di kelas dan aplikasi di dunia nyata masih terputus.
Sekolah Rakyat: Upaya Memutus Rantai Kemiskinan Kognitif
Pemerintah merespons kondisi ini dengan meluncurkan program Sekolah Rakyat. Dari perspektif pendidikan berkeadilan, ini adalah langkah revolusioner. Sekolah Rakyat yang ditujukan untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dengan sistem asrama adalah upaya untuk memberikan “lingkungan steril” dari hambatan ekonomi.
Sebagai guru, saya melihat potensi besar di sini. Sering kali, siswa cerdas harus putus sekolah atau tidak konsentrasi belajar karena harus membantu orang tua bekerja. Dengan Sekolah Rakyat, negara hadir mengambil alih beban tersebut. Namun, tantangan besarnya adalah: Apakah kurikulum matematika di Sekolah Rakyat akan dibuat berbeda?
Sekolah Rakyat tidak boleh hanya menjadi tempat “penampungan”. Ia harus menjadi tempat di mana literasi dan numerasi dikejar secara intensif. Dengan rasio guru dan siswa yang lebih ideal di sekolah berasrama, guru matematika memiliki kesempatan untuk melakukan pendekatan remedial teaching yang lebih personal. Kita tidak bisa memberikan dosis obat yang sama untuk pasien dengan penyakit berbeda. Sekolah Rakyat harus mampu mendiagnosis kelemahan dasar setiap siswa dan memperbaikinya sebelum mereka didorong ke level akademik yang lebih tinggi.
Sekolah Garuda: Laboratorium Pencetak Elite Intelektual
Di sisi lain, pemerintah menghadirkan Sekolah Garuda. Jika Sekolah Rakyat adalah jaring pengaman, maka Sekolah Garuda adalah ujung tombak. Sekolah ini dirancang untuk mengakomodasi anak-anak dengan bakat istimewa di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Ini adalah jawaban atas kritik bahwa sistem pendidikan kita terlalu meratakan kemampuan (egalitarianisme yang kebablasan). Kita butuh elite intelektual untuk memimpin inovasi teknologi. Di Sekolah Garuda, kurikulum matematika harus melampaui standar nasional. Mereka harus sudah diperkenalkan dengan pemodelan matematika, kalkulus lanjut, hingga algoritma pemrograman sejak dini.
Namun, catatannya adalah jangan sampai Sekolah Garuda menciptakan menara gading. Hasil TKA 2025 yang tinggi dari lulusan Sekolah Garuda nantinya tidak akan berarti banyak bagi bangsa jika tidak ada transfer pengetahuan ke sekolah-sekolah reguler. Sekolah Garuda harus menjadi pusat pengembangan modul pembelajaran yang nantinya bisa didistribusikan ke sekolah-sekolah di pelosok.
Solusi Holistik: Lebih dari Sekadar Membangun Gedung
Untuk memperbaiki hasil TKA di masa depan dan menjemput Generasi Emas 2045, pembangunan fisik “Sekolah Rakyat” dan “Sekolah Garuda” saja tidak cukup. Perlu ada transformasi radikal dalam beberapa aspek:
Pertama, Redesain Kurikulum Numerasi: Kurikulum harus fokus pada penguasaan konsep mendalam (depth over breadth). Lebih baik siswa menguasai sedikit materi namun paham secara akar, daripada tahu banyak hal namun dangkal.
Kedua, pemanfaatan AI dalam Pembelajaran: Guru matematika harus dibekali kemampuan menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk menciptakan pembelajaran adaptif. AI bisa membantu mendeteksi di langkah mana seorang siswa sering melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal aljabar.
Ketiga, matematika yang Menyenangkan (Gasing): Metode seperti Gampang, Asyik, dan Menyenangkan (Gasing) yang digagas Profesor Yohanes Surya harus diintegrasikan secara masif, terutama di Sekolah Rakyat, untuk menghapus trauma siswa terhadap angka.
Keempat, peningkatan Standar Guru: Guru-guru yang ditempatkan di Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda haruslah guru-guru terpilih yang mendapatkan insentif khusus. Mengajar siswa dengan latar belakang ekonomi sulit atau siswa dengan bakat luar biasa membutuhkan keahlian yang berbeda.
Mengubah Angka Menjadi Harapan
Hasil TKA 2025 dengan rata-rata 36,10 adalah sebuah cermin retak yang menunjukkan wajah pendidikan kita hari ini. Namun, cermin yang retak bukan berarti harus dibuang, melainkan harus diperbaiki dengan saksama.
Program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda adalah bentuk ikhtiar pemerintah yang patut diapresiasi, namun efektivitasnya tetap akan bergantung pada manusia-manusia di dalamnya para guru, kepala sekolah, dan orang tua. Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak hanya membutuhkan anak-anak yang bisa menghitung, tetapi anak-anak yang memiliki nalar kritis dan logika yang tajam untuk memecahkan masalah bangsa.
Sebagai guru matematika, saya bermimpi suatu hari nanti saat TKA berikutnya dirilis, kita tidak lagi membicarakan tentang berapa banyak siswa yang gagal, melainkan berapa banyak inovasi yang lahir dari kemampuan logika anak bangsa. Mari kita berhenti menjadikan matematika sebagai momok, dan mulailah menjadikannya sebagai kunci pembuka pintu masa depan. Sebab pada akhirnya, matematika adalah bahasa alam semesta, dan bangsa yang menguasai bahasanya adalah bangsa yang akan menguasai dunia.
Penulis
Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd merupakan Guru SMA BAKTI MULYA 400 Jakarta, Anggota Matematika Nusantara, dan Anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI). Meraih prestasi sebagai pemenang I Mata Pelajaran Matematika dalam Olimpiade Guru Nasional Jenjang Pendidikan Menengah tahun 2018, Pemenang Best Presentation Mata Pelajaran Matematika pada Olimpiade Guru Nasional (OGN) tahun 2017 tingkat Nasional, peserta Applied Teaching Methods dan Strategies in the 21st Century Program (The University of Queensland Australia), Penerima SATYALANCANA PENDIDIKAN 2019, Peraih Guru Award 2022, Peraih Gold Medal LOPI 2022, Penulis buku Antologi pendidikan, buku matematika dan Lembar kerja Matematika (SD,SMP, &SMA), buku panduan AKM (numerasi), meraih juara 2 lomba FILTRASI pada HGN 2023, dan meraih juara cerita inspirastif KGAA pada HGN 2024. Penulis merupakan anggota dari Korean e-Learning Improvement Cooperation (KLIC) kerjasama pemerintah Indonesia dan Korea Selatan dan terpilih menjadi KLIC LEADER Indonesia 2024, dan juara lomba menulis cerita hidupku 2025.
