Menghirup Udara Dzulhijjah: Kesadaran yang Kerap Kita Lewatkan

oleh
oleh

-Nayla Itsnaini Fariha-

Setiap tahun, bulan Dzulhijjah datang seperti tamu agung yang mengetuk pintu kehidupan umat Islam. Namun tidak jarang, kita menyambutnya sambil setengah terjaga—hadir secara fisik, tetapi absen secara ruhani. Kita mengetahui bahwa bulan ini istimewa, mengenal berbagai ritual yang menyertainya, tetapi sering kali lupa merasakan makna yang terkandung di dalamnya.

Di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, beberapa hari menjelang Idul Adha, lapak-lapak hewan kurban mulai berdiri di pinggir jalan. Kambing-kambing berdesakan di kandang bambu, para pedagang sibuk menawarkan harga, sementara warga menawar dengan penuh semangat. Di berbagai masjid, panitia kurban mulai mempersiapkan tempat penampungan hewan. Suasana tersebut begitu hidup dan akrab ditemui setiap tahun. Namun di balik hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar memahami apa yang sedang kita rayakan?

Dzulhijjah bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Ia adalah musim ibadah yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa Dzulhijjah merupakan kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki kualitas hubungannya dengan Allah.

Dalam berbagai kajiannya, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha sering mengingatkan bahwa kesalahan banyak orang adalah menjadikan ibadah sebagai rutinitas administratif. Ibadah dilakukan karena jadwal, bukan karena kesadaran. Akibatnya, ritual memang terlaksana, tetapi ruhnya tidak terasa. Dzulhijjah sejatinya mengajarkan kesadaran bahwa seluruh waktu yang kita miliki adalah titipan Allah, dan setiap kesempatan beramal adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba.

Puncak dari suasana Dzulhijjah terlihat pada pelaksanaan ibadah haji. Jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima. Bagi sebagian besar Muslim yang tidak berangkat ke Makkah, peristiwa tersebut hanya terlihat melalui layar televisi atau gawai. Padahal, di balik pemandangan lautan manusia berpakaian ihram itu tersimpan pelajaran yang sangat mendalam.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa wukuf di Arafah merupakan miniatur hari kiamat. Seluruh manusia berkumpul tanpa membedakan status sosial, jabatan, kekayaan, maupun kebangsaan. Mereka berdiri sama di hadapan Allah SWT dengan pakaian ihram yang sederhana. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus…” (QS. Al-Hajj: 27). Haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, melainkan perjalanan batin untuk melepaskan kesombongan diri dan kembali kepada fitrah sebagai hamba Allah.

Nilai pengorbanan yang diajarkan Dzulhijjah mencapai puncaknya pada ibadah kurban. Setiap tahun, umat Islam menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Namun sesungguhnya, yang ingin disembelih bukan hanya hewan, melainkan ego manusia itu sendiri. Allah SWT menegaskan, “Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37).

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan agung tentang kepatuhan dan pengorbanan. Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintai, beliau menunjukkan kepatuhan yang sempurna. Perintah tersebut bukan karena Allah membutuhkan darah kurban, melainkan untuk menguji tingkat ketakwaan dan kecintaan seorang hamba kepada-Nya. Dalam refleksi yang sering disampaikan Ustaz Hanan Attaki, setiap orang memiliki “Ismail” dalam hidupnya masing-masing. Bisa berupa harta, jabatan, ambisi, gengsi, atau zona nyaman yang begitu dicintai sehingga sulit dilepaskan. Kurban yang sesungguhnya adalah keberanian untuk menempatkan semua itu di bawah ketaatan kepada Allah.

Bagi sebagian besar Muslim yang tidak sedang berhaji, Dzulhijjah tetap menghadirkan peluang besar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar melebur dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim). Keutamaan ini menunjukkan bahwa pintu-pintu kebaikan tidak hanya terbuka bagi mereka yang berada di Tanah Suci, tetapi juga bagi umat Islam yang berada di kampung, kota, dan desa tempat mereka tinggal.

Pada akhirnya, Dzulhijjah mengajarkan bahwa inti dari seluruh ibadah adalah kesadaran. Kesadaran bahwa hidup ini sementara, bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan, dan bahwa tujuan akhir manusia adalah kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebelum gema takbir Idul Adha menghilang dan Dzulhijjah berlalu, ada baiknya setiap kita bertanya kepada diri sendiri: dari seluruh ibadah yang telah dilakukan, adakah yang benar-benar mengubah cara kita memandang hidup?

Jika jawabannya belum, mungkin itulah tantangan terbesar Dzulhijjah tahun ini. Bukan sekadar melaksanakan ritual, melainkan menghadirkan kesadaran yang membuat setiap ibadah memiliki makna dan meninggalkan jejak dalam kehidupan.

*Penulis adalah pemerhati kajian keislaman.