Nyi Ayu Nabillah May Sendy
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Abstrak
Banyak orang dewasa muda saat ini terjebak dalam paradoks yang menyakitkan mereka ingin dicintai, tapi tidak tahan untuk benar-benar dekat. Artikel ini mengkaji pola kelekatan avoidant baik tipe dismissive maupun fearful yang terbentuk sejak masa kecil dan terus berwujud dalam hubungan romantis di era digital. Melalui tinjauan literatur terkini termasuk penelitian dari Indonesia, artikel ini membahas bagaimana pola ini memanifestasikan diri lewat ghosting, ketidaktersediaan emosional, dan penghindaran komitmen, serta dampaknya terhadap kesehatan psikologis. Implikasi klinis dan arah intervensi berbasis kelekatan juga dibahas.
Kata kunci: kelekatan avoidant, insecure attachment, hubungan romantis, dewasa muda, psikologi klinis
1. Pendahuluan
Ada sebuah pola yang belakangan ini semakin mudah dijumpai di kalangan dewasa muda terutama di kota-kota besar. Seseorang bisa sangat menyukai orang lain, tapi begitu hubungan mulai mendalami wilayah yang lebih intim secara emosional, tiba-tiba ada dorongan untuk mundur. Bukan karena tidak sayang. Justru seringkali karena terlalu takut.
Pola ini dalam psikologi dikenal sebagai kelekatan avoidant (avoidant attachment) salah satu bentuk kelekatan tidak aman yang membuat seseorang secara konsisten menjaga jarak dari kedekatan emosional, meski di sisi lain juga mendambanya. Di Indonesia, fenomena ini mulai banyak teridentifikasi, khususnya di kalangan mahasiswa dan dewasa muda perkotaan yang hubungan romantisnya semakin banyak dimediasi oleh platform digital (Kalamsari & Ginanjar, 2022).
Teori kelekatan (attachment theory) pertama kali dirumuskan oleh Bowlby (1969), yang berpendapat bahwa manusia secara biologis terdorong untuk membentuk ikatan emosional dengan pengasuh utamanya sejak bayi. Dari interaksi berulang itulah terbentuk apa yang disebut internal working models peta batin tentang apakah diri ini layak dicintai, dan apakah orang lain bisa dipercaya. Peta ini, yang terbentuk jauh sebelum seseorang bisa mengartikulasikannya, akan terus memengaruhi cara ia berhubungan hingga dewasa. Ainsworth et al. (1978) kemudian mengidentifikasi pola-pola kelekatan awal melalui eksperimen Strange Situation, sementara Hazan dan Shaver (1987) yang pertama kali menarik garisnya langsung ke hubungan romantis orang dewasa. Di Indonesia, Helmi (1999) mengonfirmasi relevansinya pada sampel lokal individu dengan kelekatan aman memiliki konsep diri yang jauh lebih positif dibanding mereka dengan pola kelekatan tidak aman.
Artikel ini ditulis untuk memahami lebih dalam paradoks itu kenapa seseorang bisa sekaligus menginginkan dan menghindari kedekatan dan apa artinya bagi praktik psikologi klinis hari ini.
2. Tinjauan Teoritis
2.1 Akar Teori: Dari Bowlby ke Hubungan Romantis
Bowlby (1969) memulai segalanya dengan satu argumen sederhana tapi radikal manusia tidak bisa tumbuh sehat tanpa ikatan. Bukan sekadar kebutuhan fisik tapi ikatan emosional dengan figur pengasuh yang responsif dan dapat diandalkan. Ketika ikatan itu terganggu atau tidak terbentuk dengan baik, anak mengembangkan strategi adaptasi. Salah satunya adalah dengan belajar tidak bergantung karena bergantung tidak pernah menghasilkan apa yang dibutuhkan.
Ainsworth et al. (1978) kemudian memperlihatkan bagaimana strategi adaptasi itu tampak secara perilaku. Bayi dengan pola avoidant tidak menangis saat ditinggal pengasuhnya dan tidak menunjukkan kegembiraan saat pengasuh kembali. Dari luar tampak mandiri padahal di baliknya ada sistem kelekatan yang aktif tapi ditekan. Hazan dan Shaver (1987) lalu memperluas kerangka ini ke cinta romantis orang dewasa pola yang terbentuk di masa bayi terus berulang dalam cara kita mencintai dan diperlakukan orang lain di usia dewasa.
Bartholomew dan Horowitz (1991) memperinci pola avoidant menjadi dua wajah yang berbeda. Pertama, dismissive-avoidant mandiri, tampak tidak butuh siapa-siapa, dan memandang hubungan intim sebagai sesuatu yang tidak terlalu perlu. Kedua, fearful-avoidant ingin dekat, tapi sangat takut disakiti sehingga terus-menerus menarik diri tepat di saat hubungan mulai menghangatkan. Brennan et al. (1998) mengukur keduanya lewat instrumen ECR, dengan dua dimensi utama tingkat kecemasan akan penolakan dan tingkat penghindaran terhadap kedekatan. Mu et al. (2025) mengonfirmasi dalam studi terbarunya bahwa skor avoidance yang tinggi secara konsisten memprediksi penurunan intimasi dalam hubungan.
3. Wajah-Wajah Kelekatan Avoidant di Era Sekarang
3.1 Ghosting: Ketika Menghilang Terasa Lebih Aman dari Bicara
Ghosting memutus komunikasi secara tiba-tiba dan sepihak sudah jadi fenomena yang begitu umum hingga punya nama sendiri. Tapi dari perspektif psikologi klinis, ini bukan sekadar kebiasaan digital yang buruk. Masitah (2024) menemukan bahwa dalam konteks Indonesia, ghosting sangat dipengaruhi gaya kelekatan avoidant pelakunya tidak memutus komunikasi karena tidak peduli, tapi justru karena terlalu takut menghadapi konfrontasi emosional secara langsung.
Pancani et al. (2022) membandingkan tiga cara orang mengakhiri hubungan di era digital dan menemukan bahwa ghosting meninggalkan luka psikologis paling dalam bagi yang mengalaminya depresi, kecemasan, dan kepercayaan diri yang rontok. Jahrami et al. (2025) dalam systematic review terbarunya memperkuat ini ghosting konsisten berkaitan dengan kelekatan avoidant pada pelakunya. Liu et al. (2025) bahkan memetakan jalurnya secara rinci avoidant attachment memicu ghosting, yang memicu kekecewaan romantis berulang, yang akhirnya bermuara pada gejala depresif.
3.2 Hadir tapi Tidak Benar-Benar Ada
Salah satu hal yang paling membingungkan dari berhubungan dengan seseorang yang avoidant adalah perasaan bahwa mereka ada, tapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Uccula et al. (2023) menjelaskan ini secara neuropsikologis lewat studi eye-tracking individu avoidant secara otomatis mengalihkan perhatian visual mereka dari stimuli yang berkaitan dengan kedekatan emosional. Otak mereka, secara harfiah, sudah terprogram untuk menghindari pemrosesan sinyal intimasi.
Dalam konteks Indonesia, Kalamsari dan Ginanjar (2022) menemukan pada 824 dewasa muda bahwa kelekatan avoidant berpengaruh negatif langsung terhadap kepuasan berpacaran dan bahwa individu avoidant lebih memilih menghindari konflik daripada menyelesaikannya, yang justru perlahan menggerus hubungan dari dalam. Septiani dan Cahyanti (2022) menemukan pola yang sama pada wanita dewasa awal yang menjalani hubungan jarak jauh. Mu et al. (2025) menambahkan lapisan penting penekanan ekspresi emosi adalah jembatan antara avoidant attachment dan penurunan intimasi. Bretaña et al. (2022) dan SeyedEbrahimi & Hojjati Hamedani (2025) mengonfirmasi dampak jangka panjangnya pola konflik withdrawal-demand yang berulang dan kepuasan pernikahan yang rendah.
3.3 Situationship dan Kesepian yang Dipilih Sendiri
Semakin banyak orang dewasa muda yang terjebak dalam situationship hubungan tanpa label yang tidak pernah berkembang menjadi komitmen nyata. Susilaningtyas dan Nurwianti (2022) menemukan bahwa individu dengan kelekatan avoidant cenderung menghindari komitmen formal, terutama dalam hubungan yang menuntut investasi emosional besar. Ironisnya, Mikulincer et al. (2024) menemukan bahwa mereka yang melajang lama karena avoidant attachment justru melaporkan kesejahteraan psikologis yang semakin menurun seiring waktu. Mereka yang paling keras menolak kedekatan adalah mereka yang paling menderita karena ketiadaannya.
4. Di Balik Fasad “Aku Baik-Baik Saja”
4.1 Kuat di Luar, Terkuras di Dalam
Individu avoidant seringkali tampak paling stabil di antara orang-orang sekitarnya. Mereka tidak mudah menangis, tidak gampang terpancing, dan tampak selalu punya kendali atas dirinya. Tapi Uccula et al. (2023) menunjukkan bahwa stabilitas itu ada harganya mereka sangat bergantung pada regulasi emosi intrapersonal menekan perasaan sendiri daripada mencari dukungan dari orang lain. Dalam jangka pendek, strategi ini berhasil. Dalam jangka panjang, ia menguras.
Mu et al. (2025) menunjukkan bahwa suppression emosional yang terus-menerus menciptakan lingkaran setan semakin ditekan, semakin berkurang kedekatan yang bisa dibangun, semakin terkonfirmasi keyakinan lama bahwa hubungan dekat itu memang tidak aman. SeyedEbrahimi dan Hojjati Hamedani (2025) menambahkan bahwa banyak di antaranya juga mengalami alexithymia ringan kesulitan mengenali dan menamai emosi diri sendiri yang membuat proses pemulihan relasional semakin lambat.
4.2 Depresi yang Tidak Kelihatan dan Empati yang Menipis
Meta-analisis Dagan et al. (2022) menemukan bahwa kelekatan tidak aman termasuk avoidant konsisten berkaitan dengan gejala depresi, kecemasan, dan penarikan sosial. Yang berbahaya dari tipe dismissive-avoidant adalah justru karena mereka tampak baik-baik saja, sehingga gangguan yang ada sering tidak terdeteksi secara klinis. Liu et al. (2025) memetakan jalur yang lebih spesifik avoidant attachment → ghosting → kekecewaan romantis berulang → gejala depresif.
Esteves et al. (2022) menambahkan satu lapisan lagi kelekatan avoidant berkorelasi negatif dengan empati afektif. Orang yang terlatih menekan sinyal emosional dirinya sendiri akan kesulitan pula merespons sinyal emosional orang lain. Akibatnya, koneksi yang autentik semakin sulit terbentuk, isolasi sosial semakin dalam, dan keyakinan bahwa “lebih baik sendiri” semakin mengeras. Helmi (1999) dalam penelitiannya di Indonesia mengonfirmasi bahwa pola ini juga berdampak pada konsep diri individu avoidant cenderung memiliki gambaran diri yang lebih negatif dibanding mereka yang memiliki kelekatan aman.
5. Mengapa Pola Ini Semakin Terlihat Sekarang?
Kelekatan avoidant bukan fenomena baru. Yang baru adalah betapa kondisi zaman sekarang begitu kondusif untuk mengekspresikan dan memperparah pola ini.
Aplikasi kencan digital adalah contoh paling nyata. Platform seperti Tinder atau Bumble secara struktural mendorong orang untuk terus mencari opsi lain selalu ada kemungkinan yang lebih baik di swipe berikutnya. Bagi seseorang yang sudah avoidant, ekosistem ini adalah pembenaran yang sangat nyaman hubungan itu memang tidak perlu terlalu dalam, karena selalu bisa diganti.
Tekanan generasi juga berperan. Dewasa muda saat ini menanggung ekspektasi yang tidak ringan produktif, mapan, punya hidup yang menarik untuk ditampilkan semuanya sekaligus. Di Indonesia, tekanan ini diperumit oleh ekspektasi untuk segera menikah di satu sisi, dan sulitnya mencapai stabilitas finansial di sisi lain. Dalam kondisi semacam itu, berinvestasi secara emosional dalam sebuah hubungan terasa seperti risiko yang tidak terjangkau.
Yang agak ironis adalah peran literasi psikologi populer. Konsep seperti “boundaries,” “love bombing,” dan “red flags” punya nilai edukatif yang nyata. Tapi ketika dipahami secara dangkal, konsep-konsep ini bisa dengan mudah jadi tameng bagi perilaku menghindar: “aku cuma lagi jaga diri,” padahal yang sebenarnya terjadi adalah ketakutan terhadap kedekatan yang belum pernah diolah.
6. Apa yang Bisa Dilakukan?
Dari perspektif klinis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, soal asesmen. Pola avoidant terutama tipe dismissive seringkali tidak muncul sebagai keluhan utama. Klien datang dengan keluhan kesepian, hubungan yang tidak pernah berhasil, atau perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Mengintegrasikan asesmen kelekatan sejak awal, misalnya dengan ECR-R (Brennan et al., 1998), bisa membantu terapis melihat dinamika yang lebih dalam.
Untuk intervensi, meta-analisis komprehensif Spengler et al. (2024) terhadap 20 studi menemukan bahwa Emotionally Focused Therapy (EFT) menghasilkan efek medium hingga besar untuk distres relasional menjadikannya salah satu pendekatan dengan bukti paling kuat untuk masalah kelekatan, terutama dalam setting pasangan. Dalam terapi individual, fokusnya adalah menciptakan ruang yang aman bagi klien untuk bereksperimen dengan kedekatan emosional, perlahan-lahan merevisi keyakinan lama bahwa bergantung itu selalu berujung pengabaian.
Mu et al. (2025) secara khusus menekankan pentingnya menargetkan expressive suppression sebagai titik intervensi di situlah rantai dari avoidant attachment ke penurunan intimasi dimulai. Susilaningtyas dan Nurwianti (2022) juga menunjukkan bahwa meningkatkan kapasitas koping diadik pasangan bisa menjadi jalur intervensi yang efektif dan realistis.
Tentu saja, tidak semua skor avoidance yang tinggi perlu dipatologisasi. Ada orang yang memang lebih nyaman dengan kemandirian, dan itu sah. Yang menjadi perhatian klinis adalah ketika pola ini sudah menghasilkan penderitaan nyata bagi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
7. Penutup
Di balik seseorang yang tampak tidak butuh siapa-siapa, seringkali ada seseorang yang sangat butuh tapi sudah lama belajar bahwa membutuhkan itu berbahaya. Itulah paradoks dari kelekatan avoidant menginginkan kedekatan, tapi menghindarinya dengan sekuat tenaga.
Memahami paradoks ini bukan hanya penting secara klinis, tapi juga secara manusiawi. Di era yang secara struktural semakin mendukung jarak emosional, kemampuan kita untuk mengenali dan merespons pola ini dengan tepat bukan dengan menghakimi, tapi dengan memahami apa yang ada di baliknya menjadi semakin relevan. Penelitian lanjutan dalam konteks Indonesia masih sangat dibutuhkan, terutama yang mempertimbangkan faktor budaya lokal, norma gender, dan dinamika keluarga dalam pembentukan pola kelekatan.
Pada akhirnya, teori kelekatan mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana semua orang butuh koneksi. Mereka yang avoidant bukan tidak butuh mereka hanya belum menemukan bahwa dekat itu aman. Dan itu, justru, adalah titik awal dari perubahan.
