Hubungan Attachment Style dengan Anxiety dalam Relasi Interpersonal pada Dewasa di Era Digital

oleh
oleh

Oleh: Cempaka Anggraini Rusli, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Saat ini, hubungan interpersonal merupakan kebutuhan psikologis yang penting bagi setiap individu, khususnya pada masa muda, di mana terjadi perkembangan dalam hal hubungan sosial dan hubungan cinta. Namun, bukan berarti semua orang bisa membangun hubungan dengan orang lain secara fleksibel dan sesuai situasi. Satu hal yang bisa memengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan orang lain adalah cara ikatan emosional yang terbentuk sejak kecil, melalui hubungan dengan orang yang merawat kita. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan attachment style dengan anxiety dalam relasi interpersonal pada dewasa muda di era digital. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dengan menelaah berbagai teori serta hasil penelitian empiris yang berkaitan dengan attachment style dan anxiety.

Hasil kajian menunjukkan bahwa individu dengan insecure attachment, khususnya anxious attachment dan avoidant attachment, cenderung mengalami tingkat kecemasan interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan secure attachment. Kecemasan itu bisa muncul dengan berbagai cara, seperti takut ditolak, khawatir ditinggalkan, sulit mempercayai orang lain, dan cenderung berpikir berlebihan dalam hubungan. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bentuk ikatan yang tidak aman terkait dengan kurangnya dukungan sosial, kesulitan dalam menghadapi ketidakpastian, serta peningkatan gangguan emosional. Di zaman digital saat ini, penggunaan media sosial dan berkomunikasi secara daring justru memperkuat perasaan cemas dalam hubungan antar manusia, terutama melalui fenomena seperti ghosting, fear of missing out (FoMO), serta validasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai attachment style penting dalam proses asesmen dan intervensi psikologis guna membantu individu membangun hubungan interpersonal yang lebih aman, sehat, dan adaptif.

Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan hubungan interpersonal yang baik untuk memperoleh dukungan emosional, rasa aman, serta pemenuhan kebutuhan psikologis. Pada masa dewasa muda, hubungan interpersonal menjadi semakin penting karena individu mulai membangun hubungan romantis yang lebih serius, memperluas jaringan sosial, serta mengembangkan identitas diri. Namun, tidak semua individu mampu menjalin hubungan interpersonal secara adaptif. Sebagian individu mengalami anxiety dalam relasi interpersonal yang ditandai oleh ketakutan akan penolakan, kekhawatiran ditinggalkan, serta kebutuhan berlebihan akan kepastian dalam hubungan. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan yang dijalani maupun kesejahteraan psikologis individu secara keseluruhan.

Fenomena tersebut semakin sering ditemukan pada dewasa muda, terutama di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang membuat interaksi sosial berlangsung hampir tanpa batas. Kehadiran media sosial memang mempermudah individu untuk terhubung dengan orang lain, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, seperti fear of missing out (FoMO), kebutuhan akan validasi sosial, serta kecenderungan overthinking terhadap respons dan perilaku orang lain dalam hubungan (Khattar et al., 2023). Salah satu faktor yang diduga berperan dalam munculnya kecemasan interpersonal adalah attachment style. Melalui Attachment Theory, Bowlby (1969) menjelaskan bahwa pengalaman awal individu dengan figur pengasuh membentuk pola kelekatan yang kemudian berkembang menjadi internal working model, yaitu kerangka kognitif yang memengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri dan orang lain dalam suatu hubungan. Pola tersebut tidak berhenti pada masa kanak-kanak, melainkan terus memengaruhi cara seseorang membangun, mempertahankan, dan merespons hubungan interpersonal hingga dewasa.

Kajian mengenai attachment terus berkembang melalui penelitian Ainsworth et al. (1978) yang mengidentifikasi berbagai pola kelekatan, serta Hazan dan Shaver (1987) yang menunjukkan bahwa pola kelekatan tersebut juga tercermin dalam hubungan romantis pada masa dewasa. Berbagai penelitian selanjutnya menemukan bahwa individu dengan attachment tidak aman cenderung menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dalam hubungan interpersonal dibandingkan individu dengan attachment aman.

Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara attachment style dan anxiety dalam relasi interpersonal pada dewasa muda. Pemahaman mengenai hubungan kedua variabel tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor psikologis yang memengaruhi kualitas hubungan interpersonal di era modern.

Teori ini pertama kali dikemukaka oleh Bowlby (1969) yang mana teori ini menjelaskan bahwa manusia itu memiliki kebutuhan biologis untuk membentuk suatu ikatan emosional dengan seorang figur pengasuh nya, yang mana ikatan tersebut bisa memberikan rasa aman dan perlindungan sehingga individu itu bisa mengeksplorasi lingkungannya secara optimal.

Ainsworth et al. (1978) mengembangkan klasifikasi attachment menjadi secure attachment, anxious attachment dan avoidant attachment. Secure attachment ditandai oleh rasa aman dan kepercayaan terhadap orang lain, anxious attachement ditandai oleh rasa kebutuhan yang tinggi terhadap kedekatan emosional serta ketakutan terhadap penolakan, dan yang terakhir yaitu avoidant attachment yang mana hal ini ditandai oleh kecenderungan menjaga jarak emoisonal dan menghindari ketergantungan dengan orang lain.

Menurut Mikulincer dan Shaver (2016), attachment tidak hanya memengaruhi hubungan antara anak dan pengasuh, tetapi juga memengaruhi hubungan social dan romantis pada masa dewasa. Individu dengan secure attachment umumnya memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik dibandingkan individu dengan insecure attachment.

Anxiety dalam Relasi Interpersonal

Anxiety dalam relasi interpersonal merupakan bentuk kecemasan yang muncul dalam konteks hubungan sosial maupun romantis. Kecemasan ini dapat berupa ketakutan terhadap penolakan, kekhawatiran kehilangan hubungan, kesulitan dalam mempercayai orang lain dan kebutuhan berlebihan terhadap penerimaan sosial.

Dagan et al. (2021) menjelaskan bahwa attachment tidak aman memiliki hubungan yang konsisten dengan berbagai gejala internalizing, seperti anxiety, depresi, dan penarikan sosial. Individu yang memiliki attachment tidak aman cenderung mengalami tingkat distress psikologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan secure attachment.

Relasi Interpersonal pada Era Digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara individu membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal. Komunikasi melalui media sosial memberikan kemudahan dalam menjalin hubungan jarak jauh, tetapi juga dapat menciptakan berbagai tantangan baru.

Khattar et al. (2023) menemukan bahwa attachment insecurity berkaitan dengan berilaku breadcrumbing, yaitu memberikan perhatian secara tidak konsisten kepada pasangan tanpa komitmen yang jelas. Selain itu fenomena ghosting dan FoMo juga dapat meningkatkan kecemasan interpersonal, terutama pada individu yang memiliki attachment anxiety.

Anxious Attachment dan Anxiety Interpersonal

Anxious attachment berkembang ketika figure pengasuh memberikan respon yang tidak konsisten terhadap kebutuhan emosional anak. Akibatnya, individu mengembangkan keyakinan bahwa hubungan interpersonal bersifat tidak pasti dan berpotensi berakhir sewaktu-waktu. Pada masa dewasa nanti nya individu cenderung memiliki kebutuhan yang besar terhadap validasi dan reassurance dari pasangan maupun orang terdekat nya. Mereka sering kali merasa khawatir akan ditinggalkan, sensitif terhadap hal-hal yang merubah perilaku pasangan nya, dan mudah overthinking terhadap hubungan yang sedang ia jalani.

Penelitian yang dilakukan oleh Çarıkçı-Özgül dan Işık (2024) menunjukkan bahwa attachment tidak aman berhubungan secara positif dengan tingkat anxiety. Hubungan tersebut diperkuat oleh rendahnya dukungan sosial dan tingginya intolerasni terhadap ketidakpastian. Temuan ini menunjukkan bahwa individu dengan anxious attachment lebih sulit menghadapi situasi hubungan yang ambigu sehingga lebih rentan mengalami kecemasan interpersonal.

Avoidant Attachment dan Penghindaran Emosional

Berbeda dengan anxious attachment, individu dengan avoidant attachment cenderung menjaga jarak emosional dengan orang lain. Pola ini berkembang ketika kebutuhan emosional individu secara konsisten tidak terpenuhi sehingga individu belajar untuk mengandalkan dirinya sendiri.

Meskipun terlihat mandiri, individu dengan avoidant attachment tetap memiliki kerentanan terhadap kecemasan interpersonal. Uccula et al. (2023) menemukan bahwa individu dengan attachment avoidant menunjukkan kecenderungan menghindari stimulus emoisona yang berkaitan dengan kedekatan interpersonal. Penghindaran tersebut merupakan strategi regulasi emosi yang digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis dalam hubungan.

Strategi penghindaran ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan yang intim dan mendalam. Akibatnya, hubungan interpersonal menjadi kurang stabil dan individu cenderung mengalami kesepian serta rendahnya kepuasan dalam hubungan.

Attachment Tidak Aman di Era Digital

Era digital menghadirkan tantangan baru dalam hubungan interpersonal. Berbagai kemudahan berkomunikasi tidak selalu menghasilkan hubungan yang lebih sehat. Sebaliknya, media sosial dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk membandingkan dirinya dengan orang lain, mencari validasi di media sosial, serta mengalami kecemasan ketika tidak memperoleh respons yang ia harapkan.

Individu dengan attachment anxiety cenderung mengalami distress ketika pesan nya tidak segera dibalas atau ketika pasangan terlihat aktif di media sosial namun mengabaikannya. Mereka juga lebih mudah terpapar dengan FoMo dan overthinking terhadap interaksi digital yang terjadi.

Sementara itu, individu dengan avoidant attachment lebih mungkin menggunakan komunikasi digital sebagai sarana menjaga jarak emosional. Mereka cenderung menghindari percakapan yang mendalam dan lebih nyaman menjalin hubungan yang tidak terlalu melibatkan ketertarikan emosional.

Dampak Anxiety dalam Relasi Interpersonal

Emotional Exhaustion
Kecemasan interpersonal yang berlangsung terus-menerus dan dapat menyebabkan kelelahan emosional karena individu terlalu memikirkan hal yang negative yang mungkin tidak akan terjadi dalam hubungannya.

Kesulitan Mempertahankan Hubungan
Individu dengan anxiety interpersonal cenderung lebih sering mengalami konflik, kesalahpahaman, dan ketidakpuasan dalam hubungan. Dengan adanya hal ini kemungkinan individu sulit untuk menciptakan hubungan yang sehat.

Rendahnya self-esteem
Menurut Helmi (1999), individu dengan pola kelekatan yang tidak aman cenderung memiliki konsep diri yang negative dibandingkan dengan secure attachment. Rendahnya self-esteem dapat memperkuat kecemasan interpersonal dan memperburuk kualitas hubungan.

Gangguan Kesehatan Mental
Dagan et al. (2021) menjelaskan bahwa attachment insecurity merupakan faktor risiko bagi munculnya berbagai masalah kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan penarikan sosial. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mengganggu fungsi sosial dan kualitas hidup individu.

Implikasi terhadap Kesehatan Mental

Pemahaman ini sangat penting dalam menjelaskan berbagai permasalahan psikologis yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Dengan memahami pola attachment yang dimiliki, individu dapat mengenali sumber kecemasan yang dialaminya dan mengembangkan strategi coping yang lebih adaptif.

Implikasi dalam Intervensi Psikologis

Dalam praktek psikologi, attachment style dapat menjadi salah satu focus asesmen maupun intervensi. Pendekatan yang dapat digunakan adalah CBT, Emotionally Focused Therapy (EFT), dan terapi berbasis attachment yang dapat membantu individu mengembangkan rasa aman dalam hubungan serta meningkatkan kemampuan regulasi emosi.

Spengler et al (2024) menemukan bahwa EFT efektif dalam meningkatkan kualitas hubungan dan keamanan emosional individu. Oleh karena itu, pendekatan ini dapat menjadi salah satu alternatif intervensi bagi individu yang mengalami kecemasan interpersonal akibat attachment yang tidak aman.

Attachment style memiliki hubungan yang erat dengan anxiety dalam relasi interpersonal pada dewasa muda. Individu dengan insecure attachment, khususnya anxious attachment dan avoidant attachment, cenderung lebih rentan mengalami kecemasan interpersonal dibandingkan individu dengan secure attachment. Kecemasan tersebut dapat muncul dalam bentuk ketakutan akan penolakan, kekhawatiran ditinggalkan, kesulitan mempercayai orang lain, serta kecenderungan melakukan overthinking dalam hubungan.

Pada era digital, penggunaan media sosial dan komunikasi daring turut memperkuat dinamika kecemasan interpersonal melalui berbagai fenomena seperti ghosting, breadcrumbing, dan FoMO. Oleh karena itu, pemahaman mengenai attachment style menjadi penting dalam upaya meningkatkan kualitas hubungan interpersonal dan kesehatan mental individu.