JAKARTA – Pengamat Timur Tengah sekaligus mantan wartawan Harian Kompas untuk desk Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman, menyebut hegemoni media-media barat mulai tergeser.
Hal itu disampaikan Musthafa dalam Diskusi Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid) yang digelar di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2026). Acara dipandu Ketua Sajid, Bachtiar Nasir, dan dihadiri para jurnalis Muslim dari berbagai media.
Musthafa juga menyoroti perubahan lanskap media global. Menurutnya, dominasi media Barat dalam pemberitaan internasional mulai mengalami pergeseran sejak munculnya jaringan televisi Al Jazeera dari Qatar.
Sebelum kemunculan Al Jazeera, kata dia, pemberitaan internasional didominasi media-media Barat seperti CNN dan BBC. Namun kehadiran Al Jazeera menghadirkan perspektif baru yang mampu menarik perhatian publik dunia, khususnya masyarakat Timur Tengah.
“Hegemoni media Barat terhadap pemberitaan internasional mulai berakhir setelah munculnya Al Jazeera. Pengaruhnya luar biasa dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Timur Tengah,” katanya.
Ia menilai media-media dunia Islam perlu terus diperkuat agar mampu menghadirkan perspektif yang lebih berimbang dalam pemberitaan internasional.
Sebagai wartawan yang lama bertugas di Timur Tengah, Musthafa mengaku rutin mengikuti berbagai media Israel seperti Haaretz, Jerusalem Post, dan Yedioth Ahronoth.
Menurutnya, meskipun secara politik ia mengkritik ideologi Zionisme, memahami media Israel tetap penting untuk mengetahui dinamika politik dan opini publik di negara tersebut.
“Saya membaca media Israel hampir setiap hari. Mereka sangat cepat dan profesional dalam pemberitaan. Kita harus memahami bagaimana mereka berpikir dan bagaimana lanskap politik mereka bekerja,” ujarnya.
Musthafa mencontohkan kebijakan Presiden Mesir Anwar Sadat pasca-Perang Arab-Israel 1973 yang mendorong pembelajaran bahasa Ibrani di berbagai universitas Mesir sebagai bagian dari strategi memahami Israel secara lebih mendalam.
“Sadat pernah mengatakan, ‘Kenalilah musuhmu.’ Karena itu berbagai universitas di Mesir membuka program studi bahasa Ibrani agar masyarakat dan para ahli memahami Israel secara lebih baik,” katanya.
Menurut Musthafa, pemahaman yang mendalam terhadap lawan merupakan bagian penting dalam membangun strategi politik, diplomasi, maupun media yang efektif di kawasan Timur Tengah.*



