Resep Keluarga Harmonis yang Nggak Ada di Google

oleh
oleh

Oleh Siti Aulia Zahrani, Vina Aulia. Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

DEPOKPOS – Pernahkah kamu mengetik di Google:”Cara biar keluarga nggak berantem terus”? Atau mungkin ‘tips kelurga harmonis’?jika iya, kamu tidak sendirian.Jutaan orang mencari jawaban yang sama di mesin pencari setiap harinya.Tapi ironisnya,justru teknologi termasuk Google itu sendiri kerap menjadi salah satu pemicu retaknya keharmonisan keluarga di era modern ini.

Kelurga harmonis atau dalam islam disebut keluarga sakinah bukan sekadar konsep indah dalam kitab suci.Ia adalah kebutuhan dasar setiap manusia tempat pulang yang nyaman, penuh kasih sayang, dan ketenangan jiwa.Namun di era digital yang serbah cepat ini, banyak keluarga tanpa sadar mulai kehilangan asensi tersebut.

Lantas, dimana sesungguhnya ‘resep’keluarga harmonis itu?Satu hal yang pasti:resep itu tidak akan kamu temukan di Google.

Keluarga Sakinah:Lebih dari sekedar bebas masalah

Dalam perspektif Islam,keluarga sakinah berpijak pada firman Allah SWT dalam AI-Qur’an surat Ar-Rum 21,yang menjelaskan bahwa pasangan diciptakan agar manusia menemukan ketenangan (sakinah),diikat dengan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahma). Tiga kata lucu kunci ini sakinah,mawwadah,rahmah bukan kondisi yang datang begitu saja, melainkan hasil dari iktiar dan komitmen bersama.

Keluarga harmonis bukan berarti keluarga yang tidak pernah bertengkar.Konflik adalah hal yang sangat manusia. Yang membedakan adalah bagaimana sebuah kelurga merespon konflik tersebut apakah dengan komunikasi yang sehat, saling menghormati, dan landasan iman yang kuat, atau justru dengan diam yang dingin sambil sibuk scroll media sosial masing-masing.

Luka Digital yang Tak Terasa

Bayangkan sebuah meja makan malam. Empat anggota keluarga duduk bersama, makanan tersaji hangat tapi empat pasang mata tertunduk menatap layar masing-masing. Tidak ada percakapan,tidak ada tawa,tidak ada cerita tentang hari ini.Inilah yang para penelitian sebut sebagai ‘physical presence,emotional absence’ hadir secara fisik, namun absen secara emosional.

Fenomena ini bukan sekedar kebiasaan buruk. Sebuah kajian yang dilakukan oleh berbagai lembaga psikolog menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi langsung dengan menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung kesulitan membangun kelekatan emosional(emotional bonding) yang sehat.

Belum lagi ancaman konten negatif di internet mulai dari pornografi, kekerasan,hoaks, hingga paham-paham yang menyimpang yang dengan mudah masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Tanpa filter dan pengawasan yang tepat, nilai-nilai keluarga bisa terkikis perlahan tanpa disadari.

Resep yang Nggak Ada di Google

Jadi, apa resep sebenarnya? Jawabannnya sederhana, tapi butuh konsistensi untuk menjalankannya:

Waktu Tanpa Layar { Screen Free Time } – Tetapkan waktu khusus di mana seluruh anggota keluarga meletakan gadget mereka. Gunakan momen ini untuk makan bersama, shalat berjamaah, atau sekedar berbincang tentang hal – hal kecil yang bermakna. Kualitas waktu bersama, bukan kuantitasnya, yang mempererat ikatan.

Orang Tua sebagai Teladan Digital – Anak anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua bijak dalam menggunakan teknologi, anak anak pun akan mengikuti. Sebaliknya, larangan tanpa keteladanan hanya akan melahirkan pemberontakan.

Literasi Digital Keluarga – Bangun pemahaman bersama tentang konten yang bermanfaat dan yang berbahaya. Diskusikan secara terbuka tentang apa yang mereka temui di dunia maya. Keterbukaan komunikasi adalah kunci.

Komunikasi dari Hati ke Hati – Tidak ada aplikasi chatting yang bisa menggantikan percakapan mata ke mata. Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan – bukan hanya mendengar – apa yang dirasakan setiap anggota keluarga.

Menjadikan Nilai Islam sebagai Kompas – Dalam persepektif muamlah islam, menjaga kehormatan keluarga adalah ibadah sosial. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik baiknya seseorang adalah yang terbaik perlakuannya terhadap keluarganya. Ini bukan sekedar hadis – ini adalah panduan hidup yang tak lekang oleh zaman.

Google bisa mengajarimu banyak hal dari cara memasak rendang hingga rumus fisika kuantum. Tapi Google tidak bisa mengajarimu cara memeluk anak yang menangis di tengah malam, atau bagaimana rasanya duduk berdua dengan pasangan tanpa perlu berkata apa-apa karena kehadiran saja cukup.

Resep keluarga harmonis itu ada didalam rumahmu sendiri dalam setiap momen kecil yang kamu pilih untuk hadir sepenuhny, dalam setiap percakapan yang kamu pilih untuk benar-benar mendengarkan, dan dalam setiap doa yang kamu panjatkan bersama sebelum tidur.

Teknologi boleh terus berkembang. Tapi kehangatan keluarga adalah pilihan yang harus kita perjuangkan setiap hari. Karena keluarga sakinah di era digital bukan sekedar mungkin ia adalah keniscayaan yang perlu kita rawat bersama.