Dari Warung Kecil, Semangat Besar Ibu Helmih Bangkit Kembali

oleh
oleh

Oleh: Tim Kelompok 7 UHAMKA  ·  29 Juni 2026  ·  Tangerang Selatan. Aisyah Zahra Ghaisani, Muhammad Ariq Fadhali, Naimameilintia Nuur Arimi, Siti Latifah, Siti Latifah & Naimameilintia Nuur Arimi

TANGERANG SELATAN – Di sudut Jalan Pondok Cabe Ilir, Pamulang, seorang perempuan berusia 64 tahun menata botol-botol minuman ke dalam kulkas yang baru kembali terisi. Tangan Helmih bergerak pelan namun pasti – seolah ingin memastikan bahwa warung kecilnya benar-benar hidup kembali.

Ibu Helmih adalah seorang janda yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup pada usaha warung sederhana yang ia kelola sendiri. Warungnya menjual kopi, aneka minuman, mi instan, dan gorengan. Namun dalam beberapa waktu terakhir, modal usahanya semakin menipis. Stok dagangan berkurang, kulkas nyaris kosong, dan pendapatan harian yang tak menentu membuat keberlangsungan warungnya terancam.

Kondisi itulah yang menggerakkan empat mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) untuk turun tangan. Melalui mata kuliah Kemuhammadiyahan semester empat, mereka merancang program pemberdayaan ekonomi bertajuk “Warung Kecil, Tekad Besar” — sebuah inisiatif yang tidak sekadar menyalurkan bantuan, melainkan mendampingi Ibu Helmih membangun kembali kemandirian ekonominya.

“Kami tidak ingin memberi bantuan sesaat. Kami ingin Ibu Helmih bisa mandiri kembali. Itulah semangat Islam Berkemajuan yang diajarkan Muhammadiyah.”

— Muhammad Ariq Fadhali, Ketua Kelompok 7 UHAMKA

Penggalangan dana lewat media sosial

Program ini dimulai dengan kunjungan observasi pada 25 April 2026. Tim mewawancarai Ibu Helmih langsung di warungnya untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapi — mulai dari keterbatasan modal, ketiadaan akses ke lembaga keuangan formal, hingga peralatan usaha yang sudah tidak layak pakai.

Setelah menyusun proposal dan mendapatkan persetujuan dosen pembimbing Dr. Izza Rohman, S.Th.I., M.A., tim membuka penggalangan dana secara daring mulai 18 Mei hingga awal Juni 2026. Poster digital yang mereka sebarkan di media sosial berhasil menyentuh hati banyak kalangan — dari lingkaran terdekat mahasiswa hingga donatur yang tidak mereka kenal sebelumnya. Dalam kurun tiga minggu, dana yang terkumpul mencapai Rp 2.107.000 dari 26 transaksi donasi.

Bantuan berupa barang, bukan uang tunai

Setelah dana mencukupi, tim berbelanja langsung ke agen dan toko pada 7 Juni 2026. Bantuan yang diberikan sengaja berbentuk barang -bukan uang tunai- agar penggunaannya tepat sasaran dan langsung mendukung operasional warung. Belanjaan mencakup kopi sachet berbagai merek, gula, tepung, minyak goreng, tabung gas, aneka minuman botol, mi instan empat rasa, hingga banner nama warung berukuran 150×50 cm.

Di luar kebutuhan warung, tim juga menyiapkan kebutuhan rumah tangga Ibu Helmih — beras, minyak, telur, garam, hingga token listrik — agar beliau bisa fokus berjualan tanpa khawatir kebutuhan dapur terganggu.

“Haru dan bahagia itu terasa nyata waktu kami melihat ekspresi Ibu Helmih menerima bantuan. Tidak ada yang lebih berarti dari itu.”

— Siti Latifah, Anggota Kelompok 7 UHAMKA

Pendapatan naik dua kali lipat dalam sepekan

Hasil monitoring selama dua pekan setelah penyaluran bantuan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Pada hari pertama berjualan (8 Juni), Ibu Helmih meraih pendapatan Rp 120.000 — hampir dua kali lipat dari penghasilan rata-rata sebelumnya yang hanya sekitar Rp 80.000 per hari dan kerap tidak tercapai. Pendapatan harian selama pekan pertama berkisar antara Rp 47.000 hingga Rp 120.000, dengan rata-rata di atas angka sebelum program berjalan.

Tim mencatat bahwa ada beberapa hari Ibu Helmih tidak berjualan karena ada anggota keluarga yang sakit dan keperluan mendesak. Meski begitu, tren umum pendapatannya dinilai membaik dibandingkan sebelum program berjalan. Selain bantuan modal, tim juga mendampingi Ibu Helmih dalam pengelolaan keuangan usaha secara sederhana — memisahkan uang hasil jualan dari kebutuhan pribadi, serta mencatat pemasukan dan pengeluaran harian agar modal bisa terus berputar.

Nilai Islam Berkemajuan yang membumi

Program ini merupakan bagian dari tugas akhir semester mata kuliah Kemuhammadiyahan di UHAMKA, di bawah bimbingan Dr. Izza Rohman dan diketahui oleh Ketua Program Studi Dr. Yulistin Tresnawaty. Namun bagi para mahasiswa yang terlibat, maknanya jauh melampaui nilai akademis.

Mereka melihat program ini sebagai penerjemahan nyata dari spirit Surah Al-Ma’un – ajaran Islam yang menjadi fondasi gerakan sosial Muhammadiyah sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan: bahwa kepedulian terhadap kaum lemah bukan sekadar ibadah individual, melainkan amal usaha kolektif yang harus terus digerakkan.

“Semoga apa yang kami usahakan ini dicatat sebagai kebaikan. Dan untuk Ibu Helmih, semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan, dan rezeki yang berkah.”

— Aisyah Zahra Ghaisani, Anggota Kelompok 7 UHAMKA

Di warungnya yang kini lebih hidup, Ibu Helmih masih terus berjualan setiap hari. Banner barunya terpasang. Kulkasnya terisi. Dan semangatnya, seperti namanya — tetap teguh berdiri.