Oleh: Khadijah. Mahasiswa Bisnis Digital, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial (Universitas Binawan)
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya melalui hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan
buatan. AI merupakan teknologi yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, menganalisis data, mengenali pola, dan menghasilkan keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Saat ini, AI telah diterapkan pada berbagai aplikasi digital, seperti chatbot, asisten virtual, sistem rekomendasi, penerjemah otomatis, hingga generator konten.
Kehadiran teknologi ini memberikan berbagai kemudahan dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas pengambilan keputusan, sehingga penggunaannya semakin meluas di berbagai bidang, termasuk pendidikan, bisnis, kesehatan, dan industri kreatif.
Generasi Z (Gen Z), yang lahir pada rentang tahun 1997–2012, merupakan kelompok yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan internet dan teknologi digital sehingga sering
disebut sebagai digital natives. Tingginya intensitas penggunaan perangkat digital membuat Gen Z menjadi salah satu kelompok pengguna AI yang paling aktif.
Mereka memanfaatkan AI untuk membantu proses belajar, menyelesaikan pekerjaan, mencari informasi, hingga menghasilkan berbagai bentuk konten digital. Kemudahan yang ditawarkan AI menjadikan teknologi ini semakin terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari dan berperan penting dalam mendukung produktivitas generasi muda.
Di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan aplikasi AI juga memunculkan perhatian terhadap isu privasi dan keamanan data. Sebagian besar aplikasi AI memerlukan akses terhadap berbagai jenis data pengguna, seperti riwayat percakapan, lokasi, dokumen, gambar, maupun informasi pribadi lainnya agar dapat memberikan layanan yang lebih personal dan akurat.
Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin baik pula kemampuan AI dalam memahami
kebutuhan pengguna. Namun, kondisi ini juga meningkatkan risiko terjadinya kebocoran data, penyalahgunaan informasi pribadi, maupun penggunaan data tanpa pemahaman yang memadai
dari pengguna.
Meskipun Gen Z dikenal memiliki tingkat literasi digital yang relatif tinggi, tidak semua pengguna memahami bagaimana data pribadi mereka dikelola oleh aplikasi AI. Banyak pengguna menyetujui syarat dan ketentuan penggunaan layanan tanpa membaca kebijakan privasi secara menyeluruh. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan
menggunakan teknologi dengan pemahaman mengenai risiko yang menyertai penggunaan teknologi tersebut. Akibatnya, muncul fenomena ketika pengguna tetap menggunakan layanan AI karena manfaatnya, meskipun memiliki kekhawatiran terhadap keamanan data pribadi.
Persepsi Gen Z terhadap privasi dan keamanan data dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat literasi digital, pengalaman menggunakan teknologi, transparansi kebijakan privasi, serta tingkat kepercayaan terhadap penyedia layanan.
Di Indonesia, isu perlindungan data pribadi juga semakin mendapat perhatian sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, yang menjadi dasar hukum dalam pengelolaan dan perlindungan data pribadi masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman mengenai persepsi
pengguna terhadap keamanan data pada aplikasi AI menjadi penting untuk mendukung pemanfaatan teknologi yang lebih bertanggung jawab.
Artificial Intelligence dan Pengumpulan Data Pengguna
Sebagian besar aplikasi AI bekerja berdasarkan data yang diberikan pengguna. Semakin banyak data yang tersedia, semakin baik pula kemampuan AI dalam memberikan respons yang
relevan dan personal.
Data yang dikumpulkan dapat berupa:
• Data identitas pengguna.
• Riwayat percakapan.
• Lokasi perangkat.
• Informasi perangkat.
• Aktivitas penggunaan aplikasi.
• Dokumen maupun gambar yang diunggah.
Data tersebut digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain meningkatkan kualitas layanan, melatih model AI (sesuai kebijakan masing-masing penyedia layanan), personalisasi
pengalaman pengguna, serta menjaga keamanan sistem.
Meskipun sebagian besar perusahaan telah menerapkan sistem enkripsi dan kebijakan perlindungan data, potensi penyalahgunaan data tetap menjadi perhatian masyarakat.
Persepsi Generasi Z terhadap Privasi Data
Gen Z dikenal sebagai generasi yang memiliki tingkat literasi digital relatif tinggi. Mereka memahami pentingnya penggunaan kata sandi yang kuat, autentikasi dua faktor, hingga
pengaturan privasi media sosial.
Namun demikian, terdapat paradoks dalam perilaku mereka. Di satu sisi mereka menyatakan peduli terhadap privasi, tetapi di sisi lain mereka tetap menggunakan aplikasi yang meminta
akses terhadap berbagai informasi pribadi.
Fenomena ini dikenal sebagai Privacy Paradox, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki kepedulian tinggi terhadap privasi tetapi tetap bersedia membagikan data demi memperoleh
manfaat tertentu.
Beberapa alasan yang mendorong perilaku tersebut antara lain:
• Kemudahan penggunaan aplikasi.
• Efisiensi pekerjaan.
• Fitur AI yang semakin canggih.
• Pengaruh lingkungan sosial.
• Kurangnya pemahaman terhadap kebijakan privasi.
Faktor yang Memengaruhi Tingkat Kepercayaan Gen Z terhadap AI
Persepsi Gen Z terhadap keamanan AI dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1. Transparansi Pengelolaan Data
Semakin jelas suatu aplikasi menjelaskan bagaimana data dikumpulkan, digunakan, dan disimpan, semakin tinggi tingkat kepercayaan pengguna.
2. Reputasi Penyedia Layanan
Perusahaan teknologi yang memiliki rekam jejak baik dalam menjaga keamanan data cenderung memperoleh kepercayaan lebih besar dibandingkan perusahaan yang pernah mengalami kebocoran data.
3. Pengalaman Pengguna
Pengalaman positif tanpa adanya penyalahgunaan data membuat pengguna lebih percaya terhadap layanan AI.
4. Tingkat Literasi Digital
Pengguna yang memahami keamanan siber cenderung lebih berhati-hati ketika
memberikan informasi pribadi kepada AI.
5. Pengaruh Media
Pemberitaan mengenai kebocoran data atau penyalahgunaan AI dapat meningkatkan kecemasan pengguna terhadap keamanan informasi pribadi.
Tantangan Perlindungan Data pada Era AI
Seiring meningkatnya penggunaan AI, muncul berbagai tantangan dalam menjaga keamanan data pengguna, antara lain:
• Kebocoran data akibat serangan siber.
• Penyalahgunaan informasi pribadi.
• Kurangnya transparansi algoritma AI.
• Penggunaan data tanpa persetujuan yang jelas.
• Ancaman deepfake dan manipulasi informasi.
Selain itu, perkembangan AI berlangsung lebih cepat dibandingkan pembaruan regulasi di banyak negara. Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hukum terhadap pengguna.
Upaya Meningkatkan Keamanan Data
Untuk meningkatkan rasa aman pengguna, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan teknologi, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Meningkatkan literasi digital masyarakat.
2. Mendorong transparansi kebijakan privasi.
3. Memperkuat regulasi perlindungan data pribadi.
4. Mengembangkan teknologi keamanan berbasis enkripsi.
5. Memberikan edukasi mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Pengguna juga memiliki peran penting dengan membatasi informasi sensitif yang diberikan kepada AI, membaca kebijakan privasi sebelum menggunakan layanan, serta mengaktifkan fitur keamanan seperti autentikasi dua faktor.
Analisis
Persepsi Gen Z terhadap privasi pada aplikasi AI menunjukkan adanya keseimbangan antara rasa percaya dan rasa cemas. Sebagian besar pengguna mengakui manfaat AI dalam meningkatkan produktivitas, tetapi mereka juga menyadari adanya risiko terkait penyimpanan dan pemanfaatan data pribadi.
Menariknya, tingkat kecemasan tersebut tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku. Banyak pengguna tetap memanfaatkan AI secara intensif karena manfaat yang dirasakan lebih besar
dibandingkan risiko yang dipersepsikan.
Hal ini menunjukkan bahwa keputusan penggunaan AI lebih banyak dipengaruhi oleh nilai praktis daripada pertimbangan keamanan data.
Ke depan, peningkatan transparansi, akuntabilitas perusahaan teknologi, dan edukasi mengenai privasi digital menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pengguna terhadap
teknologi AI.
Kesimpulan
Artificial Intelligence telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Generasi Z. Meskipun mereka memiliki tingkat literasi digital yang relatif baik, pemahaman mengenai pengelolaan
data pada aplikasi AI masih perlu ditingkatkan. Persepsi Gen Z terhadap AI berada pada posisi yang ambivalen: mereka merasa terbantu oleh teknologi ini, tetapi tetap menyimpan kekhawatiran terkait privasi dan keamanan data.
Menciptakan ekosistem AI yang aman membutuhkan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan. Perusahaan perlu menerapkan prinsip transparansi dan keamanan data, pemerintah perlu memperkuat regulasi perlindungan data pribadi, sedangkan pengguna perlu
meningkatkan kesadaran dalam menjaga informasi pribadi. Dengan demikian, pemanfaatan AI dapat berlangsung secara optimal tanpa mengorbankan hak privasi pengguna.
