Di Balik Senyum Guru: Ketika Stres Kerja Menggerus Kesejahteraan Psikologis

oleh
oleh

Oleh Bagi Felisa Elmy, Mahasiswa Universitas Binawan

DEPOKPOS – Guru sering dianggap sebagai sosok yang sabar, penuh dedikasi, dan selalu siap membimbing peserta didik. Akan tetapi, di balik peran penting tersebut, banyak guru menghadapi tekanan pekerjaan yang tidak ringan. Mulai dari tuntutan administrasi, beban mengajar, menghadapi beragam karakter siswa, hingga tanggung jawab untuk memenuhi target pembelajaran. Berbagai tekanan ini dapat menimbulkan stres kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan mental maupun kualitas hidup guru.

Stres kerja merupakan kondisi ketika seseorang merasa tuntutan pekerjaannya melebihi kemampuan atau asal daya yang dimiliki. Pada profesi guru, stres tidak hanya muncul karena banyaknya pekerjaan, tetapi juga karena interaksi dengan siswa, harapan dari sekolah dan orang tua, serta tanggung jawab untuk menciptakan tahapan belajar yang berdaya guna. Jika berlangsung terus-menerus, stres dapat memengaruhi kondisi fisik, emosi, dan perilaku seseorang.

Sebuah riset yang dijalankan oleh Flaviani Nathania Leonardi dan Niken Widi Astuti dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara meneliti hubungan antara stres kerja dan kesejahteraan psikologis guru. Penelitian tersebut melibatkan 385 guru aktif di wilayah Jabodetabek dengan rentang usia 21 hingga 60 tahun. Temuan penelitian memperlihatkan adanya hubungan negatif yang bermakna antara stres kerja dan kesejahteraan psikologis. Artinya, semakin tinggi tingkat stres kerja yang dirasakan guru, semakin rendah pula kesejahteraan psikologis yang mereka miliki.

Kesejahteraan psikologis sendiri tidak hanya berarti merasa bahagia. Gagasan ini meliputi kemampuan seseorang untuk menerima dirinya, membangun hubungan yang baik dengan orang lain, mempunyai tujuan hidup yang jelas, mampu mengendalikan lingkungan, bersikap mandiri, dan terus berkembang sebagai individu. Guru dengan kesejahteraan psikologis yang baik lazimnya lebih mampu menghadapi tantangan pekerjaan, menjalin hubungan positif dengan siswa maupun rekan kerja, serta tetap termotivasi dalam menjalankan profesinya.

Penelitian tersebut juga menguraikan bahwa penyebab stres pada guru sangat beragam. Beban administrasi yang tinggi, keterbatasan waktu, perilaku siswa yang menantang, tuntutan untuk meraih target pembelajaran, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan kerja menjadi beberapa aspek yang sering memicu stres. Ketika tekanan tersebut tidak dikelola dengan baik, guru dapat mengalami kelelahan emosional, sulit berkonsentrasi, mudah marah, mengalami gangguan tidur, bahkan kehilangan semangat dalam bekerja.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa tidak dijumpai perbedaan yang berarti antara guru laki-laki dan perempuan dalam tingkat stres kerja maupun kesejahteraan psikologis. Namun, pengalaman mengajar menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Guru yang memiliki pengalaman mengajar lebih lama cenderung lebih mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan dibandingkan guru yang masih baru, akibatnya risiko mengalami stres dapat lebih rendah.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesejahteraan psikologis guru sama pentingnya dengan menaikkan kualitas pendidikan. Guru yang sehat secara mental akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang positif, membangun hubungan yang baik dengan peserta didik, serta menyajikan pembelajaran yang lebih terbaik. Sebaliknya, jika stres kerja terus meningkat tanpa adanya dukungan, bukan hanya guru yang terdampak, tetapi juga proses pembelajaran di sekolah.

Maka dari itu, dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak untuk membantu guru mengelola stres kerja. Sekolah dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih suportif, memperkecil beban administratif yang berlebihan, serta menyediakan program pendampingan atau konseling. Dari perspektif lain, guru juga dapat menerapkan strategi pengelolaan stres, seperti berolahraga secara rutin, melatih teknik relaksasi atau meditasi, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta berbagi cerita dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional ketika tekanan mulai terasa berat.

Ujungnya, kesejahteraan guru bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dengan menopang kesehatan mental guru, kita turut menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, nyaman, dan berkualitas bagi seluruh peserta didik.

Sumber: Leonardi, F. N., & Widi Astuti, N. (2023). Hubungan Stres Kerja dengan Kesejahteraan Psikologis Guru. Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan, 16(2), 26–37.