Oleh: Chelsea Cantika Melati – Mahasiswa Kebidanan Universitas Binawan
DEPOKPOS – Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang dihadapi Indonesia. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan anak memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan usianya, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, serta kualitas hidup anak di masa depan. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang yang sering kali disertai dengan tingginya risiko infeksi dan kurang optimalnya pola pengasuhan anak (Kusumadewi et al., 2025).
Salah satu periode yang sangat menentukan dalam upaya pencegahan stunting adalah 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dikenal sebagai masa emas karena pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat cepat. Gangguan gizi yang terjadi pada masa tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas anak di masa mendatang (Sartika & Pohan, 2025).
Karena itu, pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan. Pemenuhan kebutuhan gizi ibu, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta penerapan perilaku hidup sehat menjadi langkah penting untuk mendukung pertumbuhan janin secara optimal. Selain itu, dukungan program kesehatan dan intervensi sejak dini juga berperan besar dalam menurunkan risiko stunting pada anak (Gani, 2025).
Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan
Pencegahan stunting dapat dimulai sejak masa kehamilan melalui pelayanan antenatal care (ANC). Selain memantau kesehatan ibu dan janin, ANC berperan dalam mendeteksi faktor risiko stunting sejak dini serta memberikan edukasi mengenai gizi, imunisasi, dan persiapan menyusui. Upaya ini juga didukung oleh konsumsi tablet Fe dan asam folat yang disertai pendampingan keluarga maupun kader posyandu untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil terhadap program kesehatan (Doni et al., 2024).
Selain ANC, kelas ibu hamil juga menjadi sarana penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai kesehatan selama kehamilan. Melalui kegiatan ini, ibu hamil didorong untuk menerapkan pola makan bergizi, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, serta menjalani gaya hidup sehat guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin secara optimal (Kusumadewi et al., 2025).
Penyuluhan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai media edukasi juga terbukti dapat meningkatkan pengetahuan serta membentuk kebiasaan yang mendukung pemenuhan gizi selama kehamilan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan menjadi salah satu upaya penting dalam mendukung pencegahan stunting sejak masa kehamilan (Vriarindani, 2023).
Dukungan Keluarga dan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting
Keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada program kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar. Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan ibu terhadap anjuran kesehatan selama masa kehamilan dan setelah persalinan (Gani, 2025).
Melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan. Berbagai kegiatan seperti sosialisasi, diskusi, pelatihan, dan penyuluhan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal (Vriarindani, 2023).
Peran ASI Eksklusif dalam Pencegahan Stunting
Setelah bayi lahir, upaya pencegahan stunting perlu dilanjutkan melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi yang lengkap sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangannya.
ASI juga mengandung hormon, antibodi, faktor kekebalan, dan antioksidan yang berperan dalam menjaga kesehatan bayi. Oleh karena itu, bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan bayi yang memperoleh ASI eksklusif sesuai rekomendasi WHO (Sartika & Pohan, 2025).
Pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun sebagai bagian dari periode 1000 Hari Pertama Kehidupan. Pemenuhan gizi yang baik, pemeriksaan kehamilan secara rutin, edukasi kesehatan, serta pemberian ASI eksklusif merupakan langkah penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Dengan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih efektif sehingga dapat melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Penulis : Chelsea Cantika Melati, Mahasiswa Kebidanan Universitas Binawan
Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd.


:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Rachmat-Gobel.jpg?w=148&resize=148,111&ssl=1)