Waspada Pelecehan Seksual di Sekitar Kita dan Apa Penyebabnya

oleh
oleh

Belakangan ini telah terjadi peristiwa pelecehan seksual di salah satu lingkungan kampus ternama di Indonesia yang melibatkan sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) di Depok. Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga terlibat kasus pelecehan seksual verbal dan objektifikasi terhadap 20 mahasiswi dan 7 dosen. Kasus ini terungkap melalui percakapan grup WhatsApp yang viral, memicu kecaman dari KemenPPPA dan desakan sanksi tegas hingga drop out (DO). Pihak UI menyatakan sedang melakukan investigasi transparan dan serius.

Dari sini kita perlu aware dan care, sadar dan peduli serta berhati-hati di sekitar kita terhadap kemungkinan tindakan yang dapat mengarah kepada pelecehan seksual. Karena pelecehan seksual dapat terjadi oleh siapa saja dan dimana saja. Berikut beberapa faktor penyebab pelecehan seksual dapat dapat terjadi di lingkungan sekitar kita:

Relasi Kuasa dan Dominasi: Pelaku merasa memiliki otoritas, seperti atasan kepada bawahan, senior kepada junior, atau orang dewasa kepada anak, yang digunakan untuk menindas.

Budaya Patriarki dan Norma Sosial: Budaya yang masih menempatkan salah satu gender lebih rendah dan membenarkan perilaku maskulinitas toksik, sering kali menganggap tindakan pelecehan adalah hal biasa.

Lingkungan: Lingkungan yang tidak aman, sepi, atau kurang pengawasan memberikan kesempatan pelaku untuk beraksi.

Penyimpangan Seksual dan Konten Pornografi: Kecanduan konten dewasa dapat memicu seseorang melakukan perilaku seksual menyimpang, seperti eksibisionisme atau perilaku pelecehan seksual yang dijelaskan pada 4 dan 6.

Faktor Psikologis Pelaku: Pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa kecil atau memiliki trauma dan gangguan mental.

Pengaruh Lingkungan dan Sosialisasi: Lingkungan sosial yang kurang mendukung perilaku sehat, atau kebiasaan buruk yang dibiarkan.

Selain beberapa faktor penyebab diatas, ada salah satu faktor cukup krusial yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual di lingkungan kita yaitu Piramida Budaya Kekerasan Seksual (sering disebut Rape Culture Pyramid) adalah kerangka teoritis yang menggambarkan bagaimana pelecehan seksual tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh perilaku sehari-hari yang dinormalisasi. Piramida ini menunjukkan bahwa tindakan kekerasan seksual yang paling ekstrem sering kali berakar dari sikap, norma, dan perilaku sosial yang dianggap sepele.

Berikut penjelasan dan penjabaran terkait Rape Culture Pyramid:

1. Dasar Piramida: Normalisasi dan Lingkungan (Budaya Pemerkosaan)

Lapisan paling bawah adalah dasar yang menyuburkan perilaku kekerasan seksual. Ini mencakup:

Normalisasi: Menganggap perilaku pelecehan sebagai hal biasa, bercandaan, atau tak terhindarkan.

Budaya Patriarki: Sistem sosial yang menempatkan laki-laki memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada perempuan.

Konstruksi Maskulinitas Toksik: Pandangan bahwa laki-laki harus dominan, agresif, dan menguasai, sementara perempuan objek subordinat.

Menyalahkan Korban (Victim Blaming): Menyalahkan pakaian, tingkah laku, atau keberadaan korban daripada menyalahkan pelaku.

Seksisme Sehari-hari: Lelucon seksis, komentar merendahkan tentang gender, dan objektifikasi tubuh.

2. Lapisan Kedua: Pelecehan Verbal dan Perilaku Seksis

Tindakan yang mulai mengarah pada tindakan langsung namun sering diabaikan atau dianggap sebagai “bercanda”:

Pelecehan Verbal: Catcalling (siulan/komentar di jalan), lelucon tentang perkosaan, atau panggilan merendahkan (contoh: “tobrut”).

Pertanyaan Intrusif: Bertanya tentang kehidupan seksual seseorang secara tidak sopan.

Penyebaran Rumor Seksual: Menyebarkan desas-desus mengenai aktivitas seksual seseorang untuk mempermalukan
.
3. Lapisan Ketiga: Diskriminasi dan Kekerasan Non-Fisik

Tindakan yang membatasi hak dan martabat seseorang:

Diskriminasi Sistemik: Pembatasan akses pendidikan atau pekerjaan berdasarkan gender.

Pelecehan Online: Mengirim konten seksual tanpa persetujuan, stalking, atau ancaman berbasis gender.

Pemaksaan/Intimidasi: Memperdaya atau memaksa seseorang ke situasi yang rentan secara seksual.

4. Puncak Piramida: Kekerasan Gamblang (Explicit Violence)

Ini adalah bentuk kekerasan seksual yang paling tinggi dan kriminal, yang didukung oleh semua lapisan di bawahnya:

Pemerkosaan (Rape).

Penganiayaan Fisik/Pelecehan Seksual Fisik (menyentuh, meraba).

Pemaksaan Kehamilan/Aborsi.

Pembunuhan.

Kesimpulan:

Piramida ini menunjukkan bahwa tindakan kejahatan seksual di puncak (4) tidak akan terjadi tanpa didukung oleh normalisasi dan pelecehan sehari-hari di lapisan bawahnya (1 & 2). Oleh karena itu, menghentikan kekerasan seksual harus dimulai dengan menghentikan perilaku seksis dan budaya pemerkosaan yang kecil sehari-hari.

Fauzan Syahru Ramadhan, mahasiswa Prodi Perbankan Syariah IAI SEBI.