Anxiety Bukan Kelemahan: Memahami Emosi yang Sering Disalahpahami

oleh
oleh

Penulis : Nanda Fitri Hanifah
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka

DEPOKPOS – Kamu pernah dibilang “ Lebay ” karena cemas? Atau memilih diam daripada dianggap lemah? Kamu tidak sendirian dan yang lebih penting, kamu tidak salah.

Ini bukan soal Kesehatan mental.

Bayangkan kamu punya alarm kebakaran dirumah. Suatu hari ia berbunyi bukan karena ada api, tapi karena ada asap dari dapur. Apakah kamu salahkan alarmnya? Tentu tidak. Ia hanya bekerja sesuai fungsinya, mendeteksi potensi bahaya sedini mungkin.

Otak manusia bekerja persis seperti itu. Randolph M. Nesse, psikiater evolusioner dari Arizona State University, menyebutnya Smoke Detector Principle, yaitu prinsio detector asap. Dalam bukunya Good Reasons for Bad Feelings (2019), Nesse menjelaskan bahwa otak kita bereovolusi untuk sangat sensitive terhadap ancaman. Alarm palsu jauh lebih murah secara evolusioner daripada gagal mendeteksi bahaya nyata yang bisa membunuh.

Anxiety and depression cannot be separated from the situations that trigger them and there are good evolutionary reasons that make us vulnerable to these conditions ”

Artinya : orang yang mengalami anxiety bukan karena sistemnya rusak. Sistemnya bekerja terlalu baik dalam konteks dunia modern yang bergerak jauh lebih cepat dari evolusi biologis kita.

Yang Terjadi di Dalam TubuhmuKetika anxiety muncul, tubuhmu menjalankan program yang sudah ada jutaan tahun, sister fight or flight. Dua jalurnya yang aktif:

Jalur SAM : Adrenalin menyerbu tubuh dalam hitungan detik. Jaantung berdegup kencang, napas cepat, dan otot menjadi tegang.

Jalur HPA : Kortisol dilepaskan secara bertahap, menjaga kewaspadaan bertahan lebih lama.

Dipusat semua ini ada amigdala, yaitu dua struktur kecil berbentuk almond di otak yang bertindak seperti alarm keamanan 24 jam. Penelitian neuroimaging dari PMC (Manoliu et al., 2017) menemukan bahwa pada orang dengan anxiety, koneksi antara amigdala dan korteks prefrontal yaitu bagian otak yang mengatur emosi mengalami gangguan. Ini bukan kelemahan karakter ini perbedaan biologis yang nyata.

Dan semakin lama anxiety dibiarkan tanpa penanganan, semakin dalam ia meninggalkan jejal di otak. Penelitian strees kronis (Neuroscience and Psychology Open Acces,2024) menemukan bahwa strees berkepanjangan dapat menyebabkan hiperreaktivitas amigdala, yaitu otak yang semakiin sensitive, bukan semakin kuat, bila terus dipaksa menanggung sendiri.

Kenapa Kamu Berbeda dari Orang Lain dan Itu Wajar?

“Kok dia bisa santai, saya engga?” Pertanyaan ini mungkin familiar. Tapi membandingkan Tingkat kecemasan dua orang Adalah seperti membandingkan kadar gula darah tanpa tahu Riwayat medis masing masing, tidak relevan secara ilmiah.

Beberapa factor yang membentuk respons anxiety seseorang yaitu :

Genetik penelitian meta analisis di Translational Psychiatry (Thorp et al., 2025) menemukan bahwa 30-50% kerentanan terhadap anxietry diwariskan secara genetic.

Pengalaman masa kecil, trauma, pola asuh, dan lingkungan tumbuh besar membentuk cara otak memproses ancaman.

Epigenetik, pengalaman hidup bisa mengubah cara gen berekspresi, bahkan tanpa mengubah DNA itu sendiri.
Konteks sosial saat ini, tekanan kerja, relasi, dan kondisi ekonomi.

“ Both genetic and environmental factors contribute to be onset, development and severity of anxiety diosrders, with environmental triggers often influencing the phenotypic expression of these disorders ” – Fox-Gaffney & Singh (2025) Cureus, Systematic Review (Open Access PMC)

Tidak ada standar universal tentang “seberapa banyak seseorang seharusnya merasa cemas”. Membandingkan diri dengan orang lain bukan ukuran yang valid.

Stigma : Luka yang Ditambahkan Masyarakat

Seandainya anxiety hanya soal rasa cemas, mungkin sudah cukup berat. Tapi ada lapisan tambahan yang sering kali lebih menyakitkan yaitu stigma.

Stigma hadir dalam tiga bentuk :

Stigma public : anggapan bahwa orang dengan masalah mental itu lemah, berbahaya, atau tidak kompeten.

Stigma structural : keterbatasan akses layanan Kesehatan mental yang terjangkau dan berkualitas.

Self-stigma : Ketika label negative itu akhirnya kita oercata tentang diri sendiri.

Penelitian kualitatif di Journal of Child and Family Studies (Beveridge et al., 2024) yang emlibatkan anak muda usia 16-24 tahun menemukan bahwa stigma yang paling menyakitkan bukan datang dari orang asing melainkan dari lingkungan terdekat, dalam bentuk perasaan diabaikan, diremehkan, dan disalahkan.

“ It Just Makes You Feel Horrible ” – Judul penelitian Beveridge et al. (2024) tentang pengalaman stigma pada anak muda dengan anxiety dan depresi

Dan dampaknya nyata. Systematic review di Jurnal of Chilf Psychology and Psychiatry (Zhao et al., 2025) menemukan bahwa hanya 28% orang dengan masalah Kesehatan mental yang aktif mencari bantuan professional. Stigma Adalah salah satu penghalang terbesarnya.

Mengakui Anxiety Adalah Tindakan Berani

Ada satu narasi yang perlu kita balik, bahwa keberanian berarti tidak merasa cemas. Dari perspektif psikologi, itu keliru. Keberanian bukan ketiadaan anxiety melainkan kemampuan untuk bertibndak meskipun anxiety hadir. Dan dalam konteks Kesehatan mental, salah satu Tindakan paling berani Adalah mengakui bahwa kamu membutuhkan bantuan.

Penelitian di European Psychiatry (Gundogdu et al., 2024) menunjukan bahwa self-stigma mempercayai bahwa dirimu lemah karena mengalami anxiety, secara signifikan mengurangi kemungkinan seseorang untuk mencari bantuan. Paradoksnya semakin kamu percaya stigma itu, semakin jauh kamu dari pemulihan.

Membalikkan pola pikir ini dari “mengakui anxiety berarti lemah” menjajdi “mencari bantuan Adalah Langkah aktif dan berani” Adalah salah satu pergeseran terpenting yang bisa membawa seseorang menuju pemulihan.

Lalu, Apa yang Bisa kita Lakukan?

Untuk dirimu sendiri :

Edukasi diri pahami bahwa anxiety punya dasar biologis, Ini bi9isa membantu mengurangi self-stigma.

Bicara kepada orang yang kamu percaya, diruang yang aman.

Cari bantuan professional seperti psikolog dan psikiater terlatih dengan pendekatan berbasis bukti seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang efektif untuk berbagai jenis gangguan anxiety.

Untuk lingkungan sekitarmu:

Ganti kata kata yang meremhkan seperti “lebay”, “sensitive amat”. “diikirin aja”, ubah jadi pertanyaan “kamu lagi kenapa” atau “apa yang lagi kamu pikirin sekarang”

Dukung literasi Kesehatan mental di sekolah, tempat kerja, dan di keluarga.
Ciptakan ruang aman Dimana orang bisa berbicara jujur tentang kondisi mentalnya tanpa takut dihakimi.

“ Anxiety bukan tanda bahwa kamu tidak kuat. Ia tanda bahwa kamu manusia dengan system yang bekerja, Sejarah yang membentuk, dan beban yang nyata. Meminta bantuan bukan kelemahan. Itu keberanian yang paling konkret yang bisa kamu tunjukan ”

-Nanda Fitri Hanifah-