ASI yang Tepat: Investasi Awal Mencegah Stunting pada Generasi Masa Depan

oleh
oleh

Oleh: Tasya Ermy Salsabilla

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatianseriusdiIndonesia.Kondisiiniditandaidenganterhambatnyapertumbuhantinggibadan anakakibatkekurangangiziyangberlangsungdalamwaktulama.Dampaknyatidakhanyaterlihat dari aspek fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan kognitif, sistem kekebalan tubuh, prestasi belajar, hingga produktivitas seseorang ketika dewasa (World Health Organization [WHO], 2014; Wangiyana et al., 2020).

BerdasarkanpenjelasanWHO(2014),stuntingmerupakanakibatdarikekurangangizikronisyang terjadi terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin berada di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Masa ini dikenal sebagai periode emas pertumbuhan karena perkembangan otak dan organ tubuh berlangsung sangat pesat. Gangguan pemenuhan gizi pada periode tersebut dapat menimbulkan dampak yang bersifat permanen.

SalahsatuintervensipentinguntukmencegahstuntingadalahpemberianMakananPendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) secara tepat. Setelah bayi berusia enam bulan, ASI tetap menjadi makananutama,namunkandunganenerginyasudahtidakcukupuntukmemenuhikebutuhangizi bayi yang semakin meningkat. Oleh karena itu, MP-ASI diperlukan sebagai pelengkap agar kebutuhannutrisibayitetapterpenuhi(WHO,2018;IkatanDokterAnakIndonesia[IDAI],2018).

MP-ASITidakSekadarMakanan Pendamping

BanyakorangtuamenganggapbahwaMP-ASIhanyamerupakantahap awalbayibelajarmakan. Padahal, MP-ASI memiliki fungsi yang jauh lebih penting, yaitu memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi yang tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI setelah bayi memasuki usia enam bulan (WHO, 2018).

Keberhasilan pemberian MP-ASI tidak hanya ditentukan oleh kapan makanan mulai diberikan, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa aspek penting, seperti frekuensi makan, jumlah makanan, tekstur sesuai usia, keberagaman bahan pangan, serta kualitas kandungan gizinya (IDAI, 2018).

Dalam praktik sehari-hari masih ditemukan berbagai kesalahan, misalnya pemberian MP-ASI sebelumusiaenambulan,porsimakanyangterlalusedikit,frekuensimakanyangkurang,maupun menu yang didominasi karbohidrat tanpa sumber protein hewani. Apabila berlangsung dalam waktulama,kondisitersebutdapatmenyebabkankekuranganzatgiziyangakhirnyameningkatkan risiko terjadinya stunting (Wangiyana et al., 2020).

BuktiIlmiahdariPenelitiandiLombokTengah

Hubungan antara praktik pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Wangiyana dan rekan-rekan pada tahun 2020. Penelitian tersebut melibatkan 206 anak berusia 6–12 bulan yang tinggal di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (Wangiyana et al., 2020).

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengevaluasi empat indikator utama praktik pemberian MP-ASI,yaituusiapertamakalibayimenerimaMP-ASI,frekuensipemberian makan,teksturmakanan sesuai usia, serta jumlah atau takaran makanan yang diberikan (Wangiyana et al., 2020).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,7% bayi telah memperoleh MP-ASI pada usia enam bulan sesuai rekomendasi. Namun demikian, sebagian besar anak masih menerima MP-ASI dengan frekuensi yang belum sesuai (68,9%) serta jumlah makanan yang belum mencukupi kebutuhan (70,9%). Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 19,9% anak mengalami stunting (Wangiyana et al., 2020).

FrekuensidanJumlahMP-ASIMenentukanRisikoStunting

Salah satu temuan terpenting dari penelitian tersebut adalah adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting. Anak yang menerima MP-ASI denganfrekuensimakanyangtidaksesuaimemilikirisikosekitarduakalilebihbesarmengalami stunting dibandingkan anak yang memperoleh MP-ASI sesuai rekomendasi (Wangiyana et al., 2020).

Selainfrekuensimakan,jumlahatauporsimakananyangdiberikanjugamemilikipengaruhyang signifikan. Anak yang memperoleh MP-ASI dengan jumlah yang kurang dari kebutuhan usianya memiliki risiko sekitar 2,2 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan anak yang memperoleh porsi sesuai anjuran (Wangiyana et al., 2020).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kecukupan zat gizi tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh seberapa sering dan seberapa banyak makanan diberikan kepada anak. Kekurangan asupan energi dan protein dalam waktu yang lama akan menghambat pertumbuhan tulang, otot, serta perkembangan otak anak (WHO, 2018).

KetepatanWaktuTetapPenting,tetapiBukanSatu-satunyaFaktor

PenelitianWangiyanaetal.(2020)jugamenemukanbahwausiapertamapemberianMP-ASIdan teksturmakanantidakmemilikihubunganyangsignifikandengankejadianstunting.Namun,hasil tersebut tidak berarti kedua faktor tersebut dapat diabaikan.

WHO (2018) dan IDAI (2018) tetap merekomendasikan pemberian MP-ASI dimulai tepat pada usiaenambulan.Selainitu,teksturmakananharusdisesuaikandenganperkembangankemampuan mengunyahanak,dimulaidarimakananlumat,kemudianmeningkatmenjadimakananyanglebih padat secara bertahap.

Tidakditemukannyahubunganyangsignifikankemungkinandipengaruhi olehfaktorlainkarena stunting merupakan masalah yang bersifat multifaktorial. Faktor-faktor seperti riwayat ASI eksklusif, penyakit infeksi, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu, kondisi sosial ekonomi, sanitasi lingkungan, dan pola pengasuhan keluarga juga berkontribusi terhadap kejadian stunting (Beal et al., 2018; Wangiyana et al., 2020).

PeranOrangTuaMenjadiKunciPencegahan

Pencegahan stunting memerlukan keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga, khususnya orang tua. Dalam memberikan MP-ASI, orang tua perlu memastikan makanan yang diberikan mengandung gizi seimbang, meliputi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, buah-buahan, dan lemak sehat (IDAI, 2018).

Proteinhewanisepertitelur,ikan,ayam,daging,danhatimerupakansumberzatgiziyangsangat penting karena mengandung protein berkualitas tinggi, zat besi, seng, serta vitamin B12 yang berperan dalam mendukung pertumbuhan jaringan tubuh dan perkembangan otak anak (WHO, 2018).

Selain kualitas makanan, kebersihan selama proses pengolahan, pemberian makan sesuai jadwal, serta suasana makan yang menyenangkan juga menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada anak sejak usia dini.

Penutup

Stuntingmerupakanmasalahkesehatanyangdapatdicegahapabilakebutuhangizianakdipenuhi secara optimal sejak awal kehidupan. Salah satu upaya yang paling efektif adalah memberikan MP-ASIsesuairekomendasi,baikdarisegiwaktupemberian,frekuensimakan,jumlahmakanan, tekstur, maupun kualitas gizinya.

PenelitianyangdilakukanolehWangiyanaetal.(2020)membuktikanbahwafrekuensidanjumlah pemberian MP-ASI memiliki hubungan yang signifikan dengan risiko stunting. Oleh karena itu, edukasikepadamasyarakatmengenaipraktikpemberianMP-ASIyangbenarperluterusdiperkuat agarsemakinbanyakorangtuamemahamipentingnyapemenuhangizipadamasaawalkehidupan anak.

Pada akhirnya, setiap makanan bergizi yang diberikan kepada anak bukan hanya memenuhi rasa lapar, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan masa depan bangsa Indonesia.