BBNI Dinilai Masih Undervalued, Berpotensi Naik Hingga 43,3 Persen

oleh
oleh

DEPOKPOS – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dinilai masih memiliki prospek investasi yang menarik di tengah persaingan industri perbankan nasional.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Pamulang, saham BBNI saat ini masih diperdagangkan di bawah nilai bukunya (price to book value/PBV), sehingga berpotensi memberikan keuntungan yang signifikan bagi investor dalam jangka menengah hingga panjang.

Sebagai bank BUMN tertua yang berdiri sejak 5 Juli 1946, BNI mencatat total aset sebesar Rp1,362 triliun pada akhir tahun 2025. Sementara itu, kredit bruto perusahaan telah mencapai Rp919 triliun pada kuartal I tahun 2026, menjadikan BNI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia berdasarkan total aset.

Dalam kajian tersebut, tim peneliti memberikan rekomendasi BUY terhadap saham BBNI dengan target harga Rp4.600 per saham dalam 12 bulan ke depan. Target tersebut menunjukkan potensi kenaikan (upside) sebesar 43,3 persen dibandingkan harga pasar Rp3.210 per saham pada awal Juni 2026.

Salah satu faktor utama yang mendukung prospek tersebut adalah valuasi saham yang relatif murah dibandingkan bank-bank besar lainnya. BBNI tercatat memiliki PBV sebesar 0,81 kali dan PER sebesar 6,4 kali, lebih rendah dibandingkan bank-bank sekelas seperti BBCA, BMRI, dan BBRI.

Dari sisi kinerja operasional, BNI menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Pada kuartal I tahun 2026, kredit bruto tumbuh 20,1 persen secara tahunan, jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional yang berada pada kisaran 9,5 persen.

Transformasi digital juga menjadi salah satu pendorong kinerja perusahaan. Platform wondr by BNI dan BNIdirect dilaporkan mengalami pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25 persen selama tahun 2025.

Selain itu, BNI juga menunjukkan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan melalui berbagai program Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan menargetkan pencapaian Net Zero Emissions untuk operasional pada tahun 2028 serta telah membangun portofolio pembiayaan berkelanjutan senilai Rp197 triliun.

Berdasarkan keseluruhan analisis, BBNI dinilai sebagai salah satu saham perbankan dengan kombinasi menarik antara potensi kenaikan harga dan imbal hasil dividen.

Dengan dividend yield sekitar 10,9 persen serta peluang kenaikan harga saham yang masih terbuka lebar, BBNI dipandang sebagai alternatif investasi yang layak Langkah-langkah pengendalian proyek meliputi:

  • Menetapkan rencana proyek dan standar kinerja.
  • Mengumpulkan data aktual proyek.
  • Membandingkan kinerja aktual dengan rencana.
  • Mengidentifikasi penyimpangan biaya maupun jadwal.
  • Melakukan analisis penyebab penyimpangan.
  • Menetapkan tindakan korektif.
  • Melakukan pemantauan dan evaluasi berkelanjutan.

Menurut Harold Kerzner (2017), pengendalian proyek merupakan proses berkelanjutan yang dilakukan sepanjang siklus hidup proyek untuk memastikan keberhasilan proyek. oleh investor.

Penulis: Izzaty Azzahra Zahira, Julianes Chandra, dan Yesika Limbong.