Dampak Psikologis Perceraian terhadap Anak dalam Perspektif Islam

oleh
oleh

Oleh Aisyah Ramadhani Haafidh, Surani. Mahasiswa Program Studi Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah PROF. DR. HAMKA, Jakarta

DEPOKPOS – Keluarga adalah tempat pertama yang menjadi tempat anak belajar dan tumbuh kembang. Di dalam keluarga, anak merasa dicintai, diperhatikan, dan dibimbing oleh orang tuanya. Kehadiran ayah dan ibu sangat penting bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga agar anak merasa nyaman, dicintai, dan dihargai. Karena itu, situasi keluarga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan emosi dan pikiran anak.

Di tengah kehidupan masyarakat modern, perceraian semakin sering terjadi. Masalah-masalah seperti pertengkaran yang terus terjadi, kesulitan dalam hal ekonomi, atau kurangnya komunikasi antara suami dan istri bisa menyebabkan terjadinya perceraian. Meskipun dalam Islam diperbolehkan terjadinya perceraian, peristiwa ini tetap bisa memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak.

Anak sering merasa dampaknya terasa lebih mendalam setelah orang tuanya bercerai. Menurut (Ramadhani & Krisnani, 2019), perceraian bisa membuat emosi anak terganggu karena mereka harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di keluarga. Sebab itu, artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh psikologis dari perceraian terhadap anak dan meninjau bagaimana Islam memandang isu tersebut.

Perceraian sebagai Penyebab Gangguan Psikologis pada Anak

Dalam Islam, perceraian adalah pemutusan pernikahan antara suami dan istri yang diperbolehkan jika kondisi kehidupan rumah tangga sudah tidak bisa dijaga lagi. Namun, perceraian tetap dianggap sebagai pilihan terakhir setelah berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan sudah dilakukan. Beberapa alasan umum yang menyebabkan perceraian adalah adanya permasalahan dalam rumah tangga yang tidak terselesaikan, gangguan finansial, serta kurangnya komunikasi yang baik antara pasangan.

Setelah orang tua bercerai, anak umumnya mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya. Mereka mungkin tidak tinggal lagi dengan kedua orang tuanya, mengalami perubahan cara mendidik, atau merasa perhatian dari salah satu orang tua berkurang. Kondisi ini bisa membuat seseorang merasa sedih, kecewa, bingung, atau bahkan cemas.

Penelitian yang dilakukan oleh (Fadhilah et al., 2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami perceraian orang tuanya lebih mudah mengalami perasaan negatif, seperti perasaan cemas, sedih, serta perubahan dalam perilaku mereka. Selain itu, menurut Ramadhani dan Krisnani (2019), perceraian bisa memengaruhi pertumbuhan emosi anak, terutama jika konflik antara orang tua masih terjadi setelah mereka bercerai. Oleh karena itu, meski orang tua sudah berpisah, mereka tetap harus memberikan kasih sayang, perhatian, dan bantuan kepada anak agar psikologisnya tetap dalam kondisi baik.

Dampak Psikologis Perceraian terhadap Anak

Perceraian dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis bagi anak-anak. Dampak ini tidak hanya terasa dalam waktu dekat, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka waktu yang lebih panjang. Besaran pengaruh yang dialami anak berbeda-beda, tergantung pada usia, situasi keluarga, hubungan anak dengan orang tua, dan cara orang tua menghadapi perpisahan tersebut. Semakin tinggi tingkat konflik sebelum dan setelah perceraian, semakin besar kemungkinan anak mengalami masalah psikologis.

Salah satu dampak yang banyak dialami anak-anak adalah masalah emosional. Anak-anak yang orang tuanya bercerai sering merasakan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, serta kehilangan. Mereka merasa telah kehilangan keutuhan keluarganya yang sebelumnya menjadi sumber kasih sayang, perhatian, dan rasa aman. Menurut penelitian oleh (Meyrina et al., 2024), perceraian dapat mengakibatkan anak mengalami tekanan emosional yang terlihat dari munculnya kesedihan, kecemasan, dan ketidakseimbangan emosi. Selain itu, ada anak yang mengalami konflik batin karena harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua tidak lagi tinggal serumah. Tidak jarang, anak merasa malu dengan keadaan keluarganya atau bahkan menyalahkan diri sendiri atas perceraian yang terjadi.

Di samping memengaruhi emosi, perceraian juga berdampak pada kesehatan mental anak. Perubahan dalam situasi keluarga menuntut anak untuk beradaptasi dengan lingkungan dan cara hidup yang baru. Hal ini dapat memicu stres, kecemasan, rasa takut, dan menurunkan kepercayaan diri anak. Menurut (Afrida Sasya Novitasari, 2024), anak-anak yang mengalami perceraian berisiko lebih tinggi untuk menghadapi masalah kesehatan mental dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis. Jika tekanan psikologis ini berlangsung lama tanpa dukungan yang cukup, keadaan tersebut bisa mengganggu kesehatan mental anak dan memengaruhi perkembangan mereka.

Dampak dari perceraian juga dapat terlihat dalam kehidupan sosial anak. Beberapa anak menjadi lebih introvert dan memilih untuk menjauh dari pergaulan karena merasa berbeda dengan teman-temannya. Mereka cenderung menyimpan masalah yang dihadapi dan kurang mau berbagi cerita dengan orang lain. Namun, ada juga anak yang menunjukkan perilaku agresif sebagai cara untuk mengungkapkan emosi yang tertekan. (Meyrina et al., 2024)menjelaskan bahwa perubahan dalam perilaku sosial seperti kesulitan beradaptasi, menarik diri dari lingkungan, dan berkurangnya rasa percaya kepada orang lain, merupakan dampak yang sering terjadi pada anak-anak yang menghadapi perceraian orang tua.

Tidak hanya berdampak pada emosi, mental, dan sosial, perceraian juga dapat memengaruhi prestasi akademis anak. Anak yang menghadapi masalah dalam keluarga sering mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Pikiran mereka lebih terfokus pada situasi keluarga, sehingga motivasi untuk belajar menurun. Hal ini berakibat pada penurunan prestasi akademik anak jika tidak ada dukungan yang memadai dari keluarga atau sekolah. Penelitian oleh (Meyrina et al., 2024) menunjukkan bahwa gangguan psikologis yang dialami anak akibat perceraian dapat memengaruhi semangat belajar dan pencapaian akademiknya.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, tetapi juga berdampak signifikan pada kondisi psikologis anak. Dampak-dampak tersebut mencakup masalah emosional, kesehatan mental, interaksi sosial, hingga prestasi belajar. Oleh karena itu, perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari kedua orang tua tetap sangat penting agar anak dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dan terhindar dari dampak psikologis yang lebih serius.

Perspektif Islam terhadap Anak Pasca Perceraian

Berbagai dampak psikologis yang dialami anak akibat perceraian menunjukkan bahwa anak merupakan pihak yang paling rentan dalam peristiwa tersebut. Dalam Islam, anak tetap memiliki hak untuk memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan pengasuhan yang baik meskipun orang tuanya telah bercerai. Oleh karena itu, kesejahteraan anak harus menjadi prioritas utama setelah perceraian terjadi. Islam menegaskan bahwa berakhirnya hubungan suami dan istri tidak menghapus tanggung jawab kedua orang tua terhadap anak. Baik ayah maupun ibu tetap berkewajiban memenuhi kebutuhan anak serta memastikan proses tumbuh kembangnya berlangsung secara optimal.

Menurut (Haiba & Nugraheni, 2024) penentuan hak asuh anak setelah perceraian harus didasarkan pada prinsip kepentingan terbaik anak. Pertimbangan terpenting dalam menentukan siapa yang mengasuh anak bukanlah hak orang tua saja, tetapi juga kesejahteraan anak, cara orang tua bersikap, kemampuan kedua orang tua bekerja sama, serta bagaimana pembagian waktu pengasuhan bisa membantu anak berkembang dengan baik.

Di samping itu, (Herdawati & Ridwan, 2022) mengungkapkan bahwa perceraian tidak menghapus tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak. Hubungan sebagai pasangan suami istri memang berakhir, namun hubungan antara orang tua dan anak harus tetap terjalin dengan baik. Oleh sebab itu, kedua orang tua perlu menjaga komunikasi yang konstruktif dengan anak, memberikan perhatian yang cukup, serta menghindari konflik yang bisa membuat anak merasa tertekan. Sikap saling menghargai dan kolaborasi dalam pengasuhan anak juga sangat penting agar anak tetap merasa dicintai dan diingat oleh kedua orang tuanya.

Dari sudut pandang ini, dapat disimpulkan bahwa Islam tidak hanya mengatur soal perceraian, tetapi juga memberi perhatian besar terhadap kesejahteraan anak setelah perceraian tersebut. Melalui pengasuhan yang baik, pemenuhan hak-hak anak, serta dukungan emosional yang terus-menerus, dampak psikologis yang timbul akibat perceraian dapat diminimalkan. Dengan cara ini, anak masih memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik meskipun berasal dari keluarga yang mengalami perceraian.

Kesimpulan

Perceraian adalah situasi yang bisa memberikan efek psikologis yang cukup signifikan bagi anak. Efek tersebut dapat terlihat pada aspek emosional, kesehatan mental, interaksi sosial, hingga pencapaian akademis anak. Anak-anak yang mengalami perceraian orang tua biasanya lebih mudah merasa sedih, cemas, tertekan, dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan dalam keluarga. Oleh karena itu, sangat penting bagi kedua orang tua untuk memberikan dukungan, perhatian, dan kasih sayang, agar anak mampu menghadapi situasi ini dengan baik.

Dalam pandangan Islam, perceraian tidak menghilangkan tanggung jawab orang tua terhadap anak. Islam menekankan bahwa kesejahteraan anak harus tetap dijadikan prioritas utama setelah perceraian. Kedua orang tua masih bertanggung jawab untuk memberikan pendekatan, pendidikan, perlindungan, serta dukungan emosional yang dibutuhkan oleh anak. Dengan memenuhi hak-hak anak dan menjalin kerja sama yang baik di antara orang tua, dampak psikologis dari perceraian bisa diminimalkan sehingga anak tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.