Pengaruh Psychological Distress terhadap Preferensi Konsumsi Produk Lokal pada Mahasiswa di Tengah Pelemahan Rupiah

oleh
oleh

Penulis:Muhammad Sutan Sa’alih, Ahmad Fadli, Audria Maharani Eurekha. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Fluktuasi depresiatif nilai tukar Rupiah berpotensi memicu konsekuensi psikososial signifikan bagi mahasiswa dewasa awal dengan keterbatasan finansial. Tekanan ekonomi ini menginduksi psychological distress yang termanifestasi dalam kecemasan dan depresi. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh distress terhadap preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa. Menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori, studi melibatkan 54 partisipan dipilih secara purposif. Instrumen K10 dan skala preferensi produk lokal digunakan, lalu dianalisis dengan korelasi Pearson dan regresi linear sederhana melalui SPSS. Hasil mengungkap korelasi positif signifikan (r=.276, p<.05), dan analisis regresi mengonfirmasi bahwa preferensi produk lokal secara signifikan memprediksi psychological distress (β=.276, p=.044), dengan kontribusi efektif sebesar 7.6%. Temuan menandakan bahwa perubahan orientasi konsumsi mahasiswa ke produk domestik berkaitan erat dengan kondisi afektif negatif mereka dalam merespons tekanan ekonomi.

Dinamika ekonomi global yang tidak menentu sering kali mengguncang stabilitas makroekonomi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang salah satunya ditandai dengan depresiasi atau pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Secara makro, kemerosotan nilai mata uang domestik ini berimplikasi langsung pada lonjakan harga komoditas impor sehingga memicu inflasi (imported inflation) dan mendepresiasi daya beli riil masyarakat (Perwira Ompusunggu et al., 2025; Sakir et al., 2020; Saragih, 2016). Dampak berantai ini merambah hingga ke level mikro, memengaruhi kelompok rentan dengan kemampuan finansial terbatas, salah satunya mahasiswa yang berada pada fase transisi menuju kedewasaan (emerging adulthood). Dalam kondisi ketidakpastian finansial tersebut, mahasiswa sangat rentan mengalami psychological distress suatu kondisi ketidaknyamanan emosional subjektif berupa kecemasan (anxiety) dan depresi (depression) akibat tekanan stresor lingkungan (Jatmika, 2020; Maharani, 2021). Lonjakan inflasi dan biaya hidup akibat depresiasi Rupiah ini akhirnya memperberat tekanan akademis serta sosial mahasiswa, yang secara signifikan mengakselerasi tingkat distress psikologis mereka (Maukar & Huwae, 2024).

Tekanan mental dan keterbatasan finansial ini secara signifikan mengubah pola konsumsi harian mahasiswa, khususnya ketika harga barang impor bermerek global melonjak akibat pelemahan kurs, sehingga mendorong mereka untuk mengalihkan preferensi pada produk lokal. Dari sudut pandang teoritis, fenomena penyesuaian harga domestik akibat fluktuasi nilai tukar ini sejalan dengan Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity/PPP) yang mengasumsikan adanya penyesuaian harga relatif antarnegara (Ayesa Venia et al., 2026) serta didukung oleh Teori Mundell-Fleming yang menjelaskan bagaimana depresiasi mata uang dalam perekonomian terbuka memicu inflasi sisi penawaran (cost-push inflation) yang menekan tingkat konsumsi (Perwira Ompusunggu et al., 2025; Saragih, 2016) Ketimpangan ekonomi ini kemudian memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa, yang dapat dibahas melalui Teori Kesenjangan Diri (Self-Discrepancy Theory). Teori ini mengemukakan bahwa diskrepansi antara diri aktual (actual self) dan diri ideal (ideal self) akibat ketidakmampuan mempertahankan standar hidup tertentu di masa sulit akan memicu afek negatif seperti kecemasan. Kondisi emosional yang tertekan ini memaksa individu mengaktifkan mekanisme koping (coping mechanism) guna memulihkan atau meredakan distorsi psikologis tersebut (Cili & Alkhaliq, 2022; Jatmika, 2020; Maukar & Huwae, 2024).

Hubungan kausal antara psychological distress dan keputusan konsumsi ini dapat dipahami melalui kerangka Teori Konsumsi Kompensatori (Compensatory Consumption Theory), yang menyatakan bahwa saat seseorang menghadapi ancaman identitas atau kekurangan psikologis (psychological deficiency), mereka akan menggunakan aktivitas belanja sebagai instrumen koping untuk memperbaiki suasana hati (mood regulation) dan merekonstruksi harga diri mereka (Koles et al., 2018; Maharani, 2021; Tri & Wenas, 2017). Di sisi lain, perilaku kompensasi ini juga diperkuat oleh Teori Etnosentrisme Konsumen (Consumer Ethnocentrism Theory) yang menjelaskan bahwa dalam situasi krisis atau ancaman ekonomi luar, konsumen cenderung memprioritaskan produk dalam negeri dan memandang pembelian produk asing sebagai tindakan yang tidak (Gonda et al., 2021; Munib, 2016; Staal & Wardaya, 2021). Oleh sebab itu, peralihan preferensi ke produk lokal tidak hanya didasari oleh motif ekonomi rasional demi efisiensi anggaran, melainkan juga berfungsi sebagai media kompensasi sosiopsikologis yang aman secara finansial sekaligus menawarkan nilai kebanggaan (prestige), keautentikan, rasa kepemilikan, dan penguatan identitas budaya di kalangan mahasiswa (Asfan et al., 2026; Ayu Murtini et al., 2026; Tri & Wenas, 2017).

Meskipun studi mengenai aspek makro ekonomi, perilaku konsumen, dan kesehatan mental mahasiswa telah banyak dipublikasikan secara terpisah, terdapat kesenjangan penelitian (research gap) penting yang perlu dipecahkan melalui penelitian ini. Pertama, terdapat dikotomi yang jelas dalam literatur terdahulu, di mana analisis depresiasi Rupiah umumnya

dibahas dalam lingkup ekonomi makro murni terkait inflasi dan pertumbuhan (Ayesa Venia et al., 2026; Perwira Ompusunggu et al., 2025; Saragih, 2016), tanpa memedulikan bagaimana fluktuasi nilai tukar ini diterjemahkan menjadi stresor psikologis bagi individu di tingkat mikro. Kedua, studi psikologi mengenai psychological distress mahasiswa selama ini lebih banyak dikaitkan dengan penurunan prestasi akademik (Maharani, 2021) atau perilaku koping yang maladaptif seperti ketergantungan internet (problematic internet use) (Jatmika, 2020), sehingga mengabaikan potensi distress sebagai pemicu perilaku koping ekonomi yang adaptif dan konstruktif seperti pemilihan produk dalam negeri. Ketiga, literatur mengenai preferensi produk lokal masih sering mengabaikan dimensi kesehatan mental (psychological distress) dan guncangan ekonomi eksternal, serta cenderung terfokus pada elemen bauran pemasaran internal seperti harga atau citra merek (Asfan et al., 2026; Mulyati, 2023). Dengan mengintegrasikan aspek-aspek tersebut di bawah payung Compensatory Consumption Theory.

Sejauh penelusuran peneliti, masih terbatas penelitian yang secara khusus menguji pengaruh psychological distress terhadap preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa dalam konteks pelemahan nilai tukar rupiah. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih berfokus pada dampak psychological distress terhadap kesehatan mental dan perilaku maladaptif, atau mengkaji preferensi produk lokal dari sudut pandang pemasaran dan perilaku konsumen tanpa mempertimbangkan faktor kesehatan mental. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan perspektif komprehensif mengenai dinamika perilaku konsumsi mahasiswa dalam merespons tekanan ekonomi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh psychological distress terhadap preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Hipotesis penelitian yang diajukan adalah H1: Psychological distress berpengaruh signifikan terhadap preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah.

Penelitian ini mengimplementasikan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori untuk menguji pengaruh psychological distress terhadap preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa di tengah fenomena depresiasi Rupiah. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada tujuan studi untuk menguji hubungan kausalitas antarvariabel melalui pengukuran numerik dan analisis statistik inferensial (Creswell & Creswell, 2018).

Populasi sasaran mencakup mahasiswa aktif yang berada dalam rentang usia 18–25 tahun, yang merepresentasikan fase emerging adulthood (Arnett, 2000). Teknik purposive sampling diterapkan untuk menentukan sampel berdasarkan karakteristik spesifik yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2021), dengan kriteria inklusi: mahasiswa aktif berusia minimal 18 tahun, memiliki riwayat pembelian atau konsumsi produk lokal dalam tiga bulan terakhir, serta mengetahui isu pelemahan Rupiah.

Variabel independen adalah psychological distress, sedangkan variabel dependen adalah preferensi konsumsi produk lokal. Psychological distress didefinisikan sebagai kondisi ketidaknyamanan emosional yang ditandai gejala kecemasan dan depresi (Kessler et al., 2012), yang diukur menggunakan Kessler Psychological Distress Scale (K10) (Kessler et al., 2012). Preferensi konsumsi produk lokal didefinisikan sebagai kecenderungan memilih, membeli, dan menggunakan produk domestik dibanding produk impor (Mulyati, 2023), yang diukur melalui skala berbasis indikator kecenderungan memilih, minat beli, penggunaan, dan prioritas terhadap produk lokal.

Pengumpulan data dilaksanakan secara daring melalui kuesioner Google Forms dengan skala Likert empat poin (1–4). Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS, yang mencakup statistik deskriptif, uji asumsi (normalitas dan linearitas), serta uji regresi linear sederhana guna menguji pengaruh antarvariabel pada 54 responden. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 0,05; hipotesis diterima apabila nilai p < 0,05.

Hasil dan Pembahasan

Bagian ini menyajikan data-data statistik yang diperoleh untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai hubungan dan pengaruh antara variabel Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL) dan Psychological Distress (PD) pada mahasiswa di tengah situasi pelemahan nilai tukar Rupiah. Data penelitian ini dikumpulkan dari N = 54 responden mahasiswa aktif. Untuk mengolah data tersebut, saya menggunakan uji korelasi Pearson Product-Moment dan analisis regresi linear sederhana melalui bantuan program SPSS.

Analisis Deskriptif Variabel

Sebelum masuk ke analisis hipotesis, dilakukan analisis statistik deskriptif terlebih dahulu untuk mengetahui gambaran umum mengenai nilai rata-rata (mean) dan sebaran data (standard deviation) dari masing-masing variabel penelitian. Ringkasan dari hasil deskriptif ini dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Variabel M SD N
Psychological Distress (PD) 23.74 5.557 54
Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL) 46.35 6.673 54

CatatanM = Mean (Rata-rata empiris); SD = Standard Deviation (Simpangan baku).

Berdasarkan Tabel di atas, kita dapat melihat bahwa variabel Psychological Distress (PD) memiliki nilai rata-rata (M) sebesar 23.74 dengan standar deviasi (SD) sebesar 5.557. Sementara itu, untuk variabel Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL), nilai rata-rata (M) yang diperoleh adalah sebesar 46.35 dengan standar deviasi (SD) sebesar 6.673.

Analisis Korelasi Pearson

Uji korelasi Pearson Product-Moment digunakan untuk menguji apakah ada hubungan linear antara Preferensi Konsumsi Produk Lokal dan Psychological Distress. Matriks korelasi antavariabel disajikan secara ringkas pada Tabel 2.

Matriks Korelasi Pearson Antara Variabel PKPL dan PD
Variabel 1 2
1. Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL) .276*
2. Psychological Distress (PD) .276*
Catatan. N = 54.

 

p < .05 (1-tailed), dengan nilai aktual p = .022.

 

Berdasarkan hasil uji korelasi pada Tabel , didapatkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar .276 dengan nilai signifikansi p = .022. Karena nilai p < 0.05, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara Preferensi Konsumsi Produk Lokal dan Psychological Distress (r(52) = .276, p = .022).

Jika dilihat dari kekuatan hubungannya, nilai koefisien korelasi sebesar .276 ini termasuk

dalam kategori hubungan yang lemah ke sedang (weak-to-moderate positive correlation). Arti dari hubungan positif ini adalah semakin tinggi tingkat preferensi mahasiswa dalam mengonsumsi produk lokal, maka tingkat kecemasan atau psychological distress yang mereka rasakan juga cenderung meningkat.

Ketepatan Model (Model Fit) dan Koefisien Determinasi (R2)

Untuk melihat seberapa besar variabel independen bisa menjelaskan variabel dependen, kita bisa merujuk pada nilai koefisien determinasi (R2) yang disajikan pada Tabel.

Ringkasan Model Regresi (Model Summary)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .276 .076 .058 5.392

 Catatan. Prediktor: (Constant), Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL). Variabel Dependen: Psychological Distress (PD).

Berdasarkan Tabel di atas, didapatkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar .076. Angka ini menunjukkan bahwa variabel Preferensi Konsumsi Produk Lokal memberikan kontribusi pengaruh sebesar 7.6% terhadap naik-turunnya tingkat Psychological Distress mahasiswa di tengah pelemahan Rupiah. Sementara itu, sisa variansinya yaitu sebesar 92.4% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini yang tidak diteliti.

Uji Kelayakan Model (Uji F / ANOVA)

Sebelum melihat pengaruh parsialnya, kelayakan model regresi ini diuji terlebih dahulu menggunakan analisis ANOVA (Uji F) untuk memastikan apakah model ini layak digunakan untuk memprediksi data. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel .

Hasil Analisis Varians (ANOVA) Kelayakan Model

Model Sum of Squares df Mean Square F p
1 Regresi 124.426 1 124.426 4.279 .044

 

Residual 1511.945 52 29.076
Total 1636.370 53

 

Catatan. Prediktor: (Constant), Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL). Variabel Dependen: Psychological Distress (PD).

Dari Tabel di atas, diperoleh nilai F(1, 52) = 4.279 dengan nilai signifikansi p = .044. Karena nilai signifikansinya lebih kecil dari taraf nyata yang ditentukan (p < .05), maka model regresi ini dinyatakan fit atau layak secara statistik. Artinya, kita bisa menggunakan variabel Preferensi Konsumsi Produk Lokal secara signifikan untuk memprediksi tingkat Psychological Distress pada mahasiswa.

Koefisien Regresi dan Pengujian Parameter (Uji t) 

Selanjutnya, untuk melihat arah pengaruh serta signifikansi pengaruh dari masing-masing parameter secara parsial, digunakan uji t. Hasil estimasi parameter regresi ini disajikan pada Tabel.

Koefisien Regresi Pengaruh PKPL terhadap PD

Model Unstandardized B Std. Error Standardized \beta t p
1 (Constant) 13.098 5.197 2.521 .015
PKPL .230 .111 .276 2.069 .044

 

Catatan. Variabel Dependen: Psychological Distress (PD).

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel di atas, diperoleh persamaan regresi linear sederhana sebagai berikut:

Y = 13.098 + 0.230\text(X)

Di mana variabel (Y) menggambarkan nilai estimasi dari Psychological Distress (PD) dan variabel (X) adalah skor dari Preferensi Konsumsi Produk Lokal (PKPL). Persamaan tersebut dapat kita artikan sebagai berikut:

  1. Konstanta (a) sebesar 13.098 menunjukkan bahwa jika diasumsikan variabel Preferensi Konsumsi Produk Lokal bernilai konstan atau nol, maka estimasi skor tingkat Psychological Distress mahasiswa adalah sebesar 13.098 satuan.
  2. Koefisien Regresi (b) sebesar 0.230 bernilai positif. Hal ini menunjukkan arah hubungan yang searah, di mana setiap kenaikan satu satuan skor Preferensi Konsumsi Produk Lokal diprediksi akan menaikkan skor Psychological Distress sebesar 0.230
  3. Uji t menunjukkan nilai t(52) = 2.069 dengan nilai signifikansi p = .044. Karena nilai signifikansinya lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan (p < .05), maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological distress dan preferensi konsumsi produk lokal pada mahasiswa di tengah kondisi pelemahan nilai tukar Rupiah. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan dengan kekuatan lemah hingga sedang antara kedua variabel (r = .276, p < .05), yang menunjukkan bahwa perubahan pada salah satu variabel berkaitan dengan perubahan pada variabel lainnya.

Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa model penelitian memiliki kelayakan statistik dengan nilai F(1,52) = 4.279 dan p = .044. Preferensi konsumsi produk lokal memberikan pengaruh signifikan terhadap psychological distress mahasiswa dengan nilai koefisien regresi positif (β = .276). Variabel preferensi konsumsi produk lokal mampu menjelaskan sebesar 7,6% variasi psychological distress, sedangkan 92,4% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumsi mahasiswa dalam memilih produk lokal tidak hanya berkaitan dengan pertimbangan ekonomi akibat meningkatnya harga produk impor, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kondisi psikologis mahasiswa dalam menghadapi tekanan ekonomi. Pemilihan produk lokal dapat menjadi salah satu bentuk adaptasi mahasiswa terhadap ketidakpastian finansial, meskipun hubungan antara perilaku konsumsi dan psychological distress masih dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kondisi akademik, dukungan sosial, kondisi finansial pribadi, serta strategi koping individu.

Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah responden yang lebih besar, mempertimbangkan variabel mediasi atau moderasi seperti literasi keuangan, coping mechanism, dan kondisi ekonomi keluarga, serta menggunakan desain penelitian longitudinal agar dapat memahami perubahan hubungan antara tekanan psikologis dan perilaku konsumsi secara lebih mendalam.