Gangguan Panik pada Remaja: Yang Perlu Kamu Tahu

oleh
oleh

Oleh: Aisya Aulia Rachma. Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

Apa yang terjadi pada Remaja di Indonesia?

Pernahkah kamu tiba-tiba merasakan detakan jantung yang sangat cepat, kesulitan bernapas, dan merasa berkeringat dingin, seakan ada bahaya yang akan muncul? Banyak remaja yang mengira bahwa keadaan ini hanyalah rasa cemas atau stres biasa. Namun, gejala-gejala ini sebenarnya bisa menjadi tanda dari serangan panik.

Data Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta orang berusia di atas 15 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dengan sekitar 12 juta di antaranya menderita depresi. Prevalensi gangguan Panik berkisar antara 1-4% dari seluruh populasi, sedangkan serangan Panik berada pada tingkat 3-6%. Wanita mengalami gangguan ini 2-3 kali lebih sering dibandingkan laki-laki (Kurniawan, dkk. 2022). Gangguan Panik dapat muncul kapan saja dalam kehidupan, dengan serangan tertinggi terjadi pada usia 20-an tahun, yang ditandai oleh serangan cemas mendadak, berulang, sesak napas, disertai perasaan bahaya yang akan datang, serta ketakutan akan kehilangan kendali atau menjadi gila.

Survei I-NAMHS tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia (sekitar 15,5 juta orang) menderita masalah kesehatan mental, di mana gangguan kecemasan merupakan yang paling sering ditemukan (26,7%), khususnya di kalangan remaja perempuan (28,28%) (Gea, dkk. 2025).

Kondisi semacam ini bukan hanya sekadar rasa cemas atau stres yang biasa. Dalam ranah kesehatan mental, ini dikenal sebagai serangan panik (Panic attack), dan jika terjadi secara berulang disertai dengan kekhawatiran yang terus-menerus, maka akan muncul yang disebut sebagai gangguan panik (Panic Disorder).  Peningkatan serangan panik dan gangguan kecemasan pada kalangan remaja merupakan salah satu isu kesehatan mental yang memerlukan perhatian yang serius, terutama di Indonesia (Kurniawan, dkk. 2022).

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Menurut pendekatan kognitif yang dikembangkan Clark (1986, dalam Davey, 2019), serangan panik muncul ketika seseorang merasakan suatu sensasi yang dianggap berbahaya. Clark berpendapat bahwa sensasi itu sering disebabkan oleh kecemasan, namun dapat juga berasal dari emosi lain seperti kemarahan atau kebahagiaan, atau dapat muncul akibat kejadian yang sebenarnya tidak berbahaya, misalnya saat berdiri terlalu cepat. Sensasi ini umumnya berbentuk fisik, seperti sesak napas atau pusing, tetapi juga dapat berupa aktivitas mental seperti pikiran yang tiba-tiba hampa. Agar suatu rangsangan dapat memicu serangan panik, rangsangan tersebut harus dianggap sebagai ancaman serius yang mungkin hadir, seperti keadaan darurat medis atau kehilangan kendali mental.

Ancaman tersebut membuat individu merasakan kecemasan serta mengalami gejala fisik yang terkait dengan kecemasan, yang kemudian diinterpretasikan sebagai bukti adanya bahaya yang lebih besar. Dalam waktu singkat, seseorang dapat terjebak dalam pengalaman yang sangat menakutkan dan tidak nyaman.

Clark juga mengemukakan bahwa bagi beberapa individu, sifat sensasi dan salah paham tersebut cenderung tetap sama, sedangkan bagi yang lainnya, berbagai jenis sensasi dapat memicu berbagai kesalahan pemahaman seiring berjalannya waktu.

Mengenali Gangguan Panik

Seseorang dapat dianggap menderita gangguan panik jika memenuhi setidaknya satu dari serangan tersebut selama 1 bulan atau lebih, di mana terjadi salah satu atau kedua hal (APA, 2013), yaitu:

Kekhawatiran atau kecemasan yang berkelanjutan tentang kemungkinan terjadinya serangan panik lainnya atau konsekuensinya (contohnya, kehilangan kendali, merasakan serangan jantung).

Perubahan perilaku yang besar dan tidak adaptif yang berkaitan dengan serangan tersebut (contohnya, tindakan yang ditujukan untuk menghindari serangan panik, seperti menjauhi aktivitas fisik atau situasi yang asing.

Seseorang mengalami satu atau lebih serangan panik yang muncul secara tiba-tiba. Jika serangan ini tidak dipahami dan tidak ditangani dengan baik, perasaan khawatir akan terjadinya serangan kembali mulai berkembang. Individu kemudian mulai menjauhkan diri dari keadaan yang dianggap bisa memicu serangan tersebut seperti kerumunan, angkutan umum, atau ruang kelas. (Kaplan & Sadock, 2010).

Selain evaluasi klinis, asesmen yang baik juga melibatkan peninjauan aspek psikososial, tekanan akademis, interaksi dalam keluarga, riwayat trauma, dan tingkat dukungan sosial yang tersedia. Di Indonesia, unsur budaya seperti ketidakbersediaan untuk mengakui adanya masalah psikologis juga harus menjadi bagian penting dalam gambaran klinis yang lengkap (Hawari, 2016).

Dari Serangan Panik Menuju Kondisi yang Lebih Berat

Gangguan panik tidak muncul dalam semalam. Ia berkembang secara bertahap, dan memahami perjalanannya penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi memburuk. Adapun dampak terhadap kesehatan mental pada remaja, jika tidak ditangani dengan benar, serangan panik dapat berkembang menjadi gangguan Panik yang lebih parah (Fadilla dan Amelia, 2025). Gangguan panik dapat menurunkan kualitas hidup remaja serta kemampuan beraktivitas sehari-hari, Meningkatnya kemungkinan bunuh diri, Masalah tidur (insomnia), serta penurunan konsentrasi belajar, dan Perasaan rendah diri yang membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial.

Tanda-tanda yang Harus Diperhatikan

Tidak semua rasa cemas atau detak jantung yang cepat menunjukkan bahwa seseorang menderita gangguan panik. Namun, ada beberapa indikasi yang penting untuk diperhatikan, terutama pada kalangan remaja.

Seorang remaja bisa diduga mengalami gangguan panik jika :

  • Mengalami lebih dari satu serangan panik tanpa ada pemicu yang jelas
    setelah serangan merasa cemas terus-menerus akan kemungkinan serangan berikutnya
  • Mulai menghindari tempat atau situasi tertentu karena takut akan memicu serangan gejala fisik yang dialami tidak dapat dijelaskan oleh kondisi medis setelah dilakukan pemeriksaan (Nevid, Rathus & Greene, 2018).

Pada kalangan remaja, indikasi-indikasi ini sering tertutupi oleh perilaku lain yang terlihat lebih umum, seperti sering tidak hadir di sekolah, menghindari presentasi di kelas, atau tiba-tiba menolak untuk menggunakan transportasi umum. Guru dan orang tua disarankan untuk lebih peka terhadap pola perilaku penghindaran yang muncul tanpa alasan yang jelas (Prajogo & Yudiarso, 2021).

Apa yang bisa dilakukan?

Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
CBT telah terbukti efektif dalam mengurangi kecemasan sosial serta gejala serangan panik (Mulyatno, 2022).

Penelitian mengungkapkan bahwa CBT memberikan perbaikan yang berarti baik secara klinis maupun statistik terhadap gejala panik.

Berbicara dengan seseorang yang dapat dipercaya seperti orang tua, konselor di sekolah, atau sahabat dekat sangatlah penting. Memahami bahwa perasaan fisik yang muncul saat serangan itu tidak berbahaya adalah langkah penting dalam proses pemulihan. Teknik pernapasan diafragmatis yang meliputi menarik napas dengan perlahan lewat hidung, menahan sejenak, kemudian mengeluarkannya melalui mulut terbukti efektif dalam mengurangi tingkat intensitas serangan (Hawari, 2016).

Bagi orang tua dan guru, respons awal sangat penting. Menyimak tanpa langsung memberi penilaian atau meremehkan merupakan tindakan yang mudah dilakukan tetapi memiliki pengaruh signifikan. Perhatikan gejala seperti sering tidak hadir, menjauh dari keadaan tertentu, atau terus-menerus mengeluhkan rasa sakit tanpa ada diagnosis medis yang jelas. Jika gejala-gejala ini terlihat, langkah untuk merujuk ke seorang konselor atau psikolog harus dilakukan dengan segera.

Jika gejala yang dirasakan semakin sering terjadi, mengganggu kegiatan belajar, interaksi sosial, atau rutinitas harian, Tidak perlu ragu untuk mencari dukungan dari profesional, sangat penting untuk mendapatkan bantuan dari psikolog, konselor, atau psikiater. Menerima bantuan lebih awal dapat mencegah kondisi menjadi lebih berat dan mendukung proses pemulihan yang lebih optimal.

Di tengah berbagai tekanan akademik, hubungan sosial, dan perkembangan diri, kesehatan mental remaja harus mendapat perhatian sama pentingnya dengan kesehatan fisiknya. Serangan panik bukanlah indikasi dari kelemahan atau ketidakmampuan individu dalam mengatasi masalah, tetapi merupakan sebuah kondisi mental yang dapat diatasi dengan bantuan yang sesuai. Semakin cepat gejala terdeteksi dan diatasi, semakin besar kemungkinan remaja untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman dan kepercayaan diri.