Oleh Fatmah Ramadhani, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Percayakah Anda, penulis memilih judul di atas bukan sedang menggunakan majas hiperbola. Bahkan membaca dan menulisnya pun harus menahan sesak di dada. Bukan penulis yang mempunyai ide menetapkan Gaza sebagai tempat paling mematikan di dunia, namun Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) sendiri yang menyatakannya. Lewat unggahannya di X yang menandai Hari Kebebasan Pers Dunia, OHCHR sebagai salah satu badan di PBB menyebut Jalur Gaza merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis. Badan PBB ini juga mendesak komunitas internasional untuk melakukan tindakan nyata dan bukan hanya sekadar menyampaikan kecaman dan solidaritas.
Dikutip dari bali.antaranews.com (04/05/2026), Kepala HAM PBB Volker Türk mengatakan perang yang hingga kini masih berlangsung di Gaza telah menjadi jebakan maut bagi media. OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023, ketika Zionis Israel mulai meluncurkan agresi ke Gaza.
Israel tidak henti-hentinya melakukan serangan dengan dalih menargetkan kelompok militan. Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2025 hingga kini serangan Israel masih berlangsung. Baik AS maupun Israel justru saling menuduh terkait pelanggaran perjanjian damai yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Serangan dengan dalih menargetkan kelompok militan masih terjadi di Jalur Gaza. Tepatnya pada 8 Mei 2026 waktu setempat, Zionis Israel melancarkan serangan udara, sebagaimana diberitakan metrotvnews.com (10/05/2026). Akibat serangan tersebut, sejumlah bangunan tempat tinggal warga hancur dan beberapa warga sipil, termasuk anak-anak, dilaporkan mengalami luka-luka.
Namun, ungkapan kekecewaan warga Palestina terhadap tindakan Israel karena pengeboman tersebut dilakukan di tengah periode gencatan senjata yang sedang berlangsung hanya dianggap angin lalu.
Puncak dari seluruh serangan yang dilakukan oleh Zionis ini tidak lain merupakan dehumanisasi Muslim Palestina yang sangat mengerikan. Setiap hari kita disajikan berita orang-orang Palestina yang hidup dibunuh, baik laki-laki, perempuan, tua-muda, termasuk anak-anak yang tidak berdosa.
Dehumanisasi Gaza adalah upaya untuk menghilangkan sisi manusiawi dari warga Palestina agar tindakan kekerasan terhadap mereka terasa biasa dan dapat diterima. Parahnya, dehumanisasi Gaza tidak hanya menimpa orang yang hidup, tetapi juga menimpa yang sudah mati. Kengerian dehumanisasi ini ditandai dengan larangan penguburan jenazah, bahkan yang sudah dikubur harus dibongkar untuk kemudian dipindahkan. Sungguh biadab, sudah mati pun masih juga diperlakukan tidak manusiawi.
Mengutip dari Al Jazeera (cnbcindonesia.com 10/05/2026), Israel memaksa sebuah keluarga Palestina menggali kembali makam ayah mereka yang dikuburkan di pemukiman Israel. Peristiwa tersebut terjadi di desa Asasa, dekat Jenin, wilayah Tepi Barat yang dihuni oleh Israel.
Dikutip dari antaranews.com (10/05/2026), menurut sumber medis setempat jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka. Sampai kapan kita harus menghitung korban? Bahkan perhitungan korban ini masih dilakukan padahal dalam masa gencatan senjata.
Kita harus sadari bersama, derita Palestina dan Gaza adalah derita untuk semua manusia. Dunia dan kaum Muslim seharusnya tidak boleh diam atas pembantaian di Gaza. Tidak akan ada asap bila tidak ada api. Sumber masalah Gaza yang sudah berlangsung sekian lama adalah akibat keberadaan entitas Zionis di tanah milik muslim Palestina.
Tentu bila entitas Zionis paling biadab di muka bumi ini dihapus dari muka bumi, barulah Gaza dan Palestina akan menemukan kemerdekaan. Sebab berulang kali diadakan diplomasi, gencatan senjata, perundingan, perjanjian damai, tapi dengan pongah semua dilanggar tanpa rasa malu oleh Zionis.
Maka, wahai para penguasa negeri-negeri Muslim yang ada di lebih dari 50 negeri Muslim hari ini. Kirimkan tentara-tentara militer kalian, lakukan jihad dan bebaskan Palestina. Jangan jadikan sekat nasionalisme dan negara bangsa membelenggu dan mengikis persaudaraan ukhuwah Islamiyah diantara kita umat Islam sedunia. Sadarlah, Zionis Israel hanya entitas kecil yang pasti keok karena tidak akan mampu menghadapi persatuan dan perlawanan yang kita lakukan.
Wahai umat Islam sedunia, bersatunya kita dan perlawanan yang kita lakukan pada Zionis dan para pendukungnya, hanya akan berhasil dengan terwujudnya Khilafah Islamiyah. Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zionis terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus mengurus dan melayani warga Palestina agar dapat hidup dengan layak.
Dengan adanya Khilafah, Palestina dan Gaza akan menjadi tempat paling aman untuk umat manusia. Bukan hanya bagi umat Muslim, tapi juga untuk kaum Yahudi, maupun Nasrani. Dengan Khilafah, segala bentuk dehumanisasi akan dihapus, kemanusiaan hakiki, kemuliaan umat, dan kerukunan umat beragama di pusat kota suci dunia akan terwujud.
Akhirul kalam, sudah sepantasnya agenda utama umat Islam hari ini adalah ikut berjuang dalam penegakan Khilafah Islamiyah. Karena Khilafah itu adalah milik umat, bukan milik gerakan atau ormas tertentu. Pastinya keberadaan Khilafah juga akan mengayomi seluruh umat dari berbagai gerakan, agama, maupun golongan, bukan hanya untuk Muslim Palestina, tapi untuk Muslim dan manusia di seluruh dunia.
Maka, agenda penegakkan Khilafah adalah PR utama umat Islam hari ini. Sewajarnya kita kerahkan segala daya dan upaya, baik berupa tenaga, pikiran, waktu, dan lainnya dalam dakwah penegakkan Khilafah Islamiyah, Insyaallah. Wallahu’alam.[]
