SRAGEN – Mahasiswa FSRD ISI Surakarta berpartisipasi aktif dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Proyek Kemanusiaan yang dilaksanakan bersama SLB Negeri Sragen.
Kegiatan ini menjadi ruang pengabdian mahasiswa di lingkungan pendidikan luar biasa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman nyata di masyarakat.
Seni menjadi bahasa pemersatu dalam kegiatan Gelar Karya sebagai Panggung Apresiasi yang digelar oleh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bersama SLBN Sragen.
Bertempat di Pendopo SLBN Sragen, Rabu (18/12/2025), kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara kreativitas, pendidikan inklusif, dan kolaborasi lintas peran dalam bingkai program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai ini tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga wadah evaluasi dan sosialisasi program sekolah.
Melalui gelar karya ini, siswa-siswi SLBN Sragen dan mahasiswa ISI Surakarta menampilkan hasil proses belajar dan berkarya yang dilakukan secara kolaboratif selama program berlangsung.
Tiga karya utama ditampilkan dalam kegiatan tersebut, yakni video story telling yang merekam narasi kreatif siswa, fashion show hasil karya batik yang digarap bersama, serta stand bazar yang menampilkan produk-produk kreatif kolaboratif.
Setiap karya mencerminkan proses pendampingan, eksplorasi ide, dan pengembangan potensi siswa-siswi SLBN Sragen melalui pendekatan seni yang inklusif.
Gelar karya ini menjadi panggung apresiasi yang memberi ruang bagi siswa-siswi berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan kepercayaan diri mereka di hadapan publik.
Di sisi lain, mahasiswa ISI Surakarta memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu seni di tengah masyarakat serta belajar membangun empati, komunikasi, dan kerja sama lintas latar belakang.
Kepala Sekolah SLBN Sragen, Ibu Mardani, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna penting bagi perkembangan siswa maupun mahasiswa.
“Gelar karya ini menjadi wadah apresiasi untuk karya siswa-siswi, dan mahasiswa ISI dalam MBKM ini dapat ikut berkolaborasi dalam menampilkan karya mereka yang digarap bersama siswa-siswi SLBN Sragen,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini juga menjadi media sosialisasi program sekolah kepada orang tua dan masyarakat, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan inklusif dapat berjalan berdampingan dengan pengembangan seni dan kreativitas. Seni diposisikan sebagai medium ekspresi yang mampu membuka ruang partisipasi setara bagi semua individu.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa ISI Surakarta turut berperan sebagai pendamping kreatif yang mendorong siswa-siswi SLBN Sragen untuk berani berekspresi dan mengembangkan potensi diri.
Program MBKM menjadi jembatan yang mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan, khususnya dalam konteks pendidikan luar biasa.
Pihak penyelenggara berharap, kegiatan gelar karya ini dapat menjadi langkah awal dari kerja sama berkelanjutan antara ISI Surakarta dan SLBN Sragen.
Ke depan, kolaborasi serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai model pembelajaran berbasis seni yang inklusif, partisipatif, dan berdampak sosial.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, seni tidak hanya hadir sebagai hasil karya, tetapi juga sebagai proses pembelajaran, pemberdayaan, dan penguatan nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.
TIM MBKM SLBN SRAGEN

