Oleh Naila Keisya Salsabila Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Gen Z dan Toxic Productivity: Ketika Istirahat Menjadi Rasa Bersalah
Oleh: Naila Keisya Salsabila
Di tengah perkembangan era digital yang serba cepat, produktivitas perlahan berubah menjadi standar keberhasilan seseorang. Generasi Z tumbuh di lingkungan yang dipenuhi tuntutan untuk terus berkembang, belajar dan menghasilkan sesuatu. Media sosial dipenuhi konten tentang pencapaian, target hidup, hingga motivasi untuk “tidak malas”. Akibatnya, banyak anak muda mulai merasa bahwa istirahat adalah bentuk kemunduran.
Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus selalu produktif secara berlebihan hingga mengabaikan kesehatan fisik maupun mentalnya (Farhansyah, 2023). Ironisnya, semakin seseorang memaksakan diri untuk terus aktif, budaya ini justru dianggap normal, bahkan dipuji.
Bagi sebagian Gen Z, hari tanpa kegiatan terasa seperti kegagalan. Saat orang lain terlihat sibuk mengikuti pelatihan, membangun karier, membuka usaha, atau mencapai berbagai pencapaian di usia muda, muncul tekanan untuk melakukan hal yang sama. Media sosial tanpa sadar menciptakan ruang perbandingan yang tidak ada habisnya. Kehidupan orang lain yang tampak “produktif” membuat banyak anak muda mempertanyakan dirinya sendiri hanya karena memilih beristirahat.
Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental Generasi Z juga semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Paparan konten yang terus menampilkan pencapaian orang lain dapat memicu stres, kecemasan, hingga tekanan psikologis akibat kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus (Firdausi, 2024). Akibatnya, banyak anak muda merasa harus selalu sibuk agar tidak dianggap tertinggal.
Fenomena toxic productivity juga terlihat dalam dunia kerja. Riset dari HiredToday menunjukkan bahwa 37% Gen Z meninggalkan pekerjaan karena kurangnya keseimbangan waktu, sementara hampir 57% mengalami lembur. Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan untuk terus bekerja dan memenuhi tuntutan produktivitas telah memengaruhi kualitas hidup generasi muda.
Padahal, manusia bukan mesin yang dapat bekerja tanpa henti. Tubuh dan pikiran tetap membutuhkan jeda untuk memulihkan energi. Sayangnya, budaya hustle culture yang terus digaungkan membuat istirahat sering dipandang sebagai kemalasan. Tidak sedikit orang yang merasa bersalah ketika tidur cukup, menikmati waktu luang, atau sekadar tidak melakukan apa pun dalam sehari. Perasaan bersalah tersebut muncul karena individu mulai mengaitkan waktu luang dengan hilangnya kesempatan untuk mencapai sesuatu. Akibatnya, istirahat dipandang sebagai hambatan terhadap produktivitas, bukan sebagai kebutuhan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
Padahal, pola hidup seperti ini justru dapat memicu burnout, kelelahan emosional, hingga menurunnya kesehatan mental (Alodokter, 2025).
Jika terus dibiarkan, toxic productivity dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental. Burnout, kecemasan, stres berkepanjangan, hingga kehilangan motivasi menjadi konsekuensi yang banyak dialami anak muda saat ini. Selain burnout, tekanan untuk terus produktif juga dapat memunculkan kecemasan ketika individu merasa tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis karena individu terus berada dalam tekanan untuk mencapai standar tertentu.
Produktif memang penting, tetapi menjadikan produktivitas sebagai satu-satunya ukuran nilai diri adalah hal yang berbahaya.
Produktivitas dan Krisis Nilai Diri pada Generasi Z
Di balik budaya produktivitas yang terus digaungkan, banyak Generasi Z tanpa sadar mulai mengaitkan nilai dirinya dengan pencapaian. Seseorang merasa berharga ketika berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan, aktif mengikuti kegiatan, atau mencapai target tertentu. Sebaliknya, ketika tidak melakukan apa pun, muncul rasa bersalah, cemas, bahkan takut dianggap gagal. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui self-worth theory yang menyatakan bahwa sebagian individu mengaitkan nilai dirinya dengan prestasi pencapaian. Akibatnya, ketika target tidak tercapai atau produktivitas menurun, muncul perasaan gagal, tidak berharga, dan rasa bersalah.
Kondisi ini membuat produktivitas tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan, melainkan alat untuk memperoleh validasi. Dalam psikologi, self-worth berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai nilai dan keberhargaan dirinya sendiri. Ketika nilai diri terlalu bergantung pada pencapaian, seseorang akan lebih mudah merasa tidak cukup apabila gagal memenuhi standar tertentu (BINUS University, 2022). Dalam kondisi tersebut, produktivitas tidak lagi menjadi sarana untuk mencapai tujuan, tetapi berubah menjadi cara untuk mempertahankan rasa berharga dalam diri. Akibatnya, individu dapat merasa bersalah ketika beristirahat karena menganggap dirinya tidak cukup produktif atau tidak melakukan sesuatu yang bernilai.
Media sosial turut memperparah keadaan melalui fenomena social comparison atau perbandingan sosial. Seseorang cenderung membandingkan kehidupan dirinya dengan pencapaian orang lain yang terlihat di media sosial. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya terlihat lebih sukses, lebih sibuk, atau lebih produktif (CXO Media, 2022).
Dalam psikologi, kondisi ini sejalan dengan social comparison theory yang dikemukakan oleh Festinger. Teori tersebut menjelaskan bahwa individu cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain. Ketika perbandingan dilakukan secara terus menerus, terutama melalui media sosial, seseorang dapat merasa tertinggal dan tidak cukup baik meskipun sebenarnya telah memiliki pencapaian yang baik.
Pada era digital, media sosial memungkinkan individu untuk terus melihat pencapaian, aktivitas, dan keberhasilan orang lain. Tekanan untuk menyamai atau melampaui pencapaian tersebut kemudian mendorong sebagian individu untuk terus bekerja dan beraktivitas secara berlebihan, sehingga produktivitas tidak lagi dilakukan secara sehat melainkan menjadi tuntutan yang sulit dihentikan.
Paparan tersebut membuat proses perbandingan sosial terjadi lebih sering dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, sebagian Generasi Z mulai menetapkan standar yang tinggi berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial dan merasa perlu untuk terus berkembang agar tidak dianggap tertinggal.
Di sisi lain, kebutuhan akan validasi juga membuat sebagian Generasi Z terus memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja dan produktif di hadapan lingkungan sosialnya. Validasi diri sebenarnya penting agar seseorang mampu menerima dan memahami emosinya sendiri. Namun, ketika validasi hanya dicari melalui pengakuan sosial dan pencapaian, individu akan semakin sulit merasa puas terhadap dirinya sendiri (Edukasi NPD, 2024).
Jika kondisi ini terus berlangsung, produktivitas justru dapat berubah menjadi tekanan yang melelahkan. Alih-alih membantu seseorang berkembang, toxic productivity dapat membuat individu kehilangan keseimbangan hidup dan kesulitan menikmati proses yang dijalani
Dampak Toxic Productivity terhadap Kesehatan Mental
Pada awalnya, keinginan untuk menjadi produktif dapat membantu seseorang berkembang dan mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, ketika dorongan tersebut berubah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi setiap saat, produktivitas justru dapat berubah menjadi sumber tekanan.
Banyak Generasi Z merasa tidak memiliki cukup waktu untuk berhenti sejenak. Jadwal yang padat, target yang terus bertambah, serta keinginan untuk selalu berkembang membuat sebagian anak muda terbiasa mengabaikan kondisi dirinya sendiri. Mereka tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas tertentu meskipun sudah merasa lelah secara fisik maupun mental.
Kondisi ini dapat menyebabkan burnout, yaitu keadaan ketika seseorang mengalami kelelahan emosional, kehilangan energi dan menurunnya motivasi akibat tekanan yang terus berlangsung (Bleshin Psychology Program, 2024). Dalam jangka panjang, burnout tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.
Fenomena tersebut juga banyak ditemukan di lingkungan perkuliahan. Tidak sedikit mahasiswa merasa harus aktif dalam berbagai kegiatan sekaligus agar dianggap berhasil. Akibatnya, waktu istirahat sering dikorbankan demi memenuhi ekspektasi akademik maupun sosial. Padahal, tekanan yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi (Universitas Bandar Lampung, 2024).
Selain kelelahan mental, toxic productivity juga membuat seseorang semakin sulit menikmati hidup secara sederhana. Waktu luang terasa tidak berguna apabila tidak diisi dengan aktivitas yang dianggap “bermanfaat”. Bahkan, ada individu yang merasa bersalah hanya karena memilih tidur lebih lama atau mengambil jeda dari kesibukannya.
Jika kondisi terus berlangsung, produktivitas tidak lagi membantu seseorang berkembang, melainkan menjadi tekanan yang perlahan menguras energi dan kesehatan mentalnya.
Membangun Hubungan yang Sehat dengan Produktivitas
Produktif pada dasarnya bukanlah hal yang buruk. Keinginan untuk berkembang, belajar, dan mencapai tujuan merupakan bagian dari proses kehidupan. Namun, produktivitas akan menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa harus terus bekerja tanpa memberi bagi dirinya sendiri untuk beristirahat.
Banyak Generasi Z tumbuh dengan anggapan bahwa waktu yang berharga adalah waktu yang selalu diisi dengan aktivitas. Akibatnya, beristirahat sering dianggap sebagai bentuk kemalasan atau ketertinggalan. Padahal, tubuh dan pikiran manusia memiliki batas yang perlu dihargai. Seseorang tidak harus terus bergerak untuk membuktikan bahwa dirinya bernilai.
Membangun hubungan yang sehat dengan produktivitas dapat dimulai dengan memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa sibuk seseorang setiap hari. Tidak semua pencapaian harus diburu dalam waktu singkat, dan tidak semua waktu luang harus diubah menjadi target baru. Memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental.
Selain itu, penting bagi Generasi Z untuk mulai mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Kehidupan yang terlihat sempurna di internet tidak selalu menggambarkan realitas yang sebenernya. Setiap individu memiliki proses, kemampuan dan waktunya masing-masing
Sudah saatnya Generasi Z memahami bahwa beristirahat bukan berarti gagal. Tidak semua waktu harus diisi dengan pencapaian. Kadang, berhenti sejenak justru menjadi cara terbaik untuk bertahan. Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa sibuk seseorang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang tetap sehat dan mampu menikmati prosesnya.
Dan pada akhirnya, produktivitas yang sehat bukan tentang bekerja tanpa henti, melainkan tentang mampu menjalani kehidupan secara seimbang. Beristirahat bukan berarti kehilangan ambisi tetapi memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk pulih agar dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik
