Keluarga dalam Perspektif Muamalah: Bukan Sekedar Tinggal Bersama, Tetapi Tumbuh Bersama dalam Iman dan Kasih Sayang

oleh
oleh

Oleh: Dara Istyazzah, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Jurusan Psikologi

Ada sebuah pemandangan yang mungkin sangat kita kenal. Sebuah rumah dengan lampu yang menyala di malam hari, suara televisi dari ruang tengah, dan masing-masing anggota keluarga sibuk dengan gawainya sendiri-sendiri. Secara fisik mereka satu atap, tetapi secara ruhani mereka berjauhan. Inilah potret keluarga modern yang paling sering kita jumpai hari ini hadir secara jasad, tetapi absen secara jiwa. Islam, jauh sebelum psikolog modern berbicara tentang quality time dan emotional bonding, sudah meletakkan fondasi yang sangat dalam soal kehidupan keluarga. Bukan sekadar teori, melainkan sebuah sistem hidup yang disebut muamalah cara manusia berinteraksi satu sama lain dalam bingkai syariat yang memanusiakan.

Keluarga Bukan Proyek Administratif

Banyak keluarga yang dibangun di atas kerangka yang sangat administratif. Pernikahan diurus, KK dibuat, anak-anak disekolahkan, cicilan rumah dibayar. Semua berjalan, semua tertib. Tapi ada yang hilang: kehangatan yang tumbuh dari keterlibatan hati. Dalam perspektif muamalah, keluarga adalah ladang ibadah yang paling dekat dan paling nyata. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Sabda ini bukan sekadar motivasi pagi, melainkan standar karakter seorang Muslim yang paling terukur bukan dari penampilannya di luar rumah, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang paling dekat dengannya. Keluarga dalam Islam adalah institusi yang sakral sekaligus hangat. Di dalamnya ada hak dan kewajiban, tetapi juga ada cinta, tawa, air mata, dan pertumbuhan. Ia bukan kontrak bisnis yang kaku, melainkan perjanjian yang Allah saksikan langsung mitsaqan ghalizha, perjanjian yang kokoh.

Muamalah yang Dimulai dari Pintu Rumah

Ketika para ulama membahas bab muamalah, kita sering membayangkan transaksi di pasar, jual beli, utang piutang. Tapi sesungguhnya muamalah dimulai jauh sebelum kita keluar rumah. Ia dimulai dari cara seorang suami menyapa istrinya di pagi hari. Dari cara seorang ibu mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang sekolah. Dari cara seorang ayah meluangkan waktu untuk duduk bersama, bukan karena ada keperluan, tetapi karena memang ingin hadir.

Hadir. Kata yang sederhana tapi beratnya luar biasa.

Dalam fikih muamalah, ada prinsip yang disebut ‘adl keadilan. Dalam konteks keluarga, keadilan bukan berarti semua anak mendapat mainan yang sama persis. Keadilan berarti setiap anggota keluarga mendapat apa yang ia butuhkan perhatian, ruang bicara, rasa aman, dan kepercayaan. Seorang anak yang tumbuh tanpa didengar akan mencari telinga lain di luar rumah. Dan tidak semua telinga di luar sana bisa dipercaya.

Tumbuh Bersama: Lebih dari Sekadar Bertahan

Ada perbedaan besar antara keluarga yang bertahan dan keluarga yang tumbuh. Keluarga yang bertahan hanya memastikan tidak ada yang pergi, tidak ada yang menangis terlalu keras, tidak ada konflik yang meledak ke permukaan. Mereka berdamai dengan status quo. Tapi keluarga yang tumbuh mereka terus bergerak. Mereka mendiskusikan nilai-nilai. Mereka belajar bersama. Mereka mengevaluasi diri bersama setiap Ramadan datang. Mereka saling mengingatkan bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan keteladanan kecil yang konsisten. Tumbuh bersama dalam iman artinya shalat bukan hanya urusan masing-masing. Seorang ayah yang mengajak anaknya shalat Subuh berjamaah sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ritual. Ia sedang membentuk arsitektur jiwa anaknya bahwa hari dimulai dengan menyebut nama Allah, bahwa hidup ini ada yang mengawasi dan menyayangi. Tumbuh bersama dalam kasih sayang artinya konflik tidak diselesaikan dengan diam berminggu-minggu atau dengan kalimat-kalimat tajam yang membekas. Islam mengajarkan ishlah rekonsiliasi, penyelesaian, bukan penguburan masalah. Suami istri yang saling diam berhari-hari bukan berarti damai itu adalah luka yang dibiarkan mengering menjadi kerak.

Peran Orang Tua: Bukan Bos, Bukan Teman, tapi Murabbi

Salah satu kesalahan konsep yang sering muncul hari ini adalah orang tua yang ingin menjadi teman anaknya sepenuhnya. Niatnya baik: agar anak tidak segan, agar komunikasi terbuka. Tapi anak tetap butuh figur yang lebih dari sekadar teman. Mereka butuh murabbi pembimbing yang mencintai sekaligus mengarahkan. Seorang murabbi tidak hanya bertanya “kamu mau apa?” tetapi juga berani berkata “ini tidak baik untukmu, nak.” Dengan cara yang lembut, dengan argumen yang masuk akal, dengan wajah yang tetap hangat meski menyampaikan hal yang berat. Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau bermain dengan cucunya, mencium anak-anak kecil, dan bahkan pernah memanjangkan sujudnya karena sang cucu sedang menunggangi punggungnya. Tapi beliau juga tegas dalam nilai tidak ada kompromi untuk kejujuran, untuk keadilan, untuk akhlak. Kelembutan dan ketegasan bukan dua kutub yang berlawanan. Dalam keluarga yang sehat, keduanya hidup berdampingan.

Rumah sebagai Madrasah Pertama

Setiap anak lahir dalam kondisi fitrah bersih, cenderung kepada kebaikan. Tapi fitrah itu seperti benih: ia butuh tanah yang subur, air yang cukup, dan sinar matahari yang tepat. Rumah adalah tanah itu. Ketika di rumah anak melihat orang tuanya berselisih dengan cara yang bermartabat mendengarkan, tidak memotong, tidak meremehkan anak itu belajar tentang resolusi konflik yang sehat. Ketika ia melihat ayahnya bangun malam untuk tahajud, ia belajar bahwa ada dimensi kehidupan yang lebih dalam dari yang terlihat. Ketika ia melihat ibunya memperlakukan asisten rumah tangga dengan hormat, ia belajar bahwa martabat manusia tidak bergantung pada jabatan.

Tidak ada kurikulum yang lebih efektif dari keteladanan hidup sehari-hari.

Penutup

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, keluarga adalah tempat kita pulang bukan hanya secara fisik, tetapi secara ruhani. Tempat di mana kita boleh lelah tanpa harus tampak kuat. Tempat di mana nama kita dipanggil dengan cinta, bukan dengan transaksi. Muamalah keluarga yang baik bukan tentang keluarga yang sempurna tanpa masalah. Ia tentang keluarga yang ketika masalah datang, mereka menghadapinya bersama dengan sabar, dengan doa, dengan kepercayaan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan rumah tangga yang dibangun di atas nama-Nya. Karena pada akhirnya, surga yang paling dekat bukanlah di akhirat saja. Ia bisa kita cicip sejak hari ini di rumah yang di dalamnya ada shalat, ada senyum, ada maaf yang mudah diucapkan, dan ada cinta yang tumbuh bukan karena terpaksa, melainkan karena memang begitulah seharusnya kita saling memperlakukan satu sama lain.