Oleh Mutia Atifah
Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai bentuk kenakalan remaja seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, perundungan (bullying), balap liar, hingga tindakan kriminal yang melibatkan anak di bawah umur semakin sering menjadi perhatian masyarakat. Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga menguji ketahanan sosial masyarakat Indonesia.
Ketahanan sosial dapat diartikan sebagai kemampuan masyarakat untuk menjaga nilai, norma, dan keteraturan sosial dalam menghadapi berbagai tantangan. Ketika kenakalan remaja semakin meningkat, hal tersebut menunjukkan adanya gangguan terhadap fungsi sosial yang seharusnya berjalan dengan baik, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, kenakalan remaja tidak dapat dipandang sebagai kesalahan pribadi semata, melainkan sebagai masalah sosial yang memerlukan perhatian bersama.
Salah satu faktor yang mendorong munculnya kenakalan remaja adalah kurangnya pengawasan dan komunikasi dalam keluarga. Kesibukan orang tua sering kali membuat hubungan dengan anak menjadi kurang dekat sehingga remaja mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan luar. Selain itu, pengaruh teman sebaya juga sangat kuat pada masa remaja. Keinginan untuk diterima dalam kelompok terkadang membuat mereka melakukan tindakan yang melanggar norma dan hukum.
Di era digital, media sosial juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perilaku remaja. Kemudahan akses informasi memiliki banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga membuka peluang bagi remaja untuk terpapar konten negatif, kekerasan, maupun gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter dan literasi digital yang baik, remaja dapat dengan mudah meniru perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Meningkatnya kenakalan remaja menjadi ujian bagi ketahanan sosial masyarakat Indonesia karena dapat mengancam rasa aman, persatuan, dan kualitas generasi muda. Jika fenomena ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku dan keluarganya, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan remaja secara positif.
