Oleh: Gustin Nearlin Pradinda, mahasiswa Program Studi Psikologi- Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Harapan tidak selalu sesuai dengan hasil; ini adalah fakta yang harus dihadapi banyak orang sepanjang hidup mereka. Kekecewaan, kekhawatiran, dan kurangnya kejelasan mengenai arah hidup seseorang adalah respons emosional umum terhadap ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Kejadian ini menunjukkan bahwa harapan yang tidak terpenuhi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bereaksi dan menerima tantangan hidup, bukan hanya dengan tingkat keberhasilan seseorang. Di sinilah iman berperan sebagai komponen vital yang dapat memberikan ketahanan.
Dengan sudut pandang psikologis berdasarkan prinsip-prinsip agama Islam, artikel ini menelaah fenomena harapan yang mengecewakan. Untuk memahami bagaimana iman dapat membantu orang mengatasi kegagalan, perdebatan ini didasarkan pada studi literatur yang mencakup karya-karya dari psikologi Islam, psikologi agama, dan psikologi umum. Keyakinan mendasar yang menumbuhkan penerimaan diri dan ketahanan mental mencakup prinsip-prinsip iman seperti kesabaran, kepercayaan, dan keyakinan pada pemeliharaan Tuhan.
Iman, seperti yang ditunjukkan oleh pemikiran ini, bukan hanya landasan keyakinan agama tetapi juga dukungan psikologis yang memungkinkan orang untuk lebih memahami tantangan hidup. Seseorang mungkin akan mengevaluasi kembali tujuan hidupnya dan melanjutkan hidup dengan lebih tenang dengan menempatkan aspirasi yang tidak terpenuhi dalam konteks iman.
Harapan seseorang seringkali menjadi kunci utama dalam hidupnya. Orang mengembangkan arah tujuan untuk masa depan, menjaga motivasi diri, dan menetapkan tujuan hidup melalui harapan. Berharap yang terbaik didefinisikan oleh psikolog sebagai percaya pada kemampuan diri sendiri dan mengembangkan rencana untuk mencapai tujuan (Snyder, 2002). Namun demikian, rencana tidak selalu sesuai dengan kenyataan di jalan hidup. Berbagai macam emosi negatif, dari kekecewaan hingga kekhawatiran kronis, dapat terjadi ketika hasil aktual menyimpang dari harapan.
Ketika harapan seseorang tidak terpenuhi, hal itu dapat memengaruhi emosi mereka dan bahkan mengubah perspektif mereka tentang kehidupan. Ketika kita gagal, hal itu dapat membuat kita mempertanyakan makna, tujuan, dan nilai hidup kita. Menurut penelitian di bidang psikologi makna hidup, orang-orang dalam situasi seperti ini perlu membingkai ulang pengalaman mereka untuk melakukan penyesuaian psikologis (Park, 2010). Kesehatan mental seseorang dapat terganggu jika proses pemahaman mereka tentang dunia tidak berkembang seiring waktu. Di sisi lain, orang lebih mampu menghadapi badai kehidupan dan muncul lebih kuat ketika mereka dapat memahami makna di balik saat-saat tergelap mereka (Frankl, 2006).
Memiliki iman dan spiritualitas dapat memberi Anda kekuatan yang Anda butuhkan saat Anda melewati masa-masa sulit. Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa keyakinan agama merupakan faktor penting dalam mengatasi masalah kesehatan emosional dan mental. Orang yang memiliki iman lebih siap untuk melihat kesulitan bukan sebagai akhir dunia atau ketidakadilan, tetapi sebagai roda gigi dalam roda yang lebih besar (Koenig, 2012). Menurut penelitian dalam psikologi agama, mekanisme penanggulangan keagamaan memungkinkan orang untuk menyusun kembali sikap dan emosi mereka sebagai respons terhadap peristiwa yang berada di luar kendali mereka (Pargament, 1997; Ano & Vasconcelles, 2005).
Menurut psikologi Islam, untuk sepenuhnya memahami pikiran manusia, seseorang harus mencapai keseimbangan antara dunia materi dan dunia non-materi. Iman ditunjukkan sebagai sumber kekuatan batin yang mendorong ketenangan dan kestabilan. Bersabar dan percaya (Tawakal) bukanlah berarti tidak aktif; melainkan mampu menerima kehendak Tuhan sambil melakukan segala upaya untuk mencapainya. Menurut Ancok & Suroso (2011), Hawari (2011), dan Mujib & Mudzakir (2001), ketika harapan materialistis tidak terpenuhi, sikap-sikap ini bertindak sebagai perlindungan psikologis yang mencegah orang dari depresi dan tekanan mental yang berlebihan.
Selain itu, menurut ajaran akidah Islam, kesulitan dan kegagalan adalah bagian dari tantangan dan pelajaran hidup. Mengetahui takdir seseorang membantu seseorang untuk menerima kelemahan dirinya sendiri dan menaruh kepercayaan pada kemahatahuan Tuhan. Pemahaman Islam tentang harapan adalah bahwa harapan tidak bergantung pada kemakmuran materi, tetapi pada kepercayaan bahwa segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan (Al-Ghazali; Quraish Shihab, 2018). Oleh karena itu, ketika orang menghadapi realitas kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan mereka, iman memberikan kerangka makna yang membantu mereka mempertahankan stabilitas psikologis.
Dengan menggunakan hal ini sebagai titik awal, artikel ini akan menggunakan lensa psikologis dan kepercayaan Islam untuk menyelidiki fenomena harapan yang tidak terpenuhi. Salah satu cara untuk lebih memahami fungsi iman sebagai ketabahan mental dalam mengatasi tantangan hidup adalah dengan menggabungkan teori harapan dengan gagasan tentang makna hidup dan prinsip-prinsip agama.
Motivator mendasar dalam menetapkan tujuan dan menjaga motivasi diri adalah harapan, menjadikannya komponen penting dari eksistensi manusia. Menurut teori psikologi, harapan adalah keadaan mental yang ditandai dengan kepercayaan pada bakat sendiri dan efektivitas rencana seseorang untuk mewujudkan aspirasinya. Orang biasanya menunjukkan tanda-tanda stabilitas psikologis ketika harapan mereka sesuai dengan kenyataan. Tetapi ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang diharapkan, hal itu dapat menyebabkan gangguan emosional seperti kekecewaan, kurangnya minat, dan rasa tidak berdaya. Meskipun harapan pada akhirnya bermanfaat, situasi ini menunjukkan bahwa hal itu dapat membuat orang rentan secara psikologis jika mereka tidak memiliki alat untuk mengatasinya (Snyder, 2002).
Ketika harapan dan impian kita hancur, hal itu dapat menyebabkan kita mempertanyakan tujuan kita di dunia ini. Makna, nilai, dan tujuan peristiwa kehidupan mulai merayap ke dalam kesadaran orang. Menurut bidang psikologi yang dikenal sebagai “makna dalam hidup,” skenario ini menimbulkan ancaman terhadap pandangan dunia yang telah mapan. Memahami peristiwa traumatis dapat membangun ketahanan psikologis, tetapi kegagalan untuk melakukannya dapat memperburuk penderitaan mental, oleh karena itu pencarian makna merupakan komponen penting dari pemulihan psikologis. Di sini, rasa sakit dan kemunduran tidak selalu merupakan hal buruk; bahkan, hal itu dapat menjadi peluang untuk pengembangan jika dihadapi dengan refleksi diri dan perubahan (Park, 2010; Frankl, 2006).
Iman dan religiusitas seringkali merupakan sumber daya psikologis yang signifikan dalam mengatasi keadaan seperti itu. Pandangan seseorang tentang kegagalan berubah dari ketidakadilan atau cerminan kesalahan mereka sendiri ketika mereka memiliki iman kepada Tuhan. Memiliki iman religius yang kuat telah dikaitkan dengan manajemen stres dan stabilitas mental yang lebih baik, menurut berbagai penelitian. Dalam menghadapi peristiwa yang tidak terkendali, orang mungkin belajar untuk mengelola emosi mereka, menumbuhkan harapan, dan merasa aman melalui mekanisme penanggulangan religius (Koenig, 2012; Pargament, 1997; Ano & Vasconcelles, 2005).
Sudut pandang psikologis Islam menawarkan analisis yang lebih komprehensif tentang perasaan ketika impian seseorang pupus. Aspek fisik dan spiritual manusia dipandang saling bergantung. Iman tidak hanya memberikan keyakinan teologis, tetapi juga membantu pengaturan emosi dan ketenangan batin. Tawakkul menekankan penyerahan diri kepada Tuhan setelah melakukan upaya terbaik, sedangkan kesabaran didefinisikan sebagai pengendalian emosi negatif tanpa kehilangan arah hidup. Ketika orang menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan mereka, nilai-nilai ini sangat penting untuk kesehatan mental (Ancok & Suroso, 2011; Hawari, 2011; Mujib & Mudzakir, 2001).
Kegagalan dan penderitaan tidak dipandang sebagai kejadian yang tidak berarti dalam kerangka iman Islam, melainkan sebagai ujian yang mengandung hikmah. Pelajaran dari takdir adalah bahwa tidak ada upaya yang dapat menjamin hasil tertentu, tetapi kita masih memiliki kendali atas proses tersebut. Tradisi Islam menekankan pentingnya bersikap tulus dan sabar untuk menjaga ketenangan pikiran ketika harapan materialistis tidak terpenuhi. Al-Ghazali dan Quraish Shihab (2018) dan Kementerian Agama Republik Indonesia (2019) menyatakan bahwa mengarahkan kembali harapan kepada Tuhan mendorong individu untuk memandang kehidupan secara lebih luas dan mencegah kekecewaan berkembang menjadi keputusasaan, yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.
Menggabungkan ajaran Islam dengan metode psikologi kontemporer menyoroti pentingnya strategis iman dalam mengembangkan ketahanan psikologis. Memiliki iman memberikan struktur untuk memahami kekecewaan hidup, menghubungkan dunia sekuler dengan alam spiritual. Orang dapat memperkuat ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi mereka dengan menggabungkan gagasan iman, harapan, dan pengejaran tujuan hidup. Iman dan psikologi, menurut pandangan ini, tidak bertentangan secara diametris tetapi saling mendukung dalam membantu orang untuk menghadapi pasang surut kehidupan yang tak terhindarkan.
Orang sering terus maju dan berjuang karena mereka memiliki harapan. Aspirasi, keyakinan, dan tujuan hidup semuanya berasal dari benih harapan. Harapan, menurut psikolog, adalah motivasi batin yang membuat orang percaya bahwa mereka masih dapat mencapai tujuan hidup mereka. Namun demikian, kekecewaan dan kelelahan emosional sering terjadi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan (Snyder, 2002).
Kehilangan harapan tidak hanya menyakitkan secara emosional tetapi juga menyebabkan seseorang mempertanyakan makna hidup. Pada titik tertentu dalam setiap perjalanan, orang mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang dipermasalahkan. Kurangnya interpretasi positif terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan adalah gejala umum dari gangguan ini, yang dapat menyebabkan rasa tanpa makna. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan atau kegagalan seseorang, menurut psikolog, adalah kemampuan mereka untuk memahami pengalaman traumatis (Park, 2010; Frankl, 2006).
Iman seringkali menjadi batu karang tempat keadaan seperti ini bertumpu. Memiliki iman kepada Tuhan memungkinkan orang untuk melihat kemunduran dalam sudut pandang yang lebih holistik. Apa yang awalnya tampak seperti akhir sebenarnya dapat dilihat sebagai langkah penting dalam perjalanan hidup. Iman dan spiritualitas penting untuk kesehatan mental dan manajemen stres, menurut banyak penelitian (Koenig, 2012).
Tradisi Islam mengajarkan bahwa iman lebih dari sekadar sistem kepercayaan; ia adalah sumber kekuatan batin. Kesabaran mengajarkan kita untuk tetap tenang dan tidak membiarkan emosi negatif menguasai kita ketika menghadapi kesulitan, dan iman mengajarkan kita untuk menyerahkan diri kepada Tuhan setelah kita memberikan segalanya. Memiliki prinsip-prinsip ini sangat penting untuk tetap teguh ketika harapan eksternal tidak terpenuhi (Ancok & Suroso, 2011; Hawari, 2011).
Seperti agama-agama lain, Islam menerima kesulitan dan kegagalan sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Meskipun setiap pengalaman dianggap memiliki pelajaran, tidak semua cobaan langsung menunjukkan pelajaran tersebut. Penting untuk menyadari keterbatasan diri, tetapi seseorang tidak boleh melepaskan tanggung jawab untuk terus berjuang, sesuai dengan prinsip-prinsip takdir. Kesadaran ini menggeser penekanan dari pencapaian materiil ke iman pada kebijaksanaan Tuhan (Al-Ghazali; Quraish Shihab, 2018; Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019).
Ada hasil lain selain bencana yang mungkin timbul dari harapan yang tidak terpenuhi. Kegagalan dapat menjadi tempat kontemplasi dan pematangan diri ketika seseorang menggabungkan pengetahuan psikologis dengan prinsip-prinsip iman dalam kepercayaan Islam. Iman seseorang membantu mereka tetap teguh bukan karena harapan mereka selalu terpenuhi, tetapi karena mereka mampu mempertahankan makna hidup terlepas dari semua realitas yang mereka alami.
