Mahasiswa Sulawesi di Tulungagung Soroti Pendidikan dan Masa Depan Daerah dalam Diskusi Kedaerahan

oleh
oleh

TULUNGAGUNG – Sebanyak 15 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Sulawesi (IKMS) Tulungagung menggelar Diskusi Kedaerahan bertajuk “Satu Tanah, Banyak Cerita: Menyatukan Suara Mahasiswa Sulawesi” di Sekretariat IKMS pada Minggu, 7 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa rantau untuk membahas berbagai persoalan yang masih dihadapi daerah asal mereka sekaligus merumuskan gagasan yang dapat menjadi kontribusi bagi pembangunan Sulawesi di masa depan.

Diskusi yang dipantik oleh Muhammad Taqwin Chalik, S.Ag. tersebut berlangsung secara interaktif dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang daerah di Sulawesi. Berbagai isu strategis menjadi topik pembahasan, mulai dari pendidikan, pelestarian bahasa daerah, konflik tradisi, kerusuhan dalam kegiatan budaya, hingga dilema pengelolaan sektor pertambangan.

Ketua panitia, Wahyu Waton Sulistyani, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai wadah bagi mahasiswa Sulawesi di perantauan untuk tetap terhubung dengan berbagai persoalan yang terjadi di kampung halaman. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menempuh pendidikan, tetapi juga perlu mengambil peran dalam memberikan gagasan dan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. “Melalui diskusi ini, kami ingin menyatukan pandangan dan suara mahasiswa Sulawesi. Walaupun saat ini kami berada di perantauan, kami tetap memiliki kepedulian terhadap kondisi daerah dan ingin berkontribusi melalui ide serta pemikiran yang konstruktif,” ujarnya.

Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian peserta adalah persoalan pendidikan.

Dalam diskusi tersebut, peserta menilai bahwa masih terdapat anak-anak di sejumlah wilayah Sulawesi yang belum mendapatkan akses pendidikan secara optimal. Tingginya angka putus sekolah, keterbatasan ekonomi keluarga, serta rendahnya kesadaran sebagian masyarakat mengenai pentingnya pendidikan menjadi persoalan yang dinilai masih perlu mendapat perhatian serius. Peserta diskusi menyoroti bahwa di era perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama. Namun kenyataannya, masih ada anak-anak yang harus meninggalkan bangku sekolah untuk membantu perekonomian keluarga.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan memperlebar kesenjangan pembangunan di masa mendatang. Sebagai solusi, peserta mengusulkan pendekatan yang melibatkan peran keluarga dan masyarakat secara bersamaan. Orang tua perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya pendidikan sebagai investasi masa depan, sementara anak-anak perlu mendapatkan motivasi dan pendampingan agar tetap memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Selain pendidikan, peserta juga membahas tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Menurut mereka, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak perlu dipertentangkan karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Bahasa Indonesia berperan sebagai alat pemersatu bangsa, sedangkan bahasa daerah merupakan identitas budaya yang harus tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Peserta menilai bahwa pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga, komunitas, serta pemanfaatan media digital yang saat ini dekat dengan kehidupan generasi muda. Dengan cara tersebut, bahasa daerah tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Diskusi juga menyinggung berbagai tradisi yang masih menimbulkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Dalam menyikapi persoalan tersebut, peserta sepakat bahwa dialog harus menjadi langkah utama sebelum mengambil keputusan terkait keberlanjutan suatu tradisi.

Pemahaman terhadap sejarah, nilai budaya, dan tujuan dari tradisi tersebut dianggap penting agar masyarakat dapat mengambil sikap secara bijaksana tanpa menimbulkan konflik sosial. Isu lain yang turut dibahas adalah fenomena kerusuhan yang terkadang terjadi dalam pelaksanaan acara budaya. Menurut peserta, tujuan utama kegiatan budaya seharusnya adalah mempererat hubungan sosial dan melestarikan warisan leluhur. Oleh karena itu, mereka mengusulkan agar kegiatan budaya lebih banyak menghadirkan perlombaan tradisional, permainan rakyat, maupun kegiatan edukatif yang tetap menarik bagi generasi muda namun memiliki risiko konflik yang lebih rendah.

Sementara itu, pembahasan mengenai sektor pertambangan memunculkan beragam pandangan. Sebagian peserta menilai sektor tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sementara peserta lainnya menyoroti potensi kerusakan lingkungan yang dapat terjadi apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, peserta mendorong adanya pendekatan yang lebih seimbang dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan. Berbagai gagasan yang muncul dalam diskusi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat terhadap berbagai persoalan daerah, tetapi juga berusaha menawarkan solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bagi peserta, pembangunan daerah yang ideal adalah pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan pendidikan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Sulawesi di Tulungagung berharap suara generasi muda dapat lebih didengar dalam proses pembangunan daerah. Mereka percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat berawal dari ruang-ruang diskusi sederhana yang melahirkan kesadaran, gagasan, dan komitmen bersama. Diskusi Kedaerahan bertajuk “Satu Tanah, Banyak Cerita: Menyatukan Suara Mahasiswa Sulawesi” menjadi bukti bahwa jarak bukanlah penghalang untuk tetap peduli terhadap kampung halaman. Dari perantauan, para mahasiswa terus menyuarakan harapan agar pendidikan semakin diperhatikan, budaya tetap lestari, dan pembangunan daerah dapat berjalan secara lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan demi masa depan Sulawesi yang lebih baik.