DEPOKPOS – Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang berkualitas, sulit bagi suatu negara untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, tuntutan terhadap kualitas SDM semakin tinggi. Negara-negara maju seperti Finlandia, Jepang, dan Jerman telah membuktikan bahwa investasi di bidang pendidikan berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Sebaliknya, negara yang mengabaikan pendidikan akan tertinggal dalam persaingan global dan sulit keluar dari jebakan kemiskinan serta keterbelakangan. Dalam konteks Indonesia, berbagai kebijakan seperti wajib belajar 12 tahun, Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kurikulum Merdeka telah diluncurkan, namun tantangan seperti kesenjangan kualitas antar daerah, keterbatasan akses teknologi, serta learning loss pasca-pandemi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya teratasi.
Pendidikan memiliki peran strategis dalam mengubah kualitas sumber daya manusia dari kondisi yang kurang produktif menjadi lebih unggul dan berdaya saing. Proses transformasi ini dimulai dari penguatan literasi dasar, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Berdasarkan hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment), kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di peringkat bawah dibandingkan negara-negara OECD lainnya. Kondisi ini menjadi alarm bahwa sistem pendidikan kita masih perlu banyak dibenahi, terutama dalam hal metode pengajaran yang lebih menekankan pada pemahaman konsep daripada sekadar hafalan. Guru perlu dilatih untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) agar siswa tidak hanya mengingat materi, tetapi benar-benar memahaminya dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain literasi dasar, transformasi SDM juga menuntut penguasaan keterampilan abad ke-21 yang mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Di era disrupsi teknologi, banyak pekerjaan tradisional akan tergantikan oleh mesin dan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, generasi muda harus dibekali dengan kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh teknologi, seperti kemampuan memecahkan masalah kompleks, kecerdasan emosional, serta kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Kurikulum harus dirancang untuk mengembangkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran yang berkelanjutan. Sekolah juga perlu menyediakan ruang bagi siswa untuk bereksperimen, mencoba hal-hal baru, dan belajar dari kegagalan tanpa rasa takut dihakimi.
Pendidikan tidak hanya berperan dalam mentransfer pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk karakter dan nilai-nilai kemanusiaan. Generasi maju tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, gotong royong, dan toleransi harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan guru dan lingkungan sekolah yang kondusif. Tanpa karakter yang kuat, kecerdasan intelektual justru dapat disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan masyarakat. Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia telah mulai mengakomodasi pendidikan karakter melalui proyek penguatan profil Pelajar Pancasila. Program ini bertujuan untuk membentuk siswa yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, meskipun implementasinya di lapangan masih memerlukan pendampingan intensif bagi para guru.
Pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan juga menjadi komponen penting dalam transformasi SDM. Tidak semua siswa harus mengambil jalur pendidikan akademik; banyak di antara mereka yang memiliki bakat dan minat di bidang teknik, seni, atau keterampilan praktis lainnya. Sayangnya, pendidikan vokasi di Indonesia masih sering dipandang sebagai pilihan kedua setelah pendidikan akademik. Stigma ini harus diubah dengan meningkatkan kualitas sekolah menengah kejuruan (SMK), memperkuat kerja sama dengan dunia industri, serta memberikan jaminan penyerapan lulusan di pasar kerja. Jerman dengan sistem dual vocational training-nya adalah contoh keberhasilan dalam mencetak tenaga kerja terampil yang sangat dibutuhkan oleh industri. Sistem ini memadukan pembelajaran teori di sekolah dengan praktik kerja langsung di perusahaan, sehingga lulusannya siap pakai dan memiliki daya saing tinggi.Pada akhirnya, transformasi SDM melalui pendidikan tidak akan berhasil tanpa komitmen politik yang kuat dan alokasi anggaran yang memadai. Kesejahteraan guru, keterlibatan orang tua, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan industri menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting. Guru yang sejahtera secara finansial dan psikologis akan lebih termotivasi untuk mengembangkan kompetensinya dan memberikan yang terbaik bagi siswanya. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan geografis, mendapatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan relevan. Teknologi digital dapat menjadi alat yang ampuh untuk menjangkau daerah terpencil, namun harus diimbangi dengan literasi digital yang bijak agar siswa tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menyaring informasi dan menjaga etika di ruang digital. Hanya dengan cara itulah cita-cita melahirkan generasi maju yang cerdas, berkarakter, dan kompetitif dapat terwujud, dan Indonesia dapat keluar dari jebakan kemiskinan serta keterbelakangan menuju masa depan yang lebih cerah.
Ditulis oleh :Devita Sandya Putri – Mahasiswa Universitas Pamulang
