Oleh Yunus Febriansyah
DEPOKPOS – Indonesia mempunyai berbagai persoalan lingkungan yang semakin lama semakin sulit dikendalikan baik pencemaran air, pencemaran udara, tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik ataupun limbah dari hasil industri. Pencemaran udara yang terjadi di kota-kota besar akibat ulah manusia seperti cerobong asap pabrik dan aktifitas kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin meningkat. Kualitas air sungai terus menurun karena tidak ada pengelolaan pembuangan limbah cair, sampah plastik menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA). Semua kondisi lingkungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keberlangsungan kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, dengan adanya ilmu teknologi lingkungan akan menjadi sangat penting, karena dengan teknologi lingkungan melalui pendekatan berbasis teknologi, analisis ilmiah, dan inovasi yang berkelanjutan, berbagai permasalahan lingkungan dapat diatasi secara lebih efektif dan inovatif. Dengan demikian, teknologi lingkungan bukan hanya menjadi kebutuhan ilmiah, tetapi juga menjadi kebutuhan sosial, ekonomi, dan penting dalam pengambilan kebijakan nasional.
Teknologi lingkungan penting dalam mengatasi pencemaran air. Pencemaran air menjadi permasalahan yang sangat sensitif di Indonesia. Sungai menjadi sumber kehidupan masyarakat. Penurunan kualitas air di sungai akibat pembuangan limbah rumah tangga dan limbah industri yang tidak melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, memperlukan sebuah teknologi lingkungan untuk mengatasi masalah pencemaran air seperti teknologi seperti waste water treatment plant. Teknologi ini menggunakan proses fisika, kimia, dan biologi untuk menurunkan kadar pencemar air.
Selain itu, teknologi lingkungan yang lain untuk pencemaran air adalah dengan menggunakan biofilter anaerob-aerob yang sangat cocok untuk wilayah dengan penduduk yang padat. Biofilter anaerob-aerob mampu menurunkan kadar biochemical oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) tanpa membutuhkan lahan yang luas. Selanjutnya, teknologi lingkungan yang lainnya adalah constructed wetland atau lahan basah buatan menjadi alternatif ekonomis di daerah pedesaan, karena hanya membutuhkan tanaman air seperti typha, papirus dan eceng gondok yang berfungsi untuk membantu proses penjernihan air secara alami.
Teknologi pengolahan air di atas harus diterapkan secara merata, agar kualitas air Indonesia dapat kembali meningkat. Dengan kata lain, teknologi lingkungan dapat menjadi jembatan antara riel kebutuhan masyarakat dengan sumber daya air yang keberlanjutan untuk anak cucu kita.
Selain masalah air, pencemaran udara juga menjadi ancaman besar yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat di Indonesia. Industri besar harus menerapkan teknologi penangkap polutan seperti electrostatic precipitator, yang mampu menangkap partikel halus particulate matter dengan memakai muatan listrik. Teknologi lingkungan yang lain untuk udara yaitu teknologi scrubber digunakan untuk menyerap gas pencemar seperti sulfur dioksida (SO₂) dan nitrogen dioksida (NO₂) sebelum dilepaskan ke udara.
Selain teknologi pengendalian langsung tersebut, pengembangan energi terbarukan juga mempunyai peran yang besar dalam mengatasi pencemaran udara seperti energi surya, angin, panas bumi, dan biomassa yang dapat mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia terhadap pemakaian bahan bakar fosil. Dengan demikian, semakin banyak energi bersih yang digunakan, maka akan semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
Tidak hanya itu, teknologi lingkungan untuk pencemaran udara yaitu sensor udara berbasis internet of things memungkinkan pemantauan kualitas udara secara real time di berbagai kota. Data yang dihasilkan kemudian dapat digunakan pemerintah untuk mengambil kebijakan secara cepat dan tepat, terutama ketika kualitas udara telah mencapai kategori berbahaya.
Selain pencemaran udara, sampah juga menjadi masalah yang harus segera ditangani dengan baik. Tumpukan sampah plastik diakibatkan karena konsumsi plastik yang tinggi dan minimnya sistem pengelolaan seperti reduce, reuse, recycle. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi lingkungan yang lebih efektif dan efisien. Salah satunya adalah pirolisis, yaitu proses mengubah sampah plastik menjadi minyak yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Teknologi ini sangat efektif diterapkan di kota-kota besar karena dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah.
Selain itu, teknologi lingkungan untuk sampah dengan pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF), yaitu teknologi yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif, sehingga dapat mengurangi ketergantungan penggunaan batubara. Teknologi lingkungan lainnya dengan sistem Material Recovery Facility (MRF) yaitu dapat meningkatkan efisiensi pemilahan sampah sehingga sampah organik, plastik, logam, dan kertas dapat diproses sesuai jenisnya.
Berdasarkan hal di atas, teknologi lingkungan tidak hanya menyelesaikan permasalahan jangka pendek saja, tetapi juga memastikan keberlanjutan jangka panjangnya. Ada metode untuk menilai dampak dari pencemaran yang ada di lingkungan salah satunya adalag metode Life Cycle Assessment (LCA) yaitu motode yang digunakan untuk menilai dampak lingkungan dari suatu produk atau aktivitas mulai dari tahap produksi hingga akhir masa pakai. Dengan metode ini, pelaku industri dapat membuat keputusan yang lebih efektif, efisien dan berwawasan lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi lingkungan memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam mengatasi berbagai pencemaran di Indonesia. Mulai dari pengolahan air, pengendalian emisi, pengelolaan sampah plastik, hingga pembangunan berkelanjutan, yang membutuhkan penggunaan teknologi lingkungan yang tepat dan berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena itu, akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat harus bekerja sama dalam memperkuat implementasi teknologi lingkungan. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi saat ini maupun generasi akan datang anak cucu kita.
Tentang penulis:
Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang, NIM 250101064
