Peran CEO dalam Mengarahkan Arah Perusahaan di Masa Transisi

oleh
oleh

DUNIA BISNIS itu ibarat cuaca yang gampang berubah. Kadang tenang, tapi tiba-tiba bisa ada badai seperti perubahan teknologi, pergantian pimpinan, atau penggabungan dua perusahaan. Nah, saat kondisi “badai” atau masa transisi seperti ini, peran seorang CEO (Chief Executive officer) sangatlah penting.

Kalau diibaratkan kapal, CEO adalah nahkodanya. Saat laut tenang, semua orang bisa menjalankan tugasnya masing-masing dengan mudah. Tapi saat ombak besar dating, semua mata akan tertuju pada satu orang: sang nahkoda.

Lalu, apa saja sih yang sebenarnya dilakukan CEO supaya perusahaaan tidak tenggelam saat masa perubahan? Mari kitab has satu per satu.

Menentukan Arah Biar Tidak Nyasar

Saat terjadi perubahan besar, biasanya karyawan mulai bingung dan bertanya-tanya “kita mau dibawa ke mana sih?“ atau “apakah perusahaan ini masih aman?” .

Disini, CEO harus tampil ke depan untuk menjelaskan visi. CEO harus bisa menyederhanakan tujuan perusahaan yang rumit menjadi Bahasa yang dimengerti semua orang. Tugasnya adalah memastikan semua orang di kapal tetap mendayung kearah yang sama, bukan malah sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Jadi Jembatan Komunikasi (Bukan Tukang Kasih Perintah saja)

Banyak pemimpin gagas karena mereka hanya bisa kasih perintah lewat surat edaran. Padahal, di masa transisi, yang paling dibutuhkan adalah kejujuran.

CEO harus mau turun ke lapangan dan bicara langsung. Caranya:

  • Jujur tentang tantangan: kalau memang kondisi lagi sulit, katakana saja karyawan lebih menghargai kejujuran daripada janji manis yang palsu.
  • Mendengarkan: CEO yang hebat itu lebih banyak mendengar daripada bicara. Dia harus tahu apa yang ditakutkan oelh stafnya supaya bisa mencari solusinya bersama.
Mengambil Keputusan Pakai Data, Bukan Cuman Feeling

Masa transisi itu penuh risiko. Salah Langkah sedikit saja bisa fatal. Mangkanya, CEO tidak boleh hanya oakai perasaan atau “katanya” .

CEO harus pintar melihat data. Misalnya, melihat laporan keuangan bulanan untuk cek apakah pengeluaran masih aman, atau melihat data kepuasan pelanggan untuk memastikan mereka tidak kabur saat perusahaan lagi berubah.

Dengan data, keputusan yang diambil jadi lebih masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan di depan dosen atau investor.

Menjaga “Budaya” kantor Tetap Asik

Budaya perusahaan itu seperti kepribadian. Ada kantor yang budayanya santai, ada yang sangat disiplin. Saat transisi, kepribadian ini sering kali terganggu.

CEO punya tugas menjaga supaya nilai-nilai baik di kantor tidak hilang. Kalau perusahaan ingin berubah jadi lebih modern, CEO lah yang harus jadi contoh pertama. Kalau CEO nya saja malas berubah, jangan harap bawahannya mau ikut berubah.

Menjaga Kepercayaan Orang Luar

Selain urusan dalam kantor, CEO juga harus menghadapi orang luar seperti investor, bank, dan pelanggan.

Kalau CEO nya terlihat panik, orang luar akan takut dan menarik modalnya. Jadi, CEO harus tetap tampil tenang dan meyakinkan bahwa “semuanya terkendali”. Kepercayaan public ini sangat mahal harganya, terutamaa saat perusahaan sedang tidak stabil.

Kesimpulan

Intinya, jadi CEO di masa transisi itu bukan cumin soal duduk di kursi empuk dan dapet gaji besar. CEO adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk menyatukan hati karyawan, menjaga uang perusahaan tetap aman, dan memastikan perusahaan tetap punya masa depan.

Tanpa sosok CEO yang kuat dan rendah ahti, masa transisi yang harusnya jadi jembatan menuju sukses malah bisa jadi jalan menuju kegagalan.

Penulis : Siti Dea Fatimah Jurusan Manajemen Bisnis Syariah (Universitas Islam Tazkia)