Oleh : Nazwa Andien Azzahra, mahasiswa Prodi Manajemen S1
Universitas Binawan
DEPOKPOS – Coba perhatikan sekeliling kampus. Ada satu tipe mahasiswa yang selalu bikin penasaran: namanya tercantum sebagai pengurus inti BEM, aktif di UKM, hampir tiap bulan jadi panitia acara tapi anehnya tugas kuliahnya tetap rapi dan IPK-nya nggak pernah anjlok. Sementara sebagian dari kita yang “cuma” fokus kuliah saja, setiap minggu deadline sudah terasa seperti mau kolaps.
Apa rahasianya? Ternyata bukan karena mereka punya waktu 30 jam sehari atau memiliki semacam kekuatan super. Jawabannya jauh lebih sederhana, tapi juga jauh lebih sulit dilatih: regulasi diri.
Sebuah penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara yang dimuat di Jurnal Psychopolytan (2023) mencoba membongkar misteri ini. Peneliti mewawancarai enam mahasiswa yang benar-benar aktif berorganisasi, mulai dari organisasi kerohanian, kemahasiswaan, teater, hingga budaya, untuk memahami bagaimana mereka bisa menjalani dua peran besar sekaligus tanpa salah satunya keteteran. Hasilnya menarik, dan cukup relate untuk siapa pun yang sedang bergulat dengan manajemen waktu.
Ketika Organisasi dan Kuliah Saling Tarik-Menarik
Menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi memang bukan perkara mudah. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterlibatan yang terlalu intens dalam kegiatan organisasi kerap membuat mahasiswa menunda-nunda tugas akademik, bahkan ada yang sampai telat mengumpulkan tugas atau tidak mengumpulkan sama sekali. Waktu dan energi yang tersedot ke luar jam belajar juga sering dikaitkan dengan menurunnya prestasi akademik. Masuk akal, karena bagaimanapun waktu dan tenaga manusia itu terbatas.
Namun kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa organisatoris yang justru tetap stabil secara akademik. Titik pembedanya bukan pada seberapa sibuk mereka, melainkan pada kemampuan mengatur, mengendalikan, dan mengarahkan perilaku serta emosi diri sendiri demi mencapai tujuan dan memenuhi tanggung jawab yang ada singkatnya, regulasi diri yang baik.
Sembilan Cara Mahasiswa Mengelola Waktunya
Dari wawancara mendalam terhadap enam partisipan tersebut, muncul benang merah berupa sembilan pola yang mereka gunakan untuk bertahan menjalani dua dunia sekaligus.
Semuanya berawal dari kebiasaan membuat perkiraan beban kerja sejak jauh-jauh hari. Sebelum benar-benar mengerjakan sesuatu, para partisipan lebih dulu menyusun rencana dan menetapkan deadline versi pribadi, biasanya lebih cepat dari tenggat aslinya. Sebagian menuliskannya rapi di planner, sebagian lain mengandalkan Google Calendar agar jadwal tidak bentrok, bahkan ada yang cukup mengandalkan ingatan karena catatan fisiknya sering hilang. Caranya boleh berbeda-beda, tapi tujuannya sama: mengetahui beban kerja sejak awal agar tidak kaget di tengah jalan.
Kemampuan berikutnya yang cukup unik adalah semacam insting membaca masa depan, atau dalam istilah penelitian ini disebut foresight. Bukan meramal dalam arti mistis, melainkan kepekaan memperkirakan apa yang mungkin terjadi ke depan. Ada yang sudah menebak akan ada pelatihan di bulan berikutnya, ada yang sengaja bertanya kepada senior soal job desc sebelum benar-benar terjun ke kepanitiaan, ada pula yang terbiasa menyiapkan skenario terburuk dari sebuah acara. Dengan begitu, ketika sesuatu yang tidak terduga muncul, mereka sudah punya rencana cadangan.
Ada juga kecenderungan untuk bekerja seefisien mungkin, yang dalam penelitian ini disebut compendious orientation. Beberapa partisipan terbiasa mengerjakan dua tugas yang mirip secara bersamaan, memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pekerjaan, atau menyusun mind map agar lebih ringkas dipahami. Prinsipnya sederhana: keluarkan sedikit usaha ekstra sekarang untuk menghemat banyak waktu di kemudian hari.
Menariknya, setiap partisipan juga punya gaya kerja personal yang khas. Ada yang lebih mudah memahami materi dengan menonton video penjelasan terlebih dahulu, ada yang terbiasa merekam penjelasan dosen lalu memutarnya berulang-ulang sampai hafal, dan ada pula yang setia dengan kombinasi to-do list dan timer agar tahu persis kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat.
Sebagian dari mereka bahkan menunjukkan bentuk tanggung jawab yang melampaui perannya sendiri. Ada yang rela mengambil alih tugas orang lain demi kelancaran sebuah acara, bahkan ada yang harus merangkap beberapa jabatan sekaligus menjadi wakil ketua pelaksana sekaligus sekretaris, bendahara, hingga pemeran dalam satu waktu. Alasannya sederhana: yang penting acaranya berjalan baik.
Di sisi lain, seluruh partisipan sepakat pada satu hal penting, yaitu kemampuan memilih dan memilah kegiatan. Mereka menyusun skala prioritas berdasarkan deadline, dan hampir semuanya menempatkan urusan akademik di atas kegiatan organisasi ketika keduanya berbenturan. Tidak semua tawaran kegiatan mereka ambil, sebab terlalu banyak kegiatan justru berisiko membuat jadwal semakin berantakan.
Satu hal lain yang cukup mencolok adalah keberanian mereka untuk meminta bantuan ketika sudah mentok. Entah menanyakan cara menulis paper yang benar kepada teman, meminta bantuan senior untuk mengakses jurnal yang terkunci, atau bahkan meminta orang lain membantu mengumpulkan tugas ketika benar-benar terdesak. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan strategi yang justru membantu mereka tetap produktif.
Ketika bekerja dalam kelompok, mereka juga menerapkan pembagian tugas yang fleksibel dan penuh diskusi. Sebelum membagi pekerjaan, mereka biasanya berdiskusi terlebih dahulu, menyesuaikan pembagian tugas dengan kemampuan masing-masing anggota yang jago desain mengurus desain, yang jago riset mengurus materi, dan seterusnya.
Dan yang terakhir, sekaligus menjadi fondasi dari semua kebiasaan di atas, adalah kedisiplinan. Semua partisipan menunjukkan komitmen kuat untuk mengikuti jadwal yang telah mereka susun sendiri. Ada yang menempelkan sticky notes di depan laptop agar tidak lupa, ada pula yang selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktu agar tidak keteteran di menit-menit akhir.
Bukan Soal Punya Lebih Banyak Waktu, Tapi Soal Mengelola Diri
Dari sembilan pola tersebut, ada satu benang merah yang cukup jelas: kunci untuk bisa bertahan menjalani kuliah sekaligus organisasi bukanlah memiliki waktu yang lebih banyak dari orang lain, melainkan kemampuan mengelola diri sendiri secara konsisten. Menyusun rencana jauh-jauh hari, memperkirakan apa yang akan terjadi, mencari cara paling efisien untuk menyelesaikan pekerjaan, tahu kapan harus memprioritaskan kuliah di atas organisasi, tidak sungkan meminta bantuan, mampu bekerja sama dalam kelompok, dan yang terpenting, disiplin menjalankan apa yang sudah direncanakan sendiri.
Jadi, kalau selama ini kamu merasa kewalahan membagi waktu antara kuliah dan organisasi, mungkin solusinya bukan sekadar mengurangi jam tidur atau begadang setiap malam. Bisa jadi yang perlu dievaluasi justru cara kamu mengatur diri sendiri: sudahkah kamu membuat skala prioritas? Sudahkah kamu mencoba memperkirakan kesibukan minggu depan? Sudahkah kamu berani meminta bantuan ketika benar-benar membutuhkannya? Perubahan kecil dalam cara mengelola diri sendiri sering kali berdampak jauh lebih besar dibanding sekadar menambah jam kerja.
