Oleh fauziyah Ambarwati, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Pamulang
DEPOKPOS – Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, sastra ikut mengalami perubahan besar. Jika dahulu karya sastra lebih banyak ditemukan dalam bentuk buku cetak yang dibaca dengan tenang, kini sastra hadir di mana-mana. Puisi dapat ditemukan di media sosial, cerpen tersebar melalui platform digital, novel dibaca melalui aplikasi, bahkan pertunjukan sastra dapat dinikmati melalui video pendek. Perubahan ini menunjukkan bahwa sastra mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tetap hidup mengikuti kebutuhan masyarakat.
Perkembangan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Kesempatan untuk menulis dan menerbitkan karya kini terbuka lebih luas dibandingkan masa lalu. Dahulu seorang penulis harus melalui proses seleksi penerbit yang panjang agar karyanya dikenal. Sekarang siapa pun dapat membagikan tulisan mereka kepada ribuan pembaca hanya melalui telepon genggam. Banyak penulis muda lahir dari media digital, membuktikan bahwa kreativitas tidak lagi dibatasi oleh ruang dan biaya penerbitan.
Namun, di balik kemudahan itu, muncul persoalan baru. Budaya membaca yang mendalam mulai tergeser oleh kebiasaan membaca cepat. Banyak orang lebih tertarik pada kutipan-kutipan singkat dibandingkan membaca sebuah novel atau kumpulan puisi secara utuh. Akibatnya, sastra sering kali hanya dipahami sebagai rangkaian kata-kata indah yang mudah dibagikan, bukan sebagai karya yang mengajak pembaca berpikir, merenung, dan memahami kehidupan.
Jika dibandingkan dengan sastra pada masa lalu, terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Sastra klasik maupun sastra modern terdahulu lahir dari proses yang panjang. Pengarang banyak mengangkat persoalan sosial, budaya, kemanusiaan, bahkan kritik terhadap kondisi masyarakat. Karya-karya mereka bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun karena memiliki kedalaman makna. Sementara itu, sebagian karya sastra yang beredar di media sosial saat ini lebih mengejar popularitas, jumlah pembaca, atau tren yang sedang berlangsung. Tidak sedikit tulisan yang cepat viral, tetapi juga cepat dilupakan.
Fenomena tersebut bukan berarti sastra masa kini mengalami kemunduran. Justru perkembangan teknologi membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menjaga kualitas di tengah derasnya arus informasi. Penulis masa kini perlu menyadari bahwa banyaknya pembaca bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah karya. Sastra seharusnya tetap menjadi media yang mampu menyampaikan gagasan, menyentuh emosi, dan meninggalkan kesan yang bertahan lama.
Menurut saya, kritik terbesar terhadap sastra saat ini adalah kecenderungan mengejar perhatian sesaat. Tidak sedikit karya yang dibuat hanya agar mudah viral, mengikuti algoritma media sosial, atau sekadar menghasilkan kutipan yang menarik secara visual. Akibatnya, kedalaman cerita, kekuatan karakter, dan nilai yang ingin disampaikan sering kali menjadi nomor dua. Padahal, sastra bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kehidupan yang mampu membentuk cara berpikir masyarakat.
Meski demikian, saya tetap optimistis terhadap masa depan sastra Indonesia. Generasi muda memiliki akses yang lebih luas untuk membaca karya dari berbagai daerah dan negara, sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka kepada dunia. Jika teknologi dimanfaatkan sebagai sarana memperluas literasi, bukan hanya mengejar popularitas, maka sastra akan terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Pada akhirnya, perkembangan sastra bukan hanya tentang perubahan media, melainkan juga tentang bagaimana kita memaknai sebuah karya. Teknologi akan terus berubah, tetapi fungsi sastra sebagai ruang untuk memahami manusia, menyuarakan kegelisahan, dan menyimpan nilai-nilai kehidupan seharusnya tetap dipertahankan. Sastra yang baik bukanlah karya yang paling ramai dibicarakan hari ini, melainkan karya yang masih mampu menggerakkan hati pembacanya bertahun-tahun kemudian.
