Oleh: Ayyuhanna Widowati, Guru di Depok
DEPOKPOS – Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan hanya proses mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan adab dan akhlak. Sekolah bukan sekadar ruang kelas dan buku pelajaran, melainkan taman tempat tumbuhnya iman, ilmu, dan amal.
Oleh karena itu, sekolah ramah anak dalam perspektif Islami adalah sekolah yang menghadirkan suasana penuh kasih sayang, sebagaimana ajaran dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Al-Qur’an mengajarkan setiap manusia dimuliakan. Maka di sekolah ramah anak, setiap siswa dihargai martabatnya. Tidak ada celaan yang merendahkan, tidak ada kekerasan yang melukai, dan tidak ada perlakuan yang membeda-bedakan. Yang ada adalah nasihat yang lembut, bimbingan yang sabar, dan doa yang tulus.
Rasulullah SAW yang mulia memberikan teladan luar biasa dalam mendidik anak-anak. Beliau berbicara dengan penuh kelembutan, menghargai pendapat mereka, dan menanamkan nilai dengan kasih sayang.
Inilah ruh pendidikan Islam yang dibangun dari ketakwaan kepada Allah yang seharusnya hadir di sekolah seperti mendidik dengan cinta, bukan dengan amarah. Membimbing dengan doa, bukan dengan celaan.
Sekolah ramah anak yang islami menumbuhkan kebiasaan baik sejak dini. Anak-anak dibiasakan mengucap salam, menjaga shalat, berkata jujur, bertanggung jawab, dan menghormati guru serta teman. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar teori, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Lebih dari itu, sekolah juga menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dengan pemahaman ini, anak belajar mengontrol diri bukan karena takut hukuman manusia, tetapi karena ingin meraih ridha-Nya. Di sinilah karakter takwa mulai tumbuh perlahan namun kuat.
Guru dalam sekolah yang islami bukan hanya pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing ruhani dan akhlak. Keteladanan guru menjadi pelajaran paling kuat. Sikap sabar saat menghadapi kesalahan siswa, adil dalam memberi penilaian, tulus dalam membimbing, menegur dengan lembut, memaafkan dengan lapang dada, dan mendoakan siswanya dalam diam. Sesungguhnya ia sedang menanam benih akhlak mulia. Keteladanan guru adalah pelajaran yang paling membekas sepanjang hayat.
Lingkungan sekolah yang dihiasi dengan doa, dzikir, menghafal dan memuraja’ah Al-Qur’an serta suasana religius akan menumbuhkan ketenangan hati. Dari hati yang tenang, lahirlah perilaku yang baik. Anak-anak yang merasa dicintai dan dihargai akan tumbuh percaya diri dan berani berbuat kebaikan.
Tentunya, sekolah ramah anak dalam perspektif Islam adalah tempat bertumbuhnya generasi berilmu dan berakhlak mulia. Generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga lembut hatinya. Generasi yang menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi dan akhlak sebagai perhiasannya.
Karena sejatinya, pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mendekatkan anak kepada Allah dan membentuknya menjadi pribadi yang berkepribadian Islam dimana pemikiran dan tingkah lakunya berlandaskan aturan Allah SWT.[]
Biodata Penulis
Ayyuhanna Widowati, S. E. I.
Ttl. Jakarta, 10 Maret 1983
Alamat : Perumahan Griya Sawangan, Bedahan, Depok
Pekerjaan : Guru

